Tijilik Riwut Melarang Becak & Orang Asing Berdagang di Palangkaraya


Sejak awal dibangunnya Propinsi Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut mendasari semangat pembangunannya menggunakan falsafah “HUMA BETANG” atau rumah besar khas suku Dayak, dimana masyarakat hidup secara komunal dan menekankan kebersamaan dan tidak memberi ruang terhadap eksploitasi terhadap sesame manusia.

Huma Betang

Huma Betang

Oleh sebab itu semenjak awal kepemimpinannya, beliau melarang becak beroperasi di kota Palangka Raya. Dalam pandangannya becak merupakan cerminan dari suatu penindasan terhadap sesame, yang jauh dari semangat kebersamaan. Pandangan ini juga membuat Tjilik Riwut tidak mengijinkan orang asing berdagang di Palangka Raya, karena dianggap orang asing hanya cenderung mengambil keuntungan semata tanpa memperdulikan solidaritas social.

Becak

Becak

Berikut kutipan pernyataan Tjilik Riwut:

“Kami, kepala daerah, sepakat tidak mengijinkan becak di Palangka Raya dan tidak mengijinkan ornag asing berdagang di kota ini. Pada saat itu berjalan lancer, tapi keadaan berkembang. makin hari makin berubah. Walikotanya yang bekas ajudan saya bilang “Saya akan laksanakan apa yang Bapak laksanakan dulu dan yang belum dicabut”. Jadi becak itu tidak sewaktu-waktu dihilangkan tapi diganti dengan becak bermesin. Jadi tidak ada lagi perbudakan manusia atas manusia. Kalau sekarang ini kan saya hanya naik becak sekali seumur hidup saya ini. Karena dalam hati kami itu perbudakan manusia atas manusia. Tidak sampai hati mereka berkeringat, dan apalagi kalau hujan, mereka … aduhhh. Jadi kalau ada nanti mudah-mudahan becak diganti dengan yang mesin. Becak tetap becak tetapi pakai mesin”..

Tabe,

Jakarta 15-Oktober-2013

Iklan