KISAH PENCIPTAAN & PERSEBARAN MANUSIA MENURUT LEGENDA DAYAK KANAYATN


KISAH PENCIPTAAN & PERSEBARAN MANUSIA MENURUT LEGENDA DAYAK KANAYATN

Dayak Kanayatn

Dayak Kanayatn

Pencipta atau Tuhan dalam kepercayaan Dayak Kenayatn adalah Setapak. Pada awalnya di dunia sebelum permulaan kehidupan masyarakat Dayak, ada tiga penolong Setapak yang bernama si Ahir, si Awal, dan si Ahar yang membantu pada waktu Setapak turun dari langit. Mereka membantu Setapak menciptakan alam semesta atau jagat raya. Mereka menciptakan bumi dari tanah, matahari, bulan, termasuk bintang-bintang yang terletak di angkasa. Pada waktu matahari dibentuk oleh Setapak, dia meletakkan tongkat yang tumbuh akarnya. Tongkat itu tumbuh cepat sampai melampaui awan-awan, supaya pada waktu matahari selesai dibentuk bisa diangkat dan diletakkan ke angkasa.

penciptaan dunia

Setelah matahari diletakkan di angkasa, dia mengangkat bulan dan bintang-bintang yang baru dibuatnya. Setapak sudah capek sekali setelah menciptakan hal tersebut dan naik ke atas lagi. Waktu dia di atas dan beristirahat secukupnya, dia merasa belum cukup puas dengan hal yang telah diciptakan sebelumnya. Menurut dia, bumi tampak kosong dan belum lengkap. Hal itu menyebabkan dia turun lagi dari langit dan meletakkan tongkatnya di daerah Bangun, sekarang dekat kota Sambas di Kalbar. Setelah beberapa saat kemudian tongkatnya meletus dan muncullah roh yang bernama Simula-jadi.

Setelah satu minggu Simula-jadi berada di dunia, dia mengatakan kepada Setapak bahwa dia merasa agak sepi dan meminta Setapak membuat roh lagi supaya Simula-jadi mempunyai teman. Setapak mewujudkan seorang perempuan dari tanah yang bernama Simula-tanah. Simula-jadi merasa senang dengan teman barunya dan dia langsung mau bergaul dengan Simula-tanah, tetapi Setapak melarang Simula-jadi untuk memegang Simula-tanah selama tujuh hari. Baru beberapa hari berlalu Simula-jadi merasa agak bosan dan dia mau main dengan Simula-tanah.Sebenarnya dia mempunyai keinginan yang besar untuk tahu apakah Simula-tanah benar-benar merupakan teman akrab dan diapun memegang Simula-tanah. Setelah Simula-tanah dipegang oleh Simula-jadi, langsung Simula-tanah hancur dan lebur menjadi tanah lagi.

Simula-jadi sangat sedih dan menangis, dia meminta temanya kembali. Setapak merasa kasihan dengan Simula-jadi dan turun lagi dari langit, dan dia mengatakan kepada Simula-jadi untuk tidak bersedih. Setapak mencoba membuat perempuan dari busa. Langsung Setapak mewujudkan seorang perempuan yang diberi nama Jagat. Kali ini Setapak juga mengatakan kepada Simula-jadi untuk tidak mengganggu Jagat selama tujuh hari. Kali ini Simula-jadi tahan dan membiarkan Jagat cukup selama tujuh hari supaya Jagat siap untuk menerima Simula-jadi. Langsung setelah tujuh hari dia menikah dengan Jagat dan kemudian Jagat hamil. Keduanya merasa senang dengan kehamilan itu dan setelah sembilan bulan sepuluh hari pada jam enam pagi Jagat melahirkan putra yang diberi nama dari orang tuanya, si Kuntum.

Tetapi sayang, si Kuntum tidak dapat bertahan dan pada waktu sore jam 6 si Kuntum meninggal dunia. Kedua orang-tua si Kuntum sangat sedih dan menangis selama tujuh hari. Pada waktu itu jenazah si Kuntum di cincang dan dibungkus, sedangkan orang-tuanya menangis terus. Setapak turun dari langit dan melemparkan bungkusan jenazah si kecil supaya jenazah si Kuntum tersebar di dunia. Kepala jenazah dilempar ke daerah Senapit. Bungkusan si Kuntum hancur lebur sehingga menyuburkan tanah sekitarnya. Setelah tujuh hari ladang yang disuburkan oleh jenazah si Kuntum muncul tumbuh- tumbuhan dan ladang itu berkembang. Ladang di Senapit memang subur sekali dan banyak pohon buah-buahan tumbuh, seperti durian, jeruk manis, rambutan dan sebagainya.

