ASAL USUL RUMAH KAYU – LEGENDA DAYAK BENUAQ


ASAL USUL RUMAH KAYU – LEGENDA DAYAK BENUAQ

Oleh: Kakaah Pahiiq

Lamin

Lamin

Saya meriwayatkan pula Raja Kilip, yang tinggal di daerah Renayas, daerah tanah tandus tidak ada tumbuh-tumbuhan. Suatu hari timbullah pemikirannya untuk pergi  mencari bibit kayu ke wilayah dunia atas langit. Raja Kilip berjalan membawa satu tabung pasak. Setelah berjalan sehari penuh, pada saat matahari terbenam sampailah dia di bawah sebatang pohon besar bernama putakng kayutn tangiiq. Setelah subuh terdengar suara kokok burung raksasa di dahan besar paling bawah. Kokok tersebut berbunyi: “Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke Dusutn Tana Tamui.” Kemudian terdengar kokok burung raksasa pada dahan yang lebih tinggi sebagai berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang bertamu ke negeri Cina pembuat garam.” Selanjutnya pada dahan berikutnya terdengar kokok sebagai berikut:” Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya akan terbang menuju Sanikng Bentiatn, Rabukng Rasaau Koakng Ketapm, Jonyokng Ariq Koakng Jangaang.” Kemudian berkokoklah burung raksasa yang terbesar di puncak pohon sebagai berikut:”Koko leaq leo, kalau hari sudah pagi, saya aka n terbang ke Lopiq Liputn Jalaq Tunaq, pergi menerkam kerbau lading emas (Kerewau ladikng bulau), peliharaan Tuan Taruntaaq.” Kilip lalu berseru:” Saya ikut kakek.” Jawab burung raksasa tersebut: “Ya boleh. Engkau memasang pasak di pohon ini untuk naik ke atas, dan buat palang tempat duduk di taji saya.” Raja Kilip lalu menanam pasak di batang pohon putakng kayun tangiq lalu memanjat. Sesampai di atas, Raja Kilip membuat palang untuk duduk lalu setelah selesai, maka dia mengikat badannya dengan tali dari pohon terap di kaki raksasa tersebut. Raksasa kemudian terbang dengan suara gemuruh dan setelah sekian lama terbang akhirnya masuk kepintu langit lalu terjun di simpang Delapan. Di sana raksasa meninggalkan Raja Kilip dan berjanji delapan hari kemudian akan bertemu di tempat yang sama untuk pulang. Kemudian Raja Kilip berjalan dari Simpang Delapan dan setelah berjalan sekian lama, sampailah dia di pancuran pemandian. Kilip lalu tinggal di pancuran pemandian. Seseorang pergi mandi ke pancuran dan melihat kilip lalu menyapa:”Mengapa engkau tinggal di pancuran, silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja Kilip Dalam hati:”Oh, ini namanya pancuran pemandian, baru saya tahu.” Kemudian Raja Kilip naik dan tinggal di tempat pegangan (serntenaan) di tengah jalan menuju lamin. Datanglah seorang gadis pergi mandi, lalu menyapa:”Mengapa engkau tinggal di tengah jalan di tempat pegangan, silahkan terus naik ke lamin.” Kata Kilip dalam hati:” Oh, ini yang namanya pegangan (serentenan), baru saya tahu.”

