Caraku menerbangkan Mandau


Caraku menerbangkan Mandau

Mandau Kenyah / Parang illang

Mandau Kenyah / Parang illang

Note: Cerita ini adalah pengalaman nyata salah satu admin Folks Of Dayak

Tahun 2009 yang lalu, saya menghadiri Pertemuan mahasiwa komunikasi se-Indonesia di daerah perbukitan Tretes (Jawa Timur) dalam rangka mewakili kampus. Peserta kegiatan itu hampir diikuti oleh seluruh perwakilan Universitas se-Indonesia.

Paling berkesan adalah saat sesi inagurasi. Dimana, malam itu setiap perwakilan kampus di minta tampil mempersembahkan pertunjukan kepada peserta lainnya. Saya ingat, kawan-kawan dari UI jakarta tampil main gitar, dari banten maju berpuisi, ada juga yang menyanyi, stand up, brig dance dan macam-macam lagi.

Kami dari kalsel waktu itu berangkat hanya bertiga. Satu teman saya orang banjar satunya lagi orang Jawa. Serempak saat itu kami gugup. Mau nyanyi sumbang, main gitar kurang lihay, bingung mau nunjukin apa.

Suasana semakin menjadi riuh, saat satu-persatu peserta selesai tampil. Teman saya yang orang jawapun saat itu tiba-tiba menghilang, entah pergi kemana. Hingga tinggal tersisa saya berdua.

“Berikutnya dari kalimantan Selatan” kata MC di ikuti tepuk tangan meriah dan kontan membuatku langsung berdoa dalam hati, minta petunjuk-Nya.

Itulah saat-saat di mana denyut jantung berubah berdetak sangat cepat. Apalagi melihat ratusan pasang mata yang begitu penuh harap. Betul-betul di suasana yang sulit.

Lama saya terdiam, hingga seperti sakelar di colok listrik. Tiba-tiba saya mendapat inspirasi. Spontan waktu saya melepas baju dan mengikatnya di kepala, Kemudian maju kedepan hadirin.

“Malam ini saya ingin coba menerbangkan mandau,” kataku dengan tegas.

Betul saja, semua menjadi hening dan saling berpandangan. Teman saya orang banjarpun sempat menolak, meragukan aku. Bahkan MC yang dari Surabaya juga sempat membisikiku.

” Yang benar mas, apa kira-kira nggk berbahaya?” Tanyanya dengan wajah sedikit aneh.

Lalu kujelaskan jika mandau terbang yang kulakukan ini tidak berbahaya. Mandau ini akan kuterbangkan dengan hanya membuatnya melayang-melayang beberapa meter di udara dan tidak akan terbang kesana-kemari.

Setelah menyakinkan panitia, Kemudian saya minta teman saya orang banjar tadi mengambil mandau di tas. Kebetulan saat itu, saya memang ada membawa sekitar 7 buah mandau, yang mulanya ingin saya hadiahkan sebagai sovenir pada beberapa rekan di acara itu.

Saya minta pada panitia untuk membuat pembatas dari tali, menyerupai bentuk lingkaran. Saya lalu minta seember air dan memematahkan beberapa ranting tananaman ( rasanya tamanan kacapiring) yang ada disitu.

Ranting tadipun saya celupkan ke ember dan mulai saya “birik-birik” (sapukan) ke pinggir pembatas tali tadi. Saya minta semuanya mundur minimal dengan jarak 1 meter. Semuanya dengan cepat mengikuti intruksi saya, bahkan ada yang mundur sangaat jauh.

Perlahan saya ambil satu mandau dan menancapkannya ke tanah pesris di tengah-tengah lingkaran. Namun, sekali lagi MCnya, membisiki aku.

“Benar nggk apa-apa mas,” katanya.
Aku coba menenangkannya dengan hanya mengganguk pelan (mirip-mirip anggukan limbat).

Sambil memegang mandau yang menancap di tanah. Dalam posisi membungkuk saya lalu bersuara nyaring yang membuat suasana berubah mencekam.

“Ketuun kemeee angeeat tah, sinde tuuh aku mampuhumung ketuuun.. !!!(Artinya: Rasain kalian, kali ini aku bodohohin kalian semua) kataku berulang-ulang yang sekilas mirip-mirip mantra.

Dalam hati, saya yakin tak satupun mereka yang mengerti mantra itu. Karena itu adalah bahasa dayak ngaju kalteng yang sudah pasti hanya saya sendiri yang paham.

Cukup lama hening, saya spontan langsung pura-pura mengerang kesakitan. Tangan kiri saya angkat tinggi-tinggi, persis seperti adegan menerawang dalam tayangan Televisi. Sementara tangan kanan masih memegang mandau yang menancap.

“Arrrhhhgg..!!!” Kataku, semakin kuat mengerang. Bahkan kali ini sambil menghentakan kaki kanan ke tanah. Sambil mengernyitkan mata, aku mengintip cepat reaksi mereka. Suasana betul-betul hening, tak satupun yang berani mendekat.

Setelah merasa cukup, beberapa menit kemudian saya lalu berdiri.

“Mohon maaf, ternyata saya tidak bisa melanjutkan pertunjukan ini lagi, karena ada suatu sebab yang tidak bisa saya buka disini,”kataku pelan.

“Saya tidak mau terjadi apa-apa disini,” jelasku lagi yang langsung di sambut tepuk tangan meriah. Meski tidak selesai, namun banyak peserta waktu itu yang menyalamiku.

*Pengalaman di atas adalah kisah nyata penulis yang sebagian mengalami sadur ulang.

Tabe

 

Iklan