SHARING DENGAN MAHASISWA DAYAK


SHARING DENGAN MAHASISWA DAYAK DI TARAKAN

Beberap waktu lalu aku berencana hendak pergi ke Malinau, akibat pesawat yang delay membuat aku mau tidak mau harus menginap di Tarakan. Tarakan bukan kota yang baru untuk aku kunjungi, tetapi kenalan atau komunitas Dayak tidak banyak aku kenal disana, bahkan mungkin selama group FoD ini ada rasanya aku belum pernah berdiskusi dengan warga Dayak yang ada di Tarakan.

Beruntung aku dikenalkan oleh kenalanku seorang mahasiswa Dayak yang sedang studi di kota Tarakan, awalnya pembicaraan cukup kaku karena tidak saling kenal. Ditambah lagi ternyata mendadak aku harus balik ke Jakarta esoknya untuk sebuah pekerjaan membuat suasana hatiku agak kurang baik. Keadaan semakin mencair ketika aku dibawa ke asrama Mahasiswa Dayak yang ada disana dan berkenalan dengan beberapa penghuninya.

Menariknya adalah ketika pertama kali berkenalan, aku langsung dijamu dengan minuman beralkohol dan diajak dugem hehe, memang nampaknya mereka sudah mempersiapkan banyak sekali miras di asrama ini untuk weekend. Maka aku mulai ikut mereka minum dan mencoba untuk lebih akrab, awalnya tetaplah sulit untuk mencoba blend in, tapi lama kelamaan mulai bisa. Saat itu aku mulai mencoba mengangkat isu budaya dan akhirnya mengarah mengenai bagaimana SDM kita Dayak terutama generasi mudanya? apakah kita siap bersaing dengan para pendatang? Apalagi Tarakan akan menjadi Propinsi baru, tentu akan mengundang banyak sekali pendatang yang memiliki skill dan knowledge yang lebih mumpuni.

Dari sharing ini yang utama penulis lihat kebanyakan Mahasiswa Dayak apalagi yang tinggal di asrama Daerah seolah-olah tidak sadar tentang keadaan daerahnya, bagaimana tertinggalnya SDM kita dibandingkan orang dari daerah lain? nampak sekali adanya zona nyaman “ah kalau dikampung itu gampang saja” atau “pendatang tidak akan berani dikampung kami” dst. Kekhawatiran penulis bukan dimasalah minum atau dugem, tetapi folks coba bayangkan para Mahasiswa ini dikirim dari kampung untuk studi, mungkin orang tuanya hanyalah petani, tetapi mereka bisa spending money untuk membeli miras dan dugem?? Sudah jadi rahasia umum asrama mahasiswa Dayak adalah tempat mahasiswa yang lama lulus dan sering minum-minum.

Padahal mereka inilah nantinya yang diharapkan untuk membangun Kalimantan dan Bangsa Dayak. Penulis juga bukanlah orang yang benar, tetapi mari folks muda Dayak jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan untuk mengenyam pendidikan di luar pulau Kalimantan. Belajarlah dengan giat dan ingat dipundak kita ini masih ada Pulau Kalimantan dan Bangsa Dayak yang harus kita bangun. Jangan sampai Tempun petat mananan sare – Yang punya tanah tapi hanya menanam di pinggirnya saja. Semangat Enggang muda! Kiwww

Surabaya

11/Feb/2014

Iklan