SENJATA KHAS DAYAK PART-2


SENJATA KHAS DAYAK PART-2
Pada part pertama kita membahas senjata dayak Dohong, Mandau dan juga variasi bentuk Mandau. Ada satu variasi Mandau yang belum sempat dibahasa yaitu pisau ambang.

Orang Dayak Jaman Dahulu Menempa Mandau

Orang Dayak Jaman Dahulu Menempa Mandau

PISAU AMBANG
Pisau ambang sangat mirip dengan Mandau pada umumnya, perbedaannya ialah penggunaannya, jika Mandau digunakan untuk berperang dan acara-acara adat maka pisau ambang adalah alat untuk bekerja dan berladang, sehingga pisau ambang biasanya cukup sederhana tanpa ada hiasan atau tatahan dan juga bahan bilah yang umumnya monosteel.

Pisau Ambang

Pisau Ambang

TANGKITN
Tangkitn adalah senjata khas dayak Kenayatn, bentuknya sangat berbeda dengan Mandau. Antara bilah dan gagang merupakan satu kesatuan besi. Gagangnya melengkung keatas.
Ada dua variasi bentuk ujung tangkitn laki-laki dan perempuan. Kalau perempuang akan melengkung kebawah dan yang laki-laki akan seperti lidah ular. Tangkitn juga dikenal oleh dayak salako dengan istilah parang.

Tangkitn

Tangkitn

PARANG PANDAT & PARANG LATOK
Ini adalah istilah yang digunakan oleh dayak Salako untuk senjata sejenis tangkitn, parang pandat adalah yang memiliki ujung bilah seperti lidah ular dan parang latok yang ujungnya menukik kebawah. Bedanya dengan tangkitn adalah ukurannya, biasanga parang pandat memiliki ukuran yang lebih besar dari pada tangkitn.

Parang Pandat

Parang Pandat

Parang Pandat

Parang Pandat

Parang Latok

Parang Latok

FELEPET / PAKAYUN
Ini adalah senjata kaum Murutik, dalam bahasa Lun Dayeh disebut Felepet dan bahasa Murut disebut Pakayun. Dalam adat Lun Dayeh biasanya digunakan sebagai mas kawin. Bentuknya seperti samurai, bilahnya melengkung, bentuk gagangnya seperti garpu kadangkala terdapat ukiran diantara garpu dan juga dihiasi dengan kuningan dan pelindung silinder . Kadangkala felept ditempa dan akan terlihat bentuk laminasi atau dalam istilah perkerisan “pamor” nya.

Pakayun / Felepet

Pakayun / Felepet

PISAU LANTIK
Pisau lantik agak mirip dengan golok namum ukurannya cukup besar dan bilahnya sesua namanya agak melantik atau melengkung ke atas. Umumnya parang ini digunakan didalam perladangan tetapi pisau ini dijadikan juga senjata oleh sebagain sub suku dayak seperti Bakumpai, Meratus, Ngaju, Banjar

Pisau Lantik

Pisau Lantik

PARANG KEREKOEPANG
Parang kerekoepang atau Klewang Banjar adalah senjata khas Banjarmasin. Parang kerekoepang yang asli pada bilahnya akan terlihat semacam laminasi / pamor hasil penempaan, kebanyakan parang koepang yang ada sekarang terbuat dari monosteel seperti gir.

Parang Kerekoepang /  Klewang Banjar

Parang Kerekoepang / Klewang Banjar

KERIS DAYAK
Penggunaan keris mungkin merupakan pengaruh bangsa melayu/jawa dan bangsa Moro yang memasuki Kalimantan. Ada kisah cerita Damang Bahandang balau di desa Dadahup yang berperang melawan bangsa buaya dengan menggunakan keris berlekuk tiga.

Konon ceritanya di daerah perkampungan Suku Dayak yang disebut Kampung Dadahup, termasuk daerah aliran sungai Barito dan masyarakatnya pada waktu itu masih belum mengenal dunia luar. Memang mereka pada asal mulanya berasal dari Tumbang Kapuas dari Betang Sei Pasah yang didirikan sekitar tahun 1836, sehingga dari keluarga Damang Bahandang Balau berangsur-angsur pindah dan bermukim / mendirikan suatu perkampungan yang disebut Kampung Dadahup.

Disinilah timbul legenda Damang Bahandang Balau yang artinya seorang Damang yang berambut warna merah memang sejak dari lahir. Damang Bahandang Balau adalah seorang petapa berambut panjang hingga kurang lebih 3 meter dan ia berilmu tinggi. Ia mempunyai Keris Pusaka kelok 3 berwarna keemasan pemberian orang gaib pada waktu bertapa, yang keampuhannya adalah bisa bernapas didalam air beberapa hari sesuai dengan keinginan yang dikehendakinya.

Disuatu hari pernah terjadi hal yang nyata pada waktu perkawinan Adik Damang Bahandang Balau yang bernama Nyai Mating seorang yang berparas cantik. Selesailah acara perkawinannya pada sore hari. Sore itu warna langit berwarna kekuning-kuningan. Turunlah mempelai perempuan (Nyai Mating) dari dalam rumah, karena dia telah mendengar suara memanggil-manggil namanya, seakan-akan dirinya telah terkena sirep(pengaruh) yang tidak wajar, dia keluar dari dalam rumah padahal sebelum diadakan perkawinan Adiknya, Damang Bahandang Balau sudah berpesan kepada adik dan iparnya, kata Damang Bahandang Balau “Jika telah selesai perkawinan nanti sebelum saya datang, supaya jangan sama sekali keluar dari dalam rumah”.maka gemparlah seisi rumah setelah mengetahui Nyai Mating menghilang.