Kemudian Raja Kilip naik lagi dan tinggal di ujung serentenan. Lalu datanglah seorang anak gadis yang lain pergi mandi dan menyapa :” Mengapa engkau tinggal diujung pegangan (serentenan), silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja Kilip dalam hati:” Oh, ini yang namanya ujung pegangan (serentenan).” Kemudian Raja Kilip berjalan mendaki sampai ke lamin lalu duduk di pinggir kandang babi. Ketika seorang gadis pergi memberi makan babi, maka dilihatnya Raja Kilip duduk lalu dian menyapa:”Mengapa engkau duduk dipinggir kandang babi, silahkan terus naik ke lamin.” Kata Raja Kilip dalam hati:” Oh, benda ini namanya kandang babi, baru sekarang saya tahu.”  Kemudian dia pindah ke pangkal tiang di bawah tempat ayam bertelur (bowoot). Datanglah seorang perempuan tua pergi mengurung ayam, lalu menyapa Raja Kilip:” Mengapa engkau tinggal di pangkal tiang dan di bawah tempat ayam bertelur, di situ banyak kutu ayam, silahkan naik ke lamin.” Kata Kilip dalam hati:” Oh, baru tahu saya kalau benda tersebut namanya tiang (ori) dan tempat ayam bertelur (bowoot).” Kemudian Raja Kilip beranjak dan tinggal di halaman lamin, maka datanglah anak-anak mau bermain lalu menyapa:” Mengapa engkau tinggal di halaman lamin, nanti digigit nyamuk dan agas, silahkan naik ke lamin.”  “Oh, baru tahu saya ini yang bernama halaman,” kata Raja Kilip dalam hati. Lalu dia naik tangga lamin dan tinggal di pelataran. Lalu orang lewat dan menyapa:” Mengapa Engkau tinggal di pelataran, silahkan terus masuk ke dalam lamin.” “Oh, ini namanya pelataran (ketetalaaq), “ kata Raja Kilip dalam hati. Raja Kilip kemudian masuk ke dalam ruangan lamin,  lalu disambut oleh Nayuq Bentaraq Tuhaaq, dipersilahkan duduk di atas tikar besar (bahaau), mereka lalu menyirih. Kemudian tuan rumah menghidangkan makanan untuk Raja Kilip. Setelah makan, maka Raja Kilip mulai bercerita mkasud dan tujuan kedatangannya kepada nayuq Bentaraq Tuhaaq. Maksud dan tujuannya ke dunia atas langit dan bertemu Nayuq Bentaraq Tuhaaq kemudian menyuruh membuat delapan buah keranjang untuk tempat segala macam biji-bijan tumbuhan yang ada di negeri atas langit. Setelah 8 keranjang penuh, nayuq Bentaraa1q Tuhaaq berkata kepada Raja Kilip: “ Engkau tidak usah membawa semua biji-bijian ini ke bawah sana, tetapi hampurlah biji-bijian ini dari pintu langit, maka lahan gundul akan segera ditumbuhi oleh segala jenis tumbuh-tumbuhan besar kecil, pohon, rotan, sulur-suluran dan paku-pakuan. Kalau engkau mau belajar membuat rumah, janganlah meniru rumah kami karena rumah kami dari batu, tetapi tirulah rumah Demung Mentelaus yang berada di depan lamin, karena dia membuat rumah dari kayu, dinding kulit kayu, lantai bambu, memakai ikat dari rotan dan atap dari papan”. Raja Kilip lalu belajar membuat rumah kepada Demung Mentelaus. Setelah delapan hari, maka Raja Kilip pamit pulang sama nayuq Bentaraq Tuhaq dan berjalan sampai ke Simpang Delapan. Lalu datanglah burung raksasa.  Raja Kilip kemudian membuat palang dan mengikat semua keranjang dan badannya pada kaki raksasa. Raksasa kemudian terbang dengan kepak sayap yang bergemuruh. Ketika melewati pintu langit, Raja Kilip lalu membuang semua keranjang biji-bijian tersebut, sehingga semua biji-bijian jatuh berhamburan ke bawah dan segera tumbuh menjadi berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Setelah sampai ke bawah Raja Kilip melihat tanah Tenukng Renayaas yang sebelumnya tandus dan gersang telah menjadi hutan rimba belantara yang dipenuhi oleh berbagai jenis tumbuhan.

Itulah asal usul segala macam tumbuhan, agar semua diketahui asal usulnya. Dan asal usul manusia bisa bikin rumah dari kayu meniru rumah Demung Mentelaus. Cerita asal usuh kayu dan rumah. Sudah selesai, sudah tuntas, diceritakan sesuai apa adanya. Agar kami mulai saat ini hidup subur makmur damai sejahtera serba berkecukupan dan dijauhkan dari sakit penyakit dan marabahaya serta kesialan.

Tabe

Iklan