MEMBEDAH MENTALITAS KAUM DAYAK DALAM PUSARAN TRANSFORMASI BUDAYA, SEBUAH REFLEKSI KRITIS


merupakan salah satu acara dalam Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan XI di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjo Soemantri, UGM, Yogyakarta pada tanggal 16 November 2013.

Seminar Budaya dalam Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan XI di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjo Soemantri, UGM, Yogyakarta pada tanggal 16 November 2013.

Oleh Chatarina Pancer Istiyanti
(Antropolog dan Sosiolog yang menikah dengan lelaki Dayak Bakatik)

Disadur oleh Willy Kalawa

PENGANTAR DARI PENYADUR
Isi summary ini telah disampaikan pada acara Seminar Budaya yang merupakan salah satu acara dalam Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan XI di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjo Soemantri, UGM, Yogyakarta pada tanggal 16 November 2013.
Penyadur adalah salah satu peserta dalam seminar tersebut dan ikut mendengarkan dengan seksama setiap materi yang disampaikan. Karena keterbatasan waktu dan kesibukan, maka penyadur hanya bisa menyajikan makalah beliau dalam bentuk summary. Semoga bisa bermanfaat dan mencerahkan kita semua. Tabe 🙂

N/B: semua kata-kata yang terdapat di dalam kurung adalah tambahan dari penyadur.

MEMBACA KHASANAH PIKIR ORANG DAYAK
1. Kegelisahan akan Mentalitas

  • Pada umumnya, orang Dayak yang “mikirin” mentalitas itu lebih banyaknya bukan orang Dayak yang tinggal di kampung, bukan [juga] orang Dayak yang tinggal di kota yang tidak sadar dengan realitas transformasi Budaya Dayak. Lalu siapa?
  • Pikiran saya lebih terarah pada Dayak diaspora yang pernah atau sedang merantau (terutama yang sekolah ke luar Kalimantan) dan orang Dayak “terpelajar” lainnya.
  • Jadi, tampaknya bahwa kegelisahan terkait mentalitas itu dimiliki oleh orang Dayak yang sadar dengan adanya transformasi budaya pada satu sisi dan sisi lain sadar bahwa realitas mentalitas orang Dayak kurang siap menghadapi transformasi itu.

2. Alam Berubah, Manusia Berubah. Realitas Berubah, Mentalitas Berubah

  •  Tidak dapat dipungkiri bahwa orang Dayak itu adalah kaum yang memiliki relasi yang kuat dan dekat dengan alam.
  • Kaum Dayak tidak perlu “takut” masuk hutan untuk berburu babi hutan… Mau ikan dan udang, danau dan sungai-sungai menyediakannya berlimpah… Baiknya kondisi hutan, sungai, dan danau itu karena mereka memiliki kearifan-kearifan dalam pemanfaatannya.
  • Seiring berjalannya waktu, orang lain dengan membawa budayanya masuk… Realitas lain, yang masuk ke wilayah hidup kaum Dayak bukan hanya manusia-manusia berbekal budaya lain, namun juga negara yang datang dengan segepok tata aturan yang membuat kaum Dayak boleh ini dan tidak boleh itu.
  • Goncangan [dalam cara] pikir terjadi… Hutan ditebangi, sungai dikeruk, tanah digali. Sumber penghidupan jadi berubah wajah. Daya dukung bagi kehidupan kaum Dayak pun melemah.
  • Realitas yang terjadi pada alam berubah, kaum Dayak pun berubah sikap hidup[nya].