Setapak yang turun dari langit memberi peringatan kepada Simula-Jadi dan Jagat bahwa mereka bisa makan semua buah-buahan tetapi mereka dilarang makan buah dari pohon Timanggong. Jika makan buah itu mungkin beracun atau mungkin mereka mendapat sial atau diasingkan dari taman yang indah itu. Simula-Jadi dan Jagat setuju dan mereka tinggal bersama dan bahagia.

Tujuh hari kemudian si Serasat, si Siang, si Bangau yang berwujud manusia muncul. Mereka sangat pintar dan juga punya otot yang sangat kuat. Pertama mereka mewujudkan anak sungai bernama Sambas dari lokasi Anjil Pujanji sampai gunung Bayang. Sungai kedua dari Landa sampai gunung Bayang bernama sungai Tenanggap. Mereka bekerja keras dan mewujudkan sungai ketiga yang bernama Teria, yang mengalir dari gunung Pandam ke kampung Batung yang terletak di Ajun. Mereka membuat indah daerah tersebut dan tanaman buah-buahan selalu mendapatkan cukup air.

Pada suatu pagi Simula-Jadi dan Jagat berjalan-jalan di taman yang sangat indah, mereka sangat bahagia dengan tempat ini dan tidak ada keinginan untuk tinggal di tempat lain. Ketika keduanya berjalan lewat pohon Timanggong, dan pada waktu yang bersamaan Simula-Jadi dan Jagat dipanggil oleh pohon yang berbunyi “psssssst……psssssst”. Simula-Jadi bertanya siapa pemilik bunyi itu sambil keduanya mendekati pohon tersebut. Dari salah satu cabang pohon Timanggong ada seekor ular yang turun, mengamati Simula-Jadi dan Jagat. Dia memberi salam, “Selamat pagi, yang Mulia, saya tahu bahwa Setapak berkata kepadamu bahwa dia tidak setuju anda makan buah dari pohon ini. Dia memang sangat takut, jika anda menjadi sama pintar dengan dia jika anda makan buah dari pohon ini. Sebenarnya, Setapak sangat jahat.” Simula-Jadi dan Jagat saling memandang. Mereka saling berpikir. “Aduuuh…….. ular di pohon benar”, kata Simula-Jadi.
adam dan hawa

Sekarang sudah jelas alasan mengapa Setapak melarang mereka untuk makan buah tersebut. Kemudian Simula-Jadi mengulurkan tangannya dan memetik buahnya dari sebelah timur, sedangkan Jagat mengambil buahnya dari sebelah barat dan keduanya makan buah yang rasanya sangat pahit. Tiba-tiba guntur terdengar dan angin bertiup kuat, Simula-Jadi menjadi takut dan gelisah. Kelihatannya, buah yang tadi dimakan oleh Simula-jadi tidak mau lepas dari lehernya dan menusuk. Dia kaget dan memegang lehernya dan lehernya menjadi bengkak selamanya. Hal itu menjelaskan alasan mengapa semua laki-laki punya jakun saat ini. Simula-Jadi memandangi Jagat dan dia juga memegang lehernya, tapi kelihatannya buah itu tidak menusuk di lehernya, tetapi Jagat merasa aneh pada bagian atas badannya. Dia pegang dadanya yang memang sekarang membesar…… buah tersebut terhambat di dadanya, dan dua buah susu muncul…….. Tiba-tiba langit terbuka dan Setapak turun dan berdiri di depan Simula-Jadi dan Jagat dan memandang keduanya, ada dua buah susu di dada Jagat dan jakun di leher Simula-Jadi.

Kemudian Setapak bertanya, ”Ada banyak buah-buahan di taman ini, kenapa kamu tidak meninggalkan buah dari satu pohon saja?” Simula-jadi tidak berani memandang wajah Setapak dan dengan suara bergetar Simula-Jadi berkata, “Kami lewat pohon buah Timanggong dan si ular memberi nasihat bahwa kalau Jagat dan aku makan buah tersebut kami juga sama pintar dengan Anda.”

Setapak menggelengkan kepalanya, “memang setan yang berbentuk sebagai ular sangat licik”, gumam Setapak. Setapak langsung mengambil parangnya dan menghukum ular tersebut saat itu juga. Itulah alasannya mengapa ular tidak ada kaki maupun tangan lagi, supaya dia tidak bisa berjalan lagi tetapi selalu merayap. Simula-Jadi dan Jagat juga dihukum oleh Setapak, dan mereka tidak bisa berjalan jauh. Mereka selalu merambat dan selalu goyang, karena mereka tidak punya lagi tali atau urat darah yang halus. Ketika itu mereka diperintahkan untuk mencari nafkah sendiri dan Setapak kembali naik ke langit.

