KAITAN KEPERCAYAAN DAYAK NGAJU & DAYAK KADAZANDUSUN


KAITAN KEPERCAYAAN DAYAK NGAJU & DAYAK KADAZANDUSUN

Dayak Ngaju & Kadazandusun

Dayak Ngaju & Kadazandusun


Menarik membahas ini walau tidak pernah ada catatan hubungan antara kaum Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah dengan kaum Dusunik di Sabah tetapi didalam sistem kepercayaan ada beberapa kesamaan. Walau didaerah Kalimantan Tengah salah satu rumpun Maanyan ada juga suku dayak dusun, namun maish menjadi berdebatan apakah ada hubungan antara dayak dusun di Kalimantan Tengah dengan dayak dusun di daerah sabah. Beberapa meyakini kaum Dayak Rungus salah satu sub dusunik Sabah berasal dari daerah Kalimantan Tengah, hal ini memerlukan penelitian mendalam dari genetika, karena rumpun bahasa dusunik cukup jauh dengan rumpun Tabooyan – Ma’anyan & Ngaju – Ot Danum.

KAHARINGAN & KINOHORINGAN
Seperti diketahui agama asli Dayak di Kalimantan Tengah, Selatan, Sebagian Kalimantan Timur & Barat menamakannya “Kaharingan”, walaupun pada awalnya orang dayak ngaju tidak memiliki nama khusus untuk menyebutkan agamanya, ketika mereka bertemu dengan orang non-dayak mereka akan menggunakan istilah “Agama Helo” – Agama dulu atau “Agama tatu hiang” – Agama leluhur. Penggunaan kata “Kaharingan” pertamakalinya diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak.

Bobohizan sedang membaca rinait

Bobohizan sedang membaca rinait

Kata “Kaharingan” sendiri berasal dari bahasa “sangen” atau bahasa ritus yang digunakan oleh kaum dayak ngaju – jika didalam kaum dusunik disebut “rinait” yang berarti kehidupan. Ini berasal dari sebuah legenda yang mengatakan ada mata air kehidupan – atau disebut “danum kaharingan” dimana dengan mata air ini Ranying Hatalla dapat menghidupkan jiwa yang telah mati untuk dapat tinggal didalam “Lewu tatau” – sorga, keyakinan ini juga dimiliki dalam kalangan agama Semawi tentang adanya mata air Kehidupan, misal didalam agama Kristen Kristus pernah menyebutkan DiriNya sebagai Mata Air Kehidupan.

Ritual Kaharingan

Ritual Kaharingan


Karena ini membahas tentang kaitan antara Dayak Ngaju dan kaum Dusunic Sabah. Dalam bahasa Dusun & Kadazan, Tuhan disebut “Minamangun” yang berarti “Yang Menciptakan, Yang Membangun” sedangkan personifikasi Tuhan disebut “Kinohoringan” – berakar kata “Kinoingan” yang memiliki makna “Permulaan atau Yang Mengawali”. Jika didalam budaya dusunic Personafiakasi Tuhan dinyatakan dengan kata “Kinohoringan”, namun didalam agama Kaharingan – Dayak Ngaju untuk menyebutkan kata Tuhan digunakan kata “Ranying Hattala sedangkan Dayak Ma’anyan menyebutnya “Allah Talla” yang merupakan serapan dari Agama Hindu dan Islam yang memasuki pulau Kalimantan. Hattala atau Allah Talla sangat dekat dengan Nama Tuhan didalam Islam Allah Subhana Wa Tala. Kata asli yang mungkin digunakan untuk menyebutkan Tuhan adalah “Ranying Pohotara Raja Tuntung Matanandau Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan” .

Menarik sekali ketika ungkapan theologis “Awal” atau “The Alfa” – yang memulai kehidupan diistilahkan dengan suatu kata yang relative sama – “Kaharingan” vs “Kinohoringan”.

KEYAKINAN AKAN SEMANGAT PADI
Kesamaan lain ialah keyakinan akan Semangat Padi atau Roh padi yang didalam kepercayaan Kadazandusun disebut “Bambarayoon atau Bambaazoon” sedangkan didalam keyakinan Kaharingan Ngaju disebut Putir Santang Bawi Sintung Uju.
IMG_3325

Konsep manenung/ belian dalam kepercayaan Dayak Ngaju dan Kaum Kadazandusun sangat mirip, karena sama-sama meyakini bahwa beras atau padi adalah hal yang dapat digunakan sebagai perantara antara alam manusia dan Tuhan. Didalam keyakinan Dayak Ngaju diyakini ada tiga kekuasaan roh beras, yakni (1) akan Jatha tuntung tahaseng pantai danum kalunen „untuk menyambung nafas atau hidup umat manusia‟ merupakan fungsi beras secara umum, yaitu sebagai bahan makanan umat manusia, (2) tau bitim belum mangkar manyiwuh „bisa ditanam dan tumbuh subur‟, menyatakan bahwa beras adalah jenis tumbuhan yang bisa berkembang baik, dan (3) tau injam duhung luang rawei „bisa sebagai perantaraan atau penghubung antara manusia dengan Mahakuasa‟, merupakan kekuasaan secara magis yang dimiliki oleh roh beras, selain sebagai bahan makanan dan tumbuhan juga sebagai perantara atau penghubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

KONSEP AKAN BELIAN WANITA

Tukang tenung atau belian umumnya adalah wanita, ini sama dengan legenda Bawin Ayah / Bawin Sangiang didalam adat dayak ngaju. Di adat Kadazandusun para bobolian ini berfungsi sebagai “shaman” atau dukun karena mereka menyembuhkan orang sakit melalui ritual (winzeler, 1993). Selalunya mereka ini adalah wanita yang berumur walau kadangkala terdapat bobolian lelaki di adat Kadazandusun, tapi bobolian laki-laki adalah bawahan bobolian wania karena mereka tidak memilki kekuatan yang sama dengan wanita. Jika laki-laki memiliki kekuatan fisik maka wanita diyakini memiliki kekuatan spiritual. Ingatan mereka lebih kuat dan mampu mengingta semua rinait atau puisi ritual yang panjang beribu-ribu baris yang mengiringi setiap upacara.

Setiap kali upacara, bobolian ini akan dibantu oleh roh penolong mereka, sambil menggoncnagkan gonding – semacam kepingan logam dan memukul karatung atau gendang. Ini mirip dengan prosesi belian di dalam Dayak Ngaju, biasanya menggunakan “Katambung”.

Bobohizan

Bobohizan

Bawin Balian

Bawin Balian

Tabe

Bekasi 18/September/2013

Iklan