Bersamaan dengan kejadian tersebut, seakan-akan Damang Bahandang Balau sudah mengetahui apa yang terjadi kepada adik kandungnya (Nyai Mating) maka dengan wajah yang tenang, Damang Bahandang Balau langsung mengeluarkan keris pusakanya serta mengangkat tangan dan kerisnya kearah dimana adiknya Nyai Mating itu menghilang, dan Damang Bahandang Balau langsung dengan keris pusakanya yang mengeluarkan sinar keemasan, menyelam kedalam air dan disaksikan oleh sanak saudaranya yang seakan-akan terbelah dua air yang dipijaknya.

Selama 3 hari 3 malam berada dialam gaib dibawah air. Disitulah Damang Bahandang Balau melihat mahluk air semacam manusia tetapi berkepala buaya serta kerajaan buaya yang Rajanya memakai pakaian berwarna keemasan.

Bersamaan hal itu Damang Bahandang Balau melihat adiknya dalam dekapan Raja Buaya yang memakai mahkota serta dikelilingi oleh Prajuritnya.

Dengan baik-baik Damang Bahandang Balau meminta adik kandungnya kepada Raja Buaya, karena tidak dituruti maka dengan geramnya Damang Bahandang Balau mengamuk dan membantai ratusan prajurit buaya. Melihat hal demikian maka Raja Buaya melerai para prajurinya dan berhentilah pertempuran tersebut. Maka berbicaralah Raja Buaya kepada Damang Bahandang Balau dan langsung menyerahkan adiknya kepada Damang Bahandang Balau, “Cuma saya minta supaya dari anak cucu kita nanti jangan sampai bermusuhan”. Kata Raja Buaya.

Setelah pembicaraan dan permintaan Raja Buaya selesai, tanpa banyak bicara Damang Bahandang Balau langsung membawa adiknya (Nyai Mating) keluar dari dalam air atau alam gaib dibawah air dan munculnya tepat ditempat asalnya turun. Melihat kembalinya Damang Bahandang Balau dan adiknya, sanak saudaranya menyambut dengan rasa gembira .

Setelah dialam manusia, terkejutlah Damang Bahandang Balau dan adiknya ketika melihat banyaknya bangkai buaya, kemudian diperintahkannya ipar dan saudar-saudaranya untuk membuat lubang yang cukup besar, ke arah hulu dari Kampung Dadahup, tempat menguburkan bangkai-bangkai buaya. Setelah selesainya penguburan itu dan berangsur-angsur pula saudara-saudara Damang Bahandang Balau berminat untuk mendirikan satu perkampungan yang dinamakan oleh mereka yaitu Kampung Tambak Bajai, sehingga sampai Zaman sekarang telah menjadi sebuah Desa Tambak Bajai.

Dalam bukti legenda tersebut, terdapat suatu peninggalan berupa rambut 7 helai yang panjangnya 3 meter berwarna merah, bukti tersebut masih ada dari turunan Damang Bahandang Balau yang disimpan oleh warga Telekung Punei yang termasuk dalam wilayah Dadahup Kec.Kapuas Murung Kab.Kapuas (Kalteng), konon cerita dari rambut tersebut diambil dari dalam kuburan Damang Bahandang Balau tepatnya pada waktu mengadakan Ritual Tiwah setelah pembongkaran kuburan Damang Bahandang Balau.

Pada saat pembongkaran, papan-papan kuburannya yang terbuat dari kayu pantung atau jelutung yang sudah bertahun-tahun dalam keadaaan tidak rusak, namun anehnya semua tulang-tulang yang akan diambil menggaib, hanya tersisa rambut sebanyak 7 helai saja dan letaknya pun seperti diatur terlebih dulu, dan hingga sampai sekarang barang bukti tersebut masih ada. (Nara sumber : Duyen Apil Alm)

Keris dayak berdasarkan beberap penemuan sedikit berbeda dengan keris Jawa yang kecil, bilah kerisnya besar seperti pedang ini mirip dengan Soendang atau Keris Bangsa Moro. Saya belum banyak menemukan literature bagaiman bentuk keris yang digunakan bangsa dayak pada masa lalu.

Soendang

Soendang

Beberap waktu lalu dua orang penyelam tradisional menemukan keris dan kacip (pengupas/pemotong buah pinang) raksasa sepanjang 1,5 meter disungai Kapuas, tepatnya di bawah jembatan Pulau Telo, Kecamatan Selat Kabupaten Kapuas. lihat berita terkait lihat:

http://rajwarafi.wordpress.com/2010/03/12/heboh-penemuan-keramat-keris-raksasa-disungai-kapuas/

Keris Raksasa yang ditemukan di sungai kapuas

Keris Raksasa yang ditemukan di sungai kapuas

Keris Raksasa yang ditemukan di sungai kapuas

Keris Raksasa yang ditemukan di sungai kapuas

Masih banyak lagi senjata khas suku dayak yang akan kita bahas lagi di part-part selanjutnya.. ^_^

Tabe
Bekasi 6/September/2013

Iklan