Malaikat yang berada di langit mengamati kejadian di bumi dan merasa kasihan kepada Simula-Jadi dan Jagat. Dia turun dari langit dan berdiri di depan Simula-Jadi dan Jagat yang mukanya terlihat sedih. Kemudian mereka bertanya kepada malaikat apakah dia bisa membantu. Malaikat mengucapkan beberapa jampi-jampi kepada Simula-Jadi dan Jagat untuk mengembalikan urat darahnya. Setelah itu Simula-Jadi dan Jagat melanjutkan perjalanannya ke gunung Bawang yang terletak beberapa jam jauhnya dari Senapit, sesuai dengan perintah Setapak. Mereka diperintahkan untuk mengasingkan diri ke sana dengan tujuan untuk mengembangkan keluarganya sebelum akhirnya bisa kembali lagi ke daerah Senapit yang indah dekat gunung Seles.

Gunung Bawang

Gunung Bawang

Di lereng gunung Bawang, mereka membuka ladang dan berkebun sayur dan Jagat melahirkan beberapa keturunan. Mereka adalah, Manis-Amas, Lupo, Langga, yang semuanya putra, Cingcing Pengaji putri dan anak yang bungsu Buratn Banta. Mereka tumbuh cepat dan semakin lama semakin menjadi mandiri.
Pada suatu hari, si Langga berencana untuk pergi ke hutan dan dia masuk ke hutan yang sangat lebat yang terletak di sekitar gunung Bawang. Setelah dia berjalan selama setengah jam, dia bertemu dengan bunga khusus yang sangat indah. Si Langga terpesona dan berhenti di depan bunga yang sangat indah sambil berkata kepada bunga itu, “Harummu enak, kalau kamu manusia saya ingin kamu jadi istriku.” Dia mengamati si bunga sesaat dan melanjutkan mencari binatang untuk dibawa ke rumahnya. Sebelum dia berbelok, dia menoleh ke belakang dan …. “astaga” ….. sebenarnya bunga yang tadi terlihat sekarang telah menjadi seorang perempuan yang cantik sekali. Dia bertanya kepada perempuan cantik itu, “Siapa namamu?” dan perempuan yang mempesona itu menjawab, ”Nama saya Genilan, dan saya mengabulkan keinginanmu.” Dia terkejut dan mengharapkan Genilan ikut ke rumahnya.

Genilan setuju dan langsung mereka berdua berangkat ke rumah Langga. Ketika pulang dia bertemu dengan saudaranya, Manis-Amas yang menjadi sangat benci dan cemburu dengan Langga karena Manis-Amas mau menikah dengan Genilan. Langsung saudara-saudara berkelahi dan pada akhirnya si Langga melerai perkelahian di antara saudara itu. Langga memberikan Genilan kepada Manis-Amas. Kemudian Genilan dan Manis-Amas menikah dan setelah sembilan bulan sepuluh hari Genilan melahirkan seorang putra bernama Garansi Tunggal. Mereka sangat bahagia dan hidup mereka memang indah.

Pada suatu hari, waktu Genilan mandi ada setan yang sangat benci dengan Manis-Amas. Setan itu kemudian turun dari pohon dan dia memukuli Genilan dari belakang sampai semangatnya tidak ada lagi. Manis-Amas sangat sedih, dan untuk mengatasi kesedihannya dia langsung mencari istri baru. Dia minta pamit pada orang-tuanya dan berjalan ke gunung Rumput yang terletak di dekat salah satu dusun yang di sana terdapat beberapa gadis cantik. Dia langsung bertemu dengan gadis Pantar Bulan, tetapi pada waktu itu juga ada panglima yang bernama Marabatn Ampor yang juga mencari istri. Panglima Marabatn Ampor mengatakan kepada Manis-Amas, “Semoga yang paling sakti dapat menikah dengan Pantar-Bulan.” Langsung keduanya berkelahi tetapi tidak ada yang kalah dan tidak ada pula yang menang. Untungnya ada seorang anak perempuan panglima bernama Sanga melewati tempat itu dan mengatakan kepada kedua-duanya yang sedang berkelahi bahwa mereka pasti sama kuat. “Lebih baik kita mencari jalan damai untuk mengakhiri masalah ini”, kata Sanga kepada mereka berdua. Sanga berpikir selama dua hari dua malam, setelah itu dia mendapatkan solusi yang paling adil untuk mengatasi masalah tersebut. Dia mengatakan, ”Saya sudah bertanya kepada roh-roh dan mereka memberi nasihat kepada saya.” Mereka berpendapat bahwa kamu harus membagi dua si Pantar-Bulan. Sebelah kiri diberikan kepada Manis-Amas dan sebelah kanan kepada Marabatn Ampor. Keduanya berbahagia mendapat istri baru dan kemudian panglima Marabatn Ampor terbang ke gunung Senujuh bersama dengan istrinya. Mereka hidup bahagia walaupun hanya sebelah saja.

