SENJATA KHAS DAYAK PART-3


SENJATA KHAS DAYAK PART-3

Part sebelumnya kita membahasa senjata khas dayak selain Mandau. Sub suku dayak lain memiliki nama yang berbeda untuk menyebutkan Mandau; missal Dayak Kenyah menyebutnya Parang Illang, sedangkan Dayak Paser menyebutnya Otak dan dayak Kadazandusun menyebutnya dangol.

Di part 3 ini (Part Terkahir) kita akan membahas senjata khas dayak yang lain:

LANGGEI
Langgei adalah pisau kecil yang ditempatkan disamping Mandau, umunya ini berguna untuk pekerjaa-pekerjaan yang halus misal mengukir kayu atau memotong pinang. Kadang langgei dibuat seperti pisau kecil.

Langgei

Langgei

Mandau dan Langgei

Mandau dan Langgei

GAGAMAS
Gagamas adalah senjata khas Dayak Kadazandusun di daerah Sabah. Dalam keseharian gagamas digunakan untuk pisau merumput tetapi gagamas juga dipakai oleh seorang bobohizan/bobolian – dukun wanita kaum kadazan- sebagai pedang yang akan digunakan di alam roh dalam prosesi belian.

Gagamas yang dipegang oleh seorang Bobohizan dalam prosesi belian

Gagamas yang dipegang oleh seorang Bobohizan dalam prosesi belian

PAIS
Sejenis pisau yang tajam milik kaum Kadazandusun untuk pekerjaan tangan yang halus seperti mengukir. Pais seringkali berukuran kecil tapi kadang juga ada dalam ukuran yang besar.

Berbai Macam Ukuran Pais

Berbai Macam Ukuran Pais

Pais

Pais

SADOP
Sadop adalah semacam belati kecil yang dipakai oleh dayak paser. Ia sering digunakan hanya dalam prosesi ritual. Sadop juga sering dikenal sebagai illum.

Sadop / Illum

Sadop / Illum

GELADAU
Geladau ini mirip dengan keris lurus. Geladau dikenal oleh dayak paser, sepertinya senjata ini mendapat pengaruh dari budaya bugis – melayu.

Geladau

Geladau

BELATI DAYAK TOMON
Saya tidak tahu namanya didalam bahasa dayak tomon, tetapi ini mirip dengan belati tetapi juga mrip dengan siwah senjata khas Minangkabau. Ini mungkin memang dahulunya dayak tomon memiliki kekerabatan dengan pati sebatang dari Minangkabau.

Diceritakan konon patih sebatang ini melakukan perjalanan dari Sumatera ke Kalimantan dan sampai di desa Sekudang, disana patih sebatang ini bertemu gadis dayak Tomon yang cantik jelita, singkat cerita patih sebatang menikahi gadis dayak tomon ini.

Belati Dayak Tomon di desa Sekudang - Lamandau

Belati Dayak Tomon di desa Sekudang – Lamandau

Belati Dayak Tomon di desa Sekudang - Lamandau

Belati Dayak Tomon di desa Sekudang – Lamandau

Belati Dayak Tomon di desa Sekudang - Lamandau

Belati Dayak Tomon di desa Sekudang – Lamandau

JUMBIA
Jumbia atau Jambia adalah senjata yang asalnya dari Timur Tengah – kemungkinan Yamen, ketika bagian pesisir Kalimantan menjadi kesultanan maka pengaruh budaya arab sangat kuat, salah satunya ialah penggunaan Jumbia ini. Jambia adalah belati kecil melengkung – biasanya dikenakan disabuk.

Jumbia

Jumbia

Sultan Banjar

Sultan Banjar

CANDONG
Parang Candong adalah semacam “machete” atau golok – biasanya digunakan berladang atau membuka lahan. Parang candong ini dikenal oleh kaum pesisir Kalimantan, biasanya orang Banjar dan Melayu.

Parang Candong

Parang Candong

PARANG DUKU
Parang duku adalah senjata yang dikenal oleh kaum Dayak Iban – kegunaanya sama dengan candong

Parang Duku

Parang Duku

PEDANG JENAWI BESAR
Pedang jenawi besar adalah pedang panjang sepert pedang Jepang yg dipukulkan dengan kedua belah tangan – ia bermata dua.

Parang Jenawi Besar

Parang Jenawi Besar

LUNDJU
Lundju atau tombak adalah senjata yang sangat umum dikenal oleh semua sub suku dayak. Kadangkala lunndju juga disatukan dengan “Sipet” atau sumpit.
Kadang mata tombak pada lundju ini akan diberi hiasan (namun sangat jarang) dan umumnya gagang lundju ini kayu ulin tanpa hiasan atau ukiran. Tetapi ada juga beberapa lundju istimewa yang diberi hiasan ukiran tertentu.

