INJIL MASUK KE TANAH PARA “PENGAYAU”


INJIL MASUK KE TANAH PARA “PENGAYAU”

Sejak tahun 1830an Pulau Kalimantan telah dikuasai oleh Belanda tetapi struktur masyarkat, adat dan kebudayaannya belum diperhatikan. Pulau Kalimantan sudah dikenal oleh beberapa Negara di Eropa. Pulau yang dihuni oleh beratus-ratus suku Dayak, ketinggalan, terbelakang dari suku-suku lain, semuanya buta aksara dan belum mendengar berita injil. Pada abad ke-19, gereja-gereja Kristen di Eropa terkenal sebagai abada Pengabaran Injil, gereja-gereja aktif dalam usaha pekabaran injil ke berbagai dunia.

Dalam siding umum badan pekabaran injil tahun 1834, orang Kristen di Jerman memutuskan: mengambil bagian tempat mengabar injil di Borneo, khusu diantara Suku Dayak. Sebagai perintis diutus Misionaris J.H. Barnstein dan Heyer. Mereka tiba di Batavia tanggal 13 Desember 1834. Selama beberapa bulan berurusan dengan Pemerintah, Missionaris Heyer terganggu kesehatannya lalu kembali ke Jerma. Misionaris J.H. Bernstein meneruskan perjalanannya menumpang perahu layar dari Jakarta selama 14 hari ke Banjarmasin. Dari Banjarmasin Miss Barnstein survey ke Sungai Barito, Kahayan, Katingan, Mentaya, Pembuang dan seterusnya sampai Sungai Kapuas Buhang. Setelah mengadakan survey, menetapkan tempat pangkalan pos pekabaran injil di Banjarmasin.

Missionaris J.H. Barnstein masuk daerah suku Dayak yang jarak dekat dengan Banjarmasin. Tahap pertama kali membuka pangkalan pekabaran Injil di Betabara tahun 1839-1840 dilayani Miss Berger, di Palingkau dilayani Miss Backer. Tahap kedua tahun 1841 dibuka pos baru di desa Gohong dan di Bontoi / Penda Alai. Tahap ketiga didaerah Dusun Timur tahun 1851 bertempat di Morotuwu menjadi pangkalan pemberitaan Injil sepanjang Sungai Barito, dilayani oleh Miss L.E. Denninger. Tahap ketiga bertempat di Pulau Telo di Tanggohan dan di Pangkoh yang dilayani Miss E.E Hoffmesiter pada tahun 1855. Tahap kelima, pangkalan didirikan di Tamiang Layang oleh Missionaris J.C Klammer pada tanggal 20 Agustus 1857.

Pemerintah colonial Belanda pada waktu itu tidak ikut campur tangan pada bidang kerohanian dan pendidikan rakyat/masyarakat banyak. Maka misionaris-misionaris mengambil kebijaksanaan mendirikan sekolah ditempat masing-masing. Karena sulit pelayanan injil diantara Suku Dayak yang tuna aksara. Berkat pertolongan Tuhan yang empunya Injil, maka sampai dengan tahun 1894 seluruhnya tercatat 400 orang murid sekolah. Tetapi orang yang beralih menjadi Kristen sangat sedikit jumlahnya. Di daerah sungai Murung (Kuala Kapuas) tercata 13 orang Kristen dan di daerah Dusun Timur, sampai dengan tahun 1857 tercatat 20 orang Kristen. Demikian hasil pekerjaan Pekabaran Injil selama 23 tahun diantara suku Dayak,

Pada waktu yang sama seperti diatas, misionaris-misionaris dalam perkunjungannya ke desa-desa, mempelajarai mengenal struktur, latar belakang hidup dalam masyarakat. Para misionaris dapat melihat dari dekat, bagaimana nasib JIPEN (Budak-budak) yang sangat menyedihkan.

Pada tahun 1858-1859, terjadilah huru-hara di Banjar karena anti penjajahan Belanda. Kekacauan itu menjalare ke pedalaman, mengakibatkan banyak jatuh korban dari antara para misionaris seperti di Tanggohan dan Penda Alai. Suatu percobaan yang sangat berat bagi badan pekabaran injil di Jerman (Zending Barmen).

Sejak terjadinya peristiwa tersebut, pemerintah Belanda melarang orang kulit putih masuk ke pedalaman. Misi Pekabaran Injil terputus lalu beralih ke Sumatera daerah Batak Tapanuli selama lebih kurang 7 tahun, dari tahun 1859 sampai 1866.

Tetapi Tuhan tidak terlalu lama menutup pintu bagi pekabaran injil. Pada akhir tahun 1866, pemerintak colonial Belanda membuka kembali kemungkinan bagi para misionaris masuk ke padalaman Kalimantan. Pada bulan Juni 1866 Pangkalan baru dibuka di  Kuala Kapuas; enam tahun kemudian dibuka sekolah guru oleh misionaris P.Ph. Hennemann. Orang-orang yang sudah dibaptiskan di Kuala Kapuas dapat mengatur dirinya menjadi jemaar yang berkembang. Di pihak lain, misionaris-misionaris memperhatikan juga nasib para JIPEN (budak) golongan ekonomi lemah. Mereka ditebus dari pemiliknya dibawa ke Banjar ditempatkan pada lokasi perkampungan luar kota, yang disebut kampung Kristen, karena mereka yang tinggal dikampung itu semua Kristen. Mereka diajar membaca, menulis dan keterampilan lain. Usaha para misionaris yang membebaskan jipen (budak) itu didukung oleh Pemerintah Hindia Belanda. Maka Pemerinta Belanda mengeluarkan peraturan: semua orang tidak diperbolehkan memelihara budak dan semua budak harus dibebaskan.

Disadur dari tulisan Maryus Tanggalong (Datuk Penulis)

Palangkaraya 22/12/2013

Iklan