Bagian badan Pantar-Bulan untuk panglima Marabatn Ampor cukup sehat akan tetapi bagian perempuan untuk Manis-Amas tidak merasa senang dan bagian Pantar-Bulan itu selalu sakit kepala dan susah tidur. Manis-Amas memang berputus-asa dan memanggil panglima Marabatn Ampor untuk minta tolong. Sanga Bawang, teman Manis-Amas mengambil dan membikin sayap dari bulu ayam supaya Manis-Amas bisa terbang ke tempat panglima dan mereka berdua bisa mencari obat untuk menyembuhkan bagian Pantar-Bulan yang menjadi milik Manis-Amas. Mereka memang mendapat obat yang manjur supaya istri Manis-Amas sembuh. Semakin lama kondisi istrinya lebih baik dan Pantar-Bulan melahirkan Bang Payu dan Bang Borok.

Pada waktu mereka beranjak dewasa ibunya hamil lagi dan melahirkan putri Balu Andangan.
Pada waktu Balu Andangan sudah cukup dewasa dan pandai, datang pemuda bernama Nurgadin. Dia minta menikah dengan Balu Andangan tetapi dia ditolak, sebab ada anggapan semua perantau tidak baik dan pasti lari kalau sudah bosan. Setelah dia mendengar alasannya dia memang merasa malu dan lari dari tempat itu. Nurgadin berjalan selama tujuh bulan dan dia bertemu dengan perempuan yang cantik bernama Seputin Darah Sebayan. Perempuan itu sejenis setan yang membawa Nurgadin ke tempat tertentu dan setan itu melahirkan dalam waktu satu hari beberapa binatang seperti; anjing, ayam, babi, burung kitau, burung cerwit, burung meriah, burung janjih dan yang terakhir burung pice. Semua burung langsung terbang. Nurgadin tidak merasa senang punya hubungan dengan Seputin Darah Sebayan lagi dan mengatakan kepada Seputin, “lebih baik kita bercerai.” Seputin menjawab kepada Nurgadin, “Seandainya kamu mau cerai, boleh, tetapi kamu harus pulang ke kampung asalmu.” Nurgadin membawa bibit sawit, bayam, ketimun, jagung dan nuri (sejenis padi), termasuk anjing, ayam dan juga babi. Dia langsung pergi kembali ke rumah Balu Andang dan mereka langsung berpesta dan menikah.

Balu Andang memang sangat subur dan langsung melahirkan anak laki-laki bernama Remaga, dan anak perempuan bernama Minta. Suatu hari mereka disuruh oleh ibunya mengambil buah rambutan yang hanya seikat saja, tetapi kedua-keduanya sama-sama mau mengambil seikat buah rambutan itu untuk diserahkan pada ibunya. Mereka berkelahi dan setelah itu mereka merasa malu karena mereka sadar bahwa mereka tidak seharusnya berkelahi dalam masalah itu. Remaga selama tujuh hari menangis tanpa berhenti. Dia disuruh untuk mencari pengalaman di dunia dan diberi sebuah keranjang yang penuh dengan makanan dan keperluan penting lainnya. Dia berpamitan kepada keluarganya dan memulai perjalanannya. Setelah perjalanannya jauh dia bertemu teman dan bersama dengan si Sungu, si Sekejap, si Serano berlayar dengan perahu dan merantau ke tempat lain.

Dalam beberapa bulan perjalanan mereka mendapat banyak pengalaman, termasuk membunuh si Moleng, seorang manusia yang menjadi setan. Pada akhirnya dia bertemu dengan anak Patirani dan menikah. Mereka membangun rumah di gunung Bayang dan melahirkan sepuluh anak yang bernama Ria Magat, Ria Kota, Ria Sindir, Ria Manding, Ria Japu, Ria Ladung, Ria Taja, Ria Ganeng, Ria Gadeng dan Ria Jaga. Pada waktu mereka dewasa, mereka disuruh untuk menyebar ke daerah Bakati, Sanggau, Tadang, Seberang Laut, Semandung, Pulau Santan dan ke Jawa.

Kisah tersebut adalah mitos tentang terciptanya dunia dan cara-cara manusia menyebar di dunia Dayak Kenayatn

Tabe.
Java Sea 22/September/2013

Iklan