LEGENDA TULISAN HILANG


LEGENDA TULISAN HILANG
Ada satu legenda yang dituturkan kaum Dayak Dusun di daerah Sabah secara turun temurun mengenai tulisan yang hilang. Konon dahulu leluhur rumpun dayak dusunik pernah memiliki surat/buku yang mengandung perkataan Tuhan atau dalam bahasan dusunnya “Minamangun”.

Ilustrasi Surat Minamangun

Ilustrasi Surat Minamangun

Setiap kepala suku atau “Woyoon” pada masa itu akan menyimpan surat itu secara hati-hati. Setiap kali muncul pertikaian dikalangan masyarakat maka woyoon ini akan membaca surat itu untuk mendapatkan penyelesaian yang adil dari Minamangun / Tuhan.

Suatu waktu terjadilah hujan yang sangat lebat. Hujan ini turun berhari-hari sehingga terjadi banjir besar yang menenggelamkan bumi. Merekapun berupaya berlarian kedataran tinggi. Sang kepala suku / woyoon memimpin masyarakatnya melalui banjir tersebut sambil menyimpan Surat Minamangun dengan hati-hati di dalam tali pinggangnya di bagian belakang cawatnya. Pada mulanya, air hujan setinggi pergelangan kaki, kemudian sampai ke lutut mereka. Semakin lama mereka mengarungi banjir itu, air naik hingga kebagian paha mereka, kemudian ke pinggang mereka. Tidak lama setelah itu banjir mencapai dada mereka dan sampai ke ketiak mereka. Waktu itu mereka membopong bayi dan anak kecil di bahu mereka, dan akhirnya banjir sampai pula ke dagu mereka. Ketika mereka piker mereka akan mati ternyata saat itulah mereka sudah tiba di dataran yang tinggi dan secara berangsur-angsur mereka dapat keluar dari banjir tersebut. Mereka menetap dikawasan yang tinggi dan dekat dengan Gunung Kinabalu.

Ilustrasi Banjir Besar

Ilustrasi Banjir Besar

Tidak lama kemudian, suatu pertikaian terjadi. Maka sang Woyoon membuka Surat Minamangun untuk membaca Firman Minamangun. Malangnya, semua tulisan itu telah pudar karena basah semasa banjir itu. Penduduk disitu berseru kepada nama Pencipta… “Kembalikan kata-kataMu sekali lagi”. Namun Tuhan menjawab.. “Tidak, bukan sekarang. Tetapi suatu hari nanti, Aku akan mengirimkan orang berkulit putih dan berambut kuning untuk membawa kembali setiap perkataanKu kepada kamu”

Maka penduduk disitu mencoba mengingat-ingat kembali setiap perkataanya yang pernah tertulis didalam Surat Minamangun itu tetapi mereka tidak berhasil karena mereka tidak pernah memberikan perhatian. Pihak wanita telah keluar dan duduk di sawah dan berulang kali membaca beberapa kata-kata yang mereka piker mereka ingat, namun begitu sukar dan mereka mulai meminta bantuan pelbagai roh. Pihak laki-laki mencoba mengingat undang-undang yang terkandung dalam kata-kata itu, tetapi sukar dan kadangkala mereka perlu merujuk kaum wanita yang juga mencoba mengingat kata-kata tersebut.

Dengan perubahan masa, mereka lupa cara untuk membaca dan menulis secara berangsur-angsur lupa kata-kata Minamangun. Namun, wanita yang lebih tua telah mengajar wanita yang muda tentang “rinait” yang telah diturunkan secara linsa sejak beberapa generasi lalu – Rinait adalah semacam pusi doa yang panjang kepada Tuhan dan mahluk Semawi tradisional yang diucapkan semasa upacara ritual. Golongan laki-laki yang lebih tua mengajar golongan laki-laki yang lebih muda tentang adat yang berdasarkan undang-undang Minamangun.

Orang Dayak Zaman Dahulu

Orang Dayak Zaman Dahulu

Menurut orang-orang tua kaum Dusunik Sabah, legenda ini menjelaskan banyak hal. Legenda ini menjelaskan mengapa kaum dusunik tidak lagi mempunyai system tulisan tradisional. Dan legenda ini menjelaskan asal usul upacara bobolian/bobohizan atau belian dan juga tentang adat. Dan legenda ini menyebabkan banyak kaum dusunik yang masuk agama Kristen.

Missionaris yang memasuki Kalimantan

Missionaris yang memasuki Kalimantan

Offshore 8/September/2013

Iklan