3. Realitas Mentalitas Orang Dayak

  • Karena tergantung pada [kemurahan] alam maka kaum Dayak pun menghormati alam dengan cara mempersembahkan sesaji, melihat tanda-tanda alam sebagai pedoman hidup, dan menghidupkan tabu-tabu agar alam tetap ramah dan memberikan penghidupan. Intinya adalah harmonisasi.
  • Pihak di luar kaum Dayak itu merasa berhak atas alam dan bahkan membuat berbagai aturan, tata perizinan yang membuat kaum Dayak kehilangan sebagian besar “kemurahan alam”.
  • Pada saat yang bersamaan, kaum Dayak tidak mampu membendung sikap hidup yang mereka adopsi dari budaya yang datang yang mengedepankan materialisme, konsumerisme/konsumtif, dan hedonisme.
  • Dalam kondisi seperti ini, kaum Dayak melirik, menyenangi, dan mempraktikan cara-cara instan untuk meraih gaya hidup yang mereka inginkan: cepat dapat uang, cepat kaya, tidak terlalu sakit-sakit dalam bekerja, dan sebagainya.
  • Tindakan yang sangat jelas dari cara-cara instan itu bermula dari pandangan bahwa tanah dan pohon itu punya nilai jual.
  • Orang semakin tidak memerdulikan kelestarian alam karena komodifikasi alam tersebut.
  • Tentu hal ini terjadi juga karena generasi yang suka cara-cara instan itu kurang menghargai adat dan tercerabut dari akarnya.
  • Realitas ini dapat dikatakan sebagai Dayak sedang lari dari ajaran luhur nenek moyang karena tidak mampu menahan gempuran kekuasaan dan budaya instan.
  • Elit kaum Dayak dan orang-orang yang bekerja di atas tanah Kalimantan [juga] melakukan pembusukan diri dengan melakukan tindak korupsi, pemberian izin konsesi sebanyak-banyaknya, dan lain-lain.
  • Kalau dulu dapat dibayangkan kaum Dayak itu tinggal di gunung-gunung dan hutan-hutan, sejak kapankah mereka “turun gunung” dan “keluar hutan”?
  • Simon Takdir mengatakan bahwa Dayak itu “barusan keluar dari hutan”.
  • Melalui telepon, Martinus Nanang bercerita, “LSM saya bikin training di kampung orang Benuaq. Ada pertanyaan bagaimana mereka memandang diri mereka… dan dijawab dengan buruk semua: bodoh, malas, jorok, dan lain-lain”. Itu adalah realitas pada tahun 2000-an.
  • Hal ini menunjukkan bahwa saat itu rasa rendah diri kaum Dayak masih kuat.
  • Menyadari kerendahan diri ini, sebagian kaum Dayak minta dihargai.
  • Selain gejolak [kerendahan diri]… tekanan-tekanan dari luar baik perihal politik, ekonomi, dan budaya yang menjepit kaum Dayak menyadarkan mereka untuk… membentuk lembaga/organisasi yang dianggap relevan dan signifikan. Pada tahap ini, mentalitas berani kaum Dayak menguat.
  • Pada hal-hal tertentu, keberanian kaum Dayak bisa dipandang kebablasan.
  • Orang Dayak secara umum sekarang ini mulai beralih dari orang terpinggirkan ke arah mengembangkan kapasitas secara besar-besaran.
  • Bagaimanakah mentalitas berorganisasi [kaum Dayak]?
  • Abdon Nababan menyatakan bahwa mental berorganisasinya masih payah. Apalagi jika dikaitkan dengan politik,… maka yang terjadi adalah Dayak makan Dayak.
  • Mengapa kaum Dayak sulit bersatu? [Dalam] relasi internal Dayak sendiri, terdapat persaingan yang tidak sehat dan membuat sekat-sekat dengan menonjolkan kedayakan sendiri atau… ego suku masih kuat.

 

REFLEKSI


1. Dampak Mentalitas Terhadap Perkembangan Kaum Dayak

  • Jika kaum Dayak tidak menyadari berbagai mentalitas yang dimilikinya maka jelas-jelas akan terus hanyut dalam pusaran transformasi budaya yang [mana] lambat laun kedayakannya juga akan luntur.

2. Apa yang Dikehendaki?

  • Bern Anderson… mengatakan bahwa Indonesia itu merupakan imagined community, yang tidak pernah ada. Agaknya, persatuan Dayak secara kolektif ini pun seperti komunitas yang hanya ada di khayalan belaka.
  • Melihat realitas ini, persatuan Dayak seharusnya dipandang bukan sebagai tujuan akhir, namun merupakan proses yang terus-menerus perlu diupayakan secara kongkret.
  • Acai mengatakan bahwa mentalitas Dayak itu kayu besi, kayu ulin… menggambarkan kekuatan karakternya yang tegas, kokoh.
  • Kayu besi, kayu ulin sudah langka… begitu juga nilai-nilai luhur kedayakan yang ada, misalnya kebersamaan, solidaritas, demokrasi, kejujuran, hormat terhadap alam.

3. Mentalitas yang Diperlukan

  • [Adalah] mentalitas yang membangun modal sosial-lah yang paling diperlukan [oleh kaum Dayak].
  • Yaitu mentalitas menjunjung tinggi kebersamaan… semangat kebersamaan, gotong royong, trust [saling percaya], saling membantu merupakan mentalitas yang diperlukan dan perjuangkan secara terus menerus.

***

Iklan