CERITA SANGUMANG MEMASANG BUWU


CERITA SANGUMANG MEMASANG BUWU

Oleh: Rocky Triasa Putra Naga

BUWU

BUWU

Sudah lama Sangumang memelihara seekor palanduk (kancil), itu didapatnya dari memasang jerat. Namun kali ini palanduk itu tidak dibunuhnya seperti biasa untuk dimakan, ini disebabkan Sangumang dan ibunya sudah bosan makan daging. Palanduk piaraan Sangumang itu sudah seperti anjing saja layaknya, ia sangat mengerti apa yang dikatakan, diajarkan dan diperintahkan Sangumang kepadanya.
Suatu ketika Sangumang berkata pada ibunya : “Lama kita tidak makan ikan ibu. Sebab itu aku akan mencoba membuat buwu (lukah, pengalau, alat penangkap ikan). Nanti kami berdua palanduk akan memasangnya di sungai di hulu sana”. Ada sebanyak lima buah buwu yang dibuat Sangumang. Setelah sudah Sangumang berkata pada ibunya : “Selesai buwu yang kubuat ibu, besok sore akan kupasang. Alangkah nikmatnya nanti, sudah lama kita tidak mengenyam enaknya ikan sungai yang dibakar”.
Esok harinya Sangumang memberi makan palanduknya sekenyang-kenyangnya. Sebelum mereka berangkat ibunya berpesan : “Hati-hatilah Sangumang jika kau memasang buwu di sungai di hulu itu, karena ibu mendengar kabar tempat itu banyak hantunya. Malah hantu ini suka makan daging manusia”. Sangumang dan palanduknya pun berangkat memasang buwu. Sudah terpasang buwu itu, satu menghadap ke hulu dan satu menghadap ke hilir.
Sangumang lalu berpesan pada palanduknya : “Jika nanti ada suara yang memanggil-manggil kaulah yang menjawabnya ! Aku akan bersembunyi di dahan pohon kayu yang rimbun, sebab bila aku terlihat hantu-hantu itu pasti aku dimakannya”. “Jika suara itu memanggil dari arah hulu kau pergi ke hilir untuk menjawabnya. Dan jika dari arah hilir cepat kau ke hulu dan menjawabnya dari sana”, demikian lebih lanjut Sangumang mengajari palanduknya cara untuk menjawab panggilan hantu itu. Setelah itu Sangumang pun bersembunyi.
Malam itu tidak ada bulan suasana sangat gelap. Tiba-tiba terdengar suara : “Wah enaknya, ada bau manusia”. Hantu-hantu itu sibuk mencari, tapi tidak dapat menemukan Sangumang. Sangumang yang berada di atas pohon bersembunyi gemetar ketakutan. “Benarlah yang dikatakan ibu”, pikirnya dalam hati.
“Hei, di mana kau ?” hantu-hantu itu serempak bertanya ketika berada di hulu.
“Huk .. huk”, sahut palanduk di hilir. Hantu-hantu itu bergegas ke hilir dan tidak menemukan apa-apa.
“Hei, di mana kau ?” hantu-hantu itu serempak bertanya dari arah hilir.
“Huk .. huk”, sahut palanduk di hulu. Hantu-hantu itu bergegas ke hulu tetapi tidak menemukan apa-apa.
Demikian hal itu berlangsung bolak-balik hingga hari pun siang. Hantu-hantu itu pulang dengan tangan hampa. Sangumang lalu turun dari tempat persembunyiannya. Ternyata kedua buwunya penuh sesak dengan ikan. Ia pun pulang membawa perolehannya yang banyak itu.

Palanduk

Palanduk

Ikan-ikan itu disiangi dan kebanyakan dibuat wadi (asinan) serta ikan kering. Sisanya digulai, dibakar dan digoreng. Bau dari semua masakan ikan itu mengudara dan tercium sampai ke rumah pamannya Marajahaji.
“Wah, tidak salah lagi ! Bau masakan enak yang menitikkan air liurku ini pastilah berasal dari rumah Sangumang. Apa gerangan yang dimasaknya itu ? Ayah akan ke sana melihatnya”, kata Marajahaji pada anak isterinya. Anak isterinya melarangnya pergi ke rumah Sangumang karena bikin malu saja ngiler (tergiur) pada makanan orang lain. Marajahaji tidak peduli, ia tetap pergi.
“Oi Sangumang ! Adakah engkau di rumah ?” teriak Marajahaji.
“Ada saya di rumah paman”, sahut Sangumang.
“Sangumang terlalu sangat enak bau masakanmu, hingga mengundang paman datang menemuimu”, kata Marajahaji lagi.
“Masuklah dahulu paman”, kata Sangumang dengan ramahnya.
“Apa yang sudah kau peroleh Sangumang ? Badak ? Kerbau ?” tanya Marajahaji sambil masuk ke rumah Sangumang.
“Wah, jangan macam-macam paman”, kata Sangumang, “Makanlah dulu paman. Silahkan kau pilih ikan dan masakan yang mana”.
Sangumang mengeluarkan semua makanan yang ada di rak makanan, lalu dihidangkannya. Tapi pamannya Maharaja terus saja ke dapur dan terlihat olehnya ikan yang sedang dipanggang.
“Nah, itulah yang kuinginkan Sangumang”, katanya sambil menunjuk ikan yang sedang dipanggang itu.
Setelah ikan yang dipanggang itu cukup masak Marajahaji pun makanlah dengan lahapnya.
“Jangan malu-malu paman, makanlah sekenyangnya”, kata Sangumang.
Beberapa saat kemudian Marajahaji berdiri seraya katanya : “Kenyang aku makan Sangumang. Tapi bagaimana caramu memperoleh ikan sebanyak ini ?”
“Eh, anu. Begini paman, kalau tidak kuberitahukan kau anggap aku culas padamu. Kalau kuberitahukan, kau pasti ingin pula melakukannya. Tetapi ulahmu nanti paman aneh-aneh saja dan malah membahayakan dirimu”, jawab Sangumang terbata-bata. Untuk tidak memberitahukannya Sangumang takut katulahan (kualat, durhaka) jika ia berdusta pada pamannya itu.
Begini paman, saya ada memelihara palanduk …….… “, kata Sangumang memulai keterangannya pada pamannya Marajahaji.
“Mana palanduknya ? Mengapa tidak disembelih saja untuk dimakan ?” kata Marajahaji.
“Saya lanjutkan dulu paman agar jelas. Saya membuat buwu yang saya pasang di sungai di hulu kampung kita ini. Walaupun ibu melarang saya karena di sana banyak hantunya, saya tetap pergi bersama palanduk saya”, kata Sangumang dan ia pun lebih jauh menjelaskan bagaimana caranya menangkap ikan itu.
“Kalau begitu Sangumang, pinjami aku buwu dan palandukmu itu. Aku ingin menangkap ikan di tempat yang telah kau lakukan itu”, kata Marajahaji.
“Aduh, bagaimana paman. Soalnya engkau sering bertindak di luar kebiasaan dan sering membahayakan dirimu paman. Aku ragu meminjamimu paman”, kata Sangumang.
“Jangan kau meragukanku, aku akan berhati-hati. Aku sudah tua, sudah lebih dahulu darimu melihat matahari, sudah banyak makan asam garam”, kata Marajahaji lagi.
“Kalau begitu katamu paman, mana berani aku akan menolaknya”, kata Sangumang sambil memberi pamannya itu beberapa ekor ikan.
Marajahaji pulang ke rumahnya dengan senang hatinya. Dua buah buwu dipanggulnya di bahunya, keranjang berisi ikan terkait di pinggangnya dan palanduk milik Sangumang berjalan mengikutinya.
“Nah masaklah ikan ini untuk kalian, aku sudah makan kenyang di rumah Sangumang tadi”, kata Marajahaji pada anak isterinya. Setelah mengikat palanduk itu Marajahaji lalu pergi tidur, ia merasa perlu beristirahat karena esok hari ia akan memasang buwu seperti yang dilakukan Sangumang,Esoknya tengah hari, Marajahaji dan palanduk berangkat menuju ke sungai di hulu kampung. Setelah memasang buwu di hulu dan di hilir sungai itu seperti yang dilakukan Sangumang, Marajahaji lalu memerintah palanduk : “Kau harus menjawab jika ada suara memanggil-manggil. Awas kalau kau tak melakukannya. Aku akan bersembunyi”.
Sore berganti malam suasana gelap gulita. Tