PANGLIMA BURUNG


PANGLIMA BURUNG

Foto HOAX Panglma Burung di Media

Foto HOAX Panglma Burung di Media

Semenjak meletus perang Sampit tahun 2001 antara Suku Dayak dan salah satu suku pendatang, nama Panglima Burung ini terus menjadi legenda dan mitos yang yang berkembang hampir secara nasional. Ada yang berkata panglima burung adalah wanita, ada juga yang berkata panglima burung dari Kalimantan Barat, ada juga yang berkata Panglima Burung adalah roh nenek moyang.

Kali ini penulis mencoba menyajikan prespektive pribadi mengenai sosok Panglima didalam Budaya Dayak dan benarkah Panglima Burung itu ada?? masih perlu masukan dan revisi

PANGLIMA DALAM BUDAYA DAYAK

Sejatinya budaya Dayak tidak mengenal istilah Panglima. Gelar-gelar seperti Panglima, Patih, Temanggung, Dambung, Singa, Ngabe, dsb adalah pengaruh dari kebudayaan Melayu dan Jawa yang memasuki Pulau Kalimantan.

Pada jaman dahulu sesorang disegani ketika ia bisa melindungi kampungnya dari serangan musuh dan memimpin kampungnya. Gelar yang disematkan dalam budaya Dayak Ngaju dalah Mamut Menteng atau orang yang gagah berani, tetapi gelar ini pun tidak diberikan oleh dirinya sendiri, tetapi oleh orang kampungnya atau orang sekitar. Misal jaman dahulu orang ini bisa merantau ke daerah suku Dayak lain dan bisa pulang dengan selamat maka ia seorang yang mamut menteng. Untuk menggali ini tentuk kita harus melihat dari kesustraan Dayak kuno yang selalu dilantunkan dalam setiap upacara Belian.

Salah satu yang umum iala cerita peperangan yang kolosal di Kalimantan Tengah adalah peperangan di Pulau Sekupang atau Kuta Bataguh, yang saat itu menghadapi kurang lebih 10000 bala pasukan dari Filipina. Yang menjadi tokoh peperang saat itu adalah pemimpin Kuta Bataguh disebut Nyai Undang, dan sodara-sodaranya dari hulu Kahayan; Tambun, Bungai, Rangkai, Rambang dsb.. Tetapi tidak pernah tokoh-tokoh ini disebut sebagai Panglima baik dalam acara-acara adat. Untuk sementara ini kesimpulan kita istilah Panglima adalah budaya serapan.

Gambar Pemimpin Dayak Jaman Dahulu

Gambar Pemimpin Dayak Jaman Dahulu

Nah setiap sub suku Dayak memiliki istilah tersendiri didalam siapa yang menjadi pemimpinya, misal orang Kenyah menyebutnya PAREN,orang Kadazan menyebutnya VOYOON, lalu juga ada istilah Tamanggung, Dambung, Patih, Ngabe, Singa dsb, tetapi perlu diingat gelar ini bukan bersifat diturunkan ke anak-anaknya, ada kriteria-kriteria tertentu sesorang bisa disebut pemimpin :

1. MENTENG UREH MAMUT MAMEH

Artinya orang yang berani dan punya jiwa kesatria, berani bertanggungjawab atas perbuatannya juga atas keselamatan orang-orang dikampungnya. Yang menarik adalah kata MAMEH yang arti harfiahnya bodoh. Artinya ketika ia harus berjuang demi kampung dan warganya dia tidak akan pikir panjang mengenai keselamatan dirinya, dan jiwa ini tidak dibatasi oleh bias gender.

Ada satu kisah di TEWAH tentang “PANGLIMA” yang melindungi kampungnya dari serangan ASANG (Perampok yang akan memotong kepala musuhnya atau memperbudak yang kalah), adalah seorang wanita, Ia dijuluki NYAI BALAU (Balau = rambut, karena keiindahan rambutnya). Ia hanyala seorang ibu rumah tangga biasa, memiliki kelurga yang bahagia KENYAPI, suatu ketika desa NYAI BALAU diserang oleh Asang dari Tanah Siang dan anak semata wayangnya telah dipenggal oleh para asang ini. Maka untuk membalas perbuatan para Asang dari Juking Sopang yang bernama ANTANG, NYAI BALAU memipin orang kampungnya untuk menunutut pertanggung jawaban ANTANG untuk disidangkan sesuai adat, tetapi ternyata ANTANG malah menghinanya dan ingin membunuh NYAI BALAU. Maka dengan pusaka semacam selendang, NYAI BALAU mengalahkan asang ini dan memenggal kepalanya.

2. BAKAJI

Seorang yang bisa memiliki gelar pada zaman dahulu adalh ia yang memiliki ilmu kanuragan atau disebut BAKAJI. Untuk mendapatkan ilmu ini sesorang harus selalu dekat dengan alam dalam keheningan melalui ritual balampah.  Seorang yang bakaji juga umumnya rendah hati, ia tidak akan memerkan ilmunya. Sebab kekuatan yang ia dapat hanya digunakan ketika saat genting terjadi. Jadi seorang pemimpin dayak adalah seorang yang memiliki kehidupan spiritual yang baik dan tercermin didalam hubungannya dengan alam dan kerendahan hatinya.

3. MENGUASAI HUKUM ADAT

Seorang pemimpin juga harus mengetahui hukum adat, untuk dapat adil memutuskan suatu perkara. Dan ketika ia melanggar hukum adat itu ia juga harus bersedia bertanggung jawab.

4. MENDENGAR NASIHAT & BIJAKSANA

Nasihat ini dahulu bisa didapat dari RANYING atau Tuhan atau dari tetua-tetua kampung yang bermusyawarah. Misal kisah SEMPUNG dari RANGAN MARAU, dimana demi menghindari pertempuran yang terus menerus dengan serangan ASANG dari sungai MAHAKAM, ia bertanya dengan warga kampungnya dan melakukan ritual MANAJAH ANTANG. Saat itu mereka sepakat untuk segera hijrah dari kampung RANGAN MARAU ke arah SUNGAI KAHAYAN. Bukan karena Sempung takut, tetapi ini pilihan bijak, jika harus terus menerus berperang dan mengorbankan banyak warga kampungnya.

Seperti kisah Kampung BUSANG BELAWAN (di dalam Sungai Boh), Tokoh yang memimpin kampung pada waktu itu adalah BO ANTANG (Seorang Dayak Ngaju). Saat itu sering terjadi peperangan dengan Dayak Kayan yang merupakan Dayak Besar di Sungai Mahakam. Maka untuk menghindari peperangan dan serangan terus menerus di desanya, maka ia mengadakan suatu pakta perjanjian damai dengan Suku Kayan-Kenyah. Dimana mau tidak mau ia harus mengorbankan 3 orang penduduknya dikorbankan sebagai LAPIK JANJI (tanda janji), 1 orang bernama Gasing dikorbankan di wilayah Busang Belawan yang hingga sekarang disebut wilayah itu Naha Gasing, sedangkan 2 orang lainnya diberikan kepada suku Kenyah di wilayah Apo Kayan.
Perjanjian ini dibuat pada waktu Bo Bang Juk memimpin Kampung Ujoh Bilang. Bo Bang Juk kemungkinan menjadi penghubung ke suku-suku Kenyah di Apo Kayan, karena beliau berasal dari suku Kenyah Lepo Timai (Umaq Timai). Bo Bang Juk adalah seorang tokoh besar di wilayah kecamatan Long Bagun.

Dalam perjanjian itu orang-orang BO ANTANG harus menjaga agar jangan DAYAK IBAN masuk melalui jalur kampungnya ke MAHAKAM, sebab saat itu orang KAYAN – KENYAH juga bermusuhan dengan orang IBAN. Apa yang dilakukan BO ANTANG bukan suatu tindakan pengecut tetapi bijaksana.

Sekarang kembali ke topic kita tentang PANGLIMA BURUNG, setelah kita tahu bahwa sebenarnya istilah PANGLIMA bukan budaya awal suku Dayak, dan juga kriteria orang yang bisa disebut pemimpin atau semacam Panglima. Saya akan menyajika beberap versi tentang PANGLIMA BURUNG INI:

Panglima_Burung_Poster_by_TokyoFoil

PANGLIMA BURUNG ADALAH SEORANG PANGLIMA DARI DESA MELIAU KALBAR

Konon ia adalah salah satu tokoh yang ikut Perang Maja di desa Melia, beliau lahir di merakai panjang Kab. Kapuas Hulu pada 14 November 1914 dan sudah meninggal pada tanggal 27 Oktober 2005 pada umurnya yang hampir 100 tahun.

PANGLIMA BURUNG ADALAH WANITA MUSLIMAH

Kiyai Haji M. Juhran  Erpan Ali, Ketua Pondok Pesantren Ushuluddin, Martapura, berkata: “Panglima Burung seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis.

Kembali kepada keberadaan Panglima Burung yang legendaris, kata Kiyai Haji M. Juhran Erpan Ali (56), “Keberadaannya memang nyata, berwujud seorang wanita berparas cantik namun berwatak bengis. Panglima Burung sudah ada jauh sebelum Indonesia terbentuk”.*2) Namun begitu, yang mengejut­kan dari penuturan Kiyai Juhran adalah karena sosok Panglima Burung selaku Panglima Perang Tertinggi Suku Dayak ternyata beragama Islam dan menyandang titel seorang hajjah. (Sumber: Klick)

PANGLIMA BURUNG ADALAH ROH NENEK MOYANG YANG MERASUKI

Ketika perang Sampit terjadi, diadakan ritual MANAJAH ANTANG untuk memanggil roh-roh nenenk moyang, dari hasil diskusi dengan Bang Glol salah satu yang bergelar Panglima dari Dayak Benuaq. Roh-roh nenek moyang yang sakti ini datang dan bisa merasuki siapa saja, sehingga seketika itu ia memiliki kesaktian, dan jika roh itu pergi maka orang itu kembali menjadi orang yang biasa saja.

PANGLIMA BURUNG TIDAK PERNAH ADA DISAMPIT

Ini juga dari hasil wawancara dengan pelaku konflik sampit, yang merupakan pasukan awal yang terjun ke Sampit. Pada 3 hari pertama Kota Sampit dikuasai oleh salah satu suku, dan saat itu banyak orang Dayak Sampit yang eksodus ke tempat lain sebab banyak juga orang Dayak yang menjadi korban.

Pada hari ketiga itulah datang seorang tua memakai sampannya, dan para perusuh yang menguasai kota Sampit saat itu bertanya-tanya siapa orangt tua yang berani sekali datang ke sungai Mentaya ini. Bapak tua ini kemudian melawan para jawara suku tertentu ini dengan hanya menggunakan semacam kain bahalai. Saat itu kakek ini pergi ke salah satu rumah orang Dayak disampit, dimana orang rumah ini sudah sangat ketakutan, ia berkata untuk jangan takut dan berkata “OLOH ITAH KEA” – orang kita juga. Dia berpesan bahwa nanti akan datang pasukan awal sekitar 70 orang, mereka akan tinggal di rumah ini. Kemudian kakek ini pergi, barulah datang pasukan awal yang melawan para jawara musuh saat itu. Setelah kloter pertama yang menembus kota Sampit, baru berdatanganlah bantuan dari Sub Suku Dayak lain, seperti dari Kalbar, Kaltim dan Kalsel.

Dari wawancara dengan salah satu pasukan kloter pertama itu, ia tidak pernah mendengar atau melihat Panglima Burung. Justru saat itu ia baru mendengar setelah dari media yang meliput.

Dari beberapa versi diatas, kita sama-sama tidak tahu kevalidannya. Tinggal kita yang memilih untuk meyakini yang mana atau sama sekali tidak meyakini kisah-kisah itu. Tetapi yang pasti kita tahu seseorang yang bisa disebut Panglima itu bagaimana? Bukan orang yang sembaranga, atau kebetulan saja memiliki banyak tattoo dan terlihat meyeramkan. Saat ini banyak bermunculan orang yang mengaku panglima Dayak, demi untuk kepentingan pribadinya saja. Menjadi centeng perusahaan sawit & tambang, atau menjadi bodyguardnya pejabat. Padahal panglima itu akan berjuang dan berkorban bagi masyarakatnya.. Tabe

Bekasi 24/Jan/2014

Iklan