Sumpit Dayak

Sumpit Dayak

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda - Mata Tomban

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda – Mata Tomban

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda - Ukiran Gagang Tombaknya

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda – Ukiran Gagang Tombaknya

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda -  Ukiran Gagang Tombaknya

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda – Ukiran Gagang Tombaknya

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda -  Ukiran Gagang Tombaknya

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda – Ukiran Gagang Tombaknya

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda - Bagian Ujung Gagangnya

Salah Satu Tombak Dayak yang unik dari Troppen Museum Belanda – Bagian Ujung Gagangnya

SANDAWA
Sandawa atau senjata api juga merupakan senjata yang dibawa pendatang Cina ketika memasuki Kalimantan. Didalam beberapa acara adat sandawa ini sering digunakan misal dalam acara nyobeng Dayak Bidayuh di Sebujit.
Dalam cerita Tetek Tatum Dayak Ngaju, yang mengajarkan pengetahuan mengenai Sandawa atau senjata yang menggunakan mesiu ini adalah “Sempung” ayah dari Bungai (salah satu tokoh pahlawan kenamaan Dayak Ngaju Bungai dan Tambun). Diceritakan Sempung ini belajar ke negeri Cina mengenai persenjataan yang menggunakan mesiu. Ada pula yang beranggapan bahwa Sempung ini memang adalah orang Cina yang melakukan perjalanan ke pulau Kalimantan.
Manuskrip kuno Tiongkok menyebutkan tentang mendaratnya sekelompok suku dari daerah provinsi Yunan (RRC) di pantai utara pulau Borneo, pada sekitar 700 tahun sesudah Masehi dibawah pimpinan Sam Hau Fung.

Sebuah sungai di daerah Sabah mereka masuki sampai ke hulunya, sungai itu lalu dinamakan mereka sungai Miri. Sesudah beberapa lama menetap di tempat itu Sam Hau Fung merasa tidak kerasan. Memang hutannya sangat lebat dan makanan mereka melulu hanya daging dari hasil berburu. Ia ingin mencari suatu dataran yang subur tempat bercocok tanam. Menerobos hutan rimba belantara daerah Sabah dan
Serawak (Malaysia Timur), ia terbentur pada gugusan pegunungan yang sekarang kita kenal dengan sebutan pegunungan Muller-Schwanner.

Perjalanan yang heroik itu berakhir pada suatu lembah di kaki bukit Kaminting, suatu daerah di hulu
antara sungai Joloi yang bermuara disungai Barito dan sungai Kahayan yang bernama Rangan Marau. Menurut Tatum (babad Tanah Dayak), Sempung atau Sam Hau Fung telah bertemu dengan bapaknya Lambung. Di tempat ini Sam Hau Fung lalu menetap dan kawin dengan seorang gadis di situ bernama Nyai Endas anak
dari Karangkang, salah seorang tetuha suku Dayak Ot Danum di Rangan Marau ini yang memang sahabat bapaknya Lambung.

Seandainya Sam Hau Fung benar seorang etnis Cina, maka terjadilah suatu pembauran yang berjalan dengan harmonis. Pemuda pemudi suku Dayak dapat menerima siapa saja tanpa memandang perbedaannya. Sam Hau Fung diterima sebagai keluarga, namanya mengalami verbastering (proses pelafalan) akibat
dialek setempat menjadi Sempung.

Penggunaan Sandawa dalam acara Nyobeng - Sebujit

Penggunaan Sandawa dalam acara Nyobeng – Sebujit

LANTAK/LELA
Lantak atau Lela dalam bahasa Dayak Ngaju adalah meriam. Senjata ini diperkenalkan bangsa Cina ketika memasuki Kalimantan. Didalam cerita peperangan dayak melawan penjajah penggunaan lantak ini juga disebutkan; misal dalam perang kasintu. Menurut cerita kakek ku dahulu ketika kakenya ikut perang kasintu mereka menggunak meriam dan mungkin zaman dahulu orang kuat-kuat maka meriam-meriam ini diangkat dengan diletakan pada pergelangan tangan saja.

Lantak

Lantak

Pernah diceritakan juga di daerah Manuhing ada seorang gadis yang bernama “Lamiang” – dia adalah gadis yang cantik jelita anak Antang dan Benang. Ketika orang tuanya meninggal dunia, banyak orang yang berusaha melamarnya – padahal ia belum ada niat untuk menikah, karena orang tuanya yang baru saja meninggal- saat itu orang-orang yang berusaha melamar Lamiang, membunyikan meriam atau lelanya untuk menakut-nakuti Lamiang agar segera keluar dari rumahnya. Saat itu bahan makanan dirumah Lamiang semakin menipis, maka Lamiang menyampaikan kabar ini kepada Sempung ayah Bungai.

Singkat kisah ketika Bungai, Tambung, Rambang dan Rangkai datang ke Manuhing untuk membantu sodari mereka Lamiang ini. Mendengar suara meriam itu Bungai lalu mengamuk, meriam diambilnya dan dibuatnya seperti gada (pentungan) untuk menghantam semua pendatang itu. Yang berani melawannya semua
mati dibuatnya, sedangkan yang lari dibiarkannya selamat.

Setelah melaksanakan upacara Tiwah kedua orang tuanya serta mengurus harta bendanya, maka oleh keempatnya saudara sepupunya Lamiang dibawa mereka pulang ke Tumbang Pajangei.

Bungai mengamuk memukul dengan meriam bagai pentungan, yang direbutnya dari para pelamar Lamiang.

Bungai mengamuk memukul dengan meriam bagai
pentungan, yang direbutnya dari para pelamar Lamiang.

PODANG
Podang umumnya dipakai oleh kaum dayak iban. Podang dibawa oleh pendatang dari India atau hasil perdagangan dengan Inggris pada masa lalu. Podang adalah Pedang Punjab.

Seorang Dayak Iban dengan Podangnya

Seorang Dayak Iban dengan Podangnya

Podang

Podang

Sebenarnya masih ada beberapa senjata lain yang saya belum menemukan namanya dan literaturnya misal Tilan Kamarau, Parang Nagara, Sennkas, Gayang dan ketika Pekan Budaya dayak saya melihat beberapa tetua dayak Sungkungk memakai belati yang cukup unik dan saya lupa namanya. Betapa kayaknya khasanah budaya Kalimantan ini, harus kita jaga. Tabe

Bekasi, 12/September/2013

Iklan