SEJARAH SEPANG KOTA


SEJARAH SEPANG KOTA

Sudah sejak lama ada kerinduanku untuk menulusuri kampung halaman leluhur dan mengetahui sejarahnya. Maka pada natal tahun 2013 ini penulis bersama keluarga dan komunitas pelayanan pergi ke desa Sepang Kota, Kecamatan Sepang, Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Disamping tujuannya untuk menggali sejarah dan mengenal keluarga, kami juga mengadakan acara perayaan natal dan membagi-bagikan bingkisan natal untuk anak-anak di sana. Disebuah gereja GKE yang dahulu didesaign oleh alm. Bapaku. Terakhir aku pergi ke desa ini ketika kecil, waktu itu belum ada jalan darat yang tembus ke Desa Sepang Kota ini.

Gereja yang didesign oleh alm. Ayahku

Gereja yang didesign oleh alm. Ayahku

Kebetulan “Sei” atau nama fam ku adalah “BANGKAN”, tapi aku tidak pernah tahu siapa itu Bangkan?, dimana makamnya? Kenapa desa ini bernama sepang kota? Siapa penghuni awalnya??

Perjalanan ke Sepang Kota

Perjalanan ke Sepang Kota

Perjalanan ke Sepang Kota

Perjalanan ke Sepang Kota

Seorang pedagang minyak terjatuh ketika melwati jalan menuju sepang kota

Seorang pedagang minyak terjatuh ketika melwati jalan menuju sepang kota

Dari hasil wawancara dengan tokoh masyarakat di desa ini, baru aku mengetahui bahwa dahulu desa ini adalah sebuah “KOTA”. Kota dalam bahasa Dayak Ngaju artinya adalah semacam benteng biasanya berupa pagar dari kayu uli bulat yang besar dan panjang dan didirikan setinggi atap rumah betang. Tiang rumah betang umumnya setinggi 4-5 meter, bisa dibayangkan setinggi apa “KOTA” yang didirikan mengelilingi rumah betang ini?. Betang berkota ini untuk menghindari serangan musuh yang sewaktu-waktu dapat menyerang.

Dahulu di Kota Sepang ini ada 4 buah “HUMA HAI” atau rumah betang yang merupakan penduduk awal desa ini. Empat betang generasi awal desa Sepang Kota adalah:

  1. Huma Hai milik Damang Dime Tudeng Sipet atau dikenal dengan Bapak Santai
  2. Huma Hai miliki Danum Lentu
  3. Huma Hai milik Estan Entu (Bapak Rince)
  4. Huma hai milik Bapak Ohok

Ada juga betang lain yang bukan betang generasi awal yaitu betang milik Angis Sanduran atau Bapak Dawid. Huma hai yang tersisa adalah Huma Hai milik Damang Dime Tudeng Sipet. Namun sekarang tidak berpenghuni dan banyak mengalami kerusakan, perlu perhatian pemerintah daerah untuk segera memperbaiki rumah betang ini. Yang tersisa dari rumah betang ini pun sebagian adalah tambahan, hanya bagian belakang rumah yang masih asli.

Huma Hai Damang Dima Tudeng Sipet (Bapak Santai)

Huma Hai Damang Dima Tudeng Sipet (Bapak Santai)

Dahulu desa ini memiliki pada rumput yang luas untuk tempat ternak kerbau yang dahulu jumlahnya ratusan ekor, sekarang hanya tersisa sedikit.

Padang Rumput tempat ternak Kerbau

Padang Rumput tempat ternak Kerbau

Padang Rumput tempat ternak Kerbau

Padang Rumput tempat ternak Kerbau

Penulis juga berkesempatan untuk mengetahui siapa leluhur penulis? Bangkan adalah “Datuk” atau orang tua dari kakek ku yang bernama Emil, Bue Emil ini dahulu adalah seorang guru dan akhirnya pindah merantau ke Kuala Kapuas. Sedangkan Datu Bangkan masih beragama Kaharingan. Untuk pertama kalinya penulis menziarahi sandung keluarga Bangkan, sungguh rasanya tergetar hati ini mengetahui siapa dan dimana makam leluhur sendiri.

Sandung Keluarga Bangkan

Sandung Keluarga Bangkan

Rumah asli dari Datuk Bangkan ini sudah menjadi “KALEKA” atau sudah tidak ada lagi, tetapi banyak juga yang takut kalau memasuki areal kaleka ini, karena takut melangkahi benda-benda keramat yang mungkin tersisa sebelumnya.

Secara taraf ekonomi orang-orang di desa ini sudah cukup maju dan mapan, banyak juga anak-anak mudanya dikirim untuk kuliah di Jakarta, bahkan ada beberapa yang mengambil jurusan Kedokteran, Elektromedis. Hal ini memang karena desa ini dikarunai sumber daya emas. Namun sayang sungainya sudah rusak dan tercemar. Saya ingat dahulu ada “GOSONG” atau semacam pantai kerikil dan sungainya masih jernih, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Inipun perlu menjadi perhatian dan kesadaran warga.

Tabe,

Palangkaraya 31-Des-2013

Iklan