Misteri Hilangnya Rajah Tubuh Dayak Ngaju


Misteri Hilangnya Rajah Tubuh Dayak Ngaju

Oleh: Malahoi Desaku

Saya tertarik untuk mencari penyebab hilangnya Rajah Tubuh (Tatto) karena pertanyaan saya sendiri “mengapa kakek tidak berajah tubuh (Tatto)”, sedangkan apabila kita melihat di tempat lain (Kaltim maupun Kalbar) masih ada kaum tua dahulu yang memiliki Rajah tempo dulu. Untuk bisa menjawab pertanyaan saya tersebut saya tidak bisa langsung bertanya begitu saja, sebab adalah sesuatu hal yang tabu membicarakan tersebut bagi kaum tua. Maka untuk mengakali hal tersebut saya memiliki cara tersendiri, yaitu bertanya “JEREH (sisilah)”, yang secara tidak langsung membawa kita mengetahui cerita sejarah yang tersembunyi tempo dulu.

Zaman dahulu sebelum terjadinya Perjanjian Tumbang Anoi (perkiraan waktu terjadinya Rajah Tubuh mulai tidak digunakan) atau saya sebut masa Peralihan, adalah biasa bagi seseorang memiliki Rajah, bahkan diwajibkan bagi anak tertua laki-laki memiliki Rajah tubuh yang membuktikan mereka telah memenuhi hajat mamuei (janji/sumpah) yang di berikan orang tua kampung (biasanya dalam betuk harus mendapatkan kepala sebanyak yang telah di tentukan dan waktu yang telah di tentukan juga), apabila tidak dapat memenuhi hajat mamuei tersebut maka sang anak tidak dapat kembali ke kampung asalnya.

Rapat Damai Tumbang Anoi

Rapat Damai Tumbang Anoi

Jika di lihat dari Sisilah maka Rajah Tubuh masih ada pada Masa orang tua dari Datu kita (bagi generasi kelahiran 80 ke-atas), sebab pada masa itulah masa “Peralihan” itu terjadi, dan apabila masih ada generasi berikutnya yang memiliki Rajah tersebut dapat menyebabkan Hukum Adat yang telah di sepakati bersama seluruh Kalimantan (Borneo), maka jenis dan cara mangayau mulai berubah bentuk tujuan. Apabila mangayau dahulu bersifat terbuka atau serbuan, maka pada saat itulah mangayau di lakukan secara sembunyi-sembunyi (kebanyakan berpura-pura menjadi pedagang), dan apabila berhasil, maka tanda keberhasilan tersebut tidak lagi di lakukan dengan cara Rajah Tubuh, tapi dalam bentuk lain yang di sepakati tetua kampung (biasa berupa tatah mandau maupun rambut korban yang di jadikan bagian mandau).
Adapun alasan yang menyebabkan wilayah lainnya masih mengunakan Rajah tubuh di sebabkan (hal ini menurut pendapat/analisa pribadi saya):

  1. Jarak yang jauh antara Tempat terjadinya Kesepakatan Bersama dengan asal kampung
  2. Lamanya mengumpulkan atau menunggu kaum laki-laki yang berangkat (telah/terlanjur) mamuei saat berlangsungnya kesepakatan.
  3. Sulitnya hasil keputusan kesepakatan untuk di terima oleh Individu dalam kampung (adanya pro dan kontra), yang berarti mengubah tata cara adat ritual dan kepercayaan yang selama ini di anut.

Demikian sedikit tulisan saya, semoga dapat menjawab pertanyaan kita selama ini (tulisan di atas tidak terpaku kepada sejarah setelah Kemerdekaan Indonesia namun Sebelum Kemerdekaan).

Tabe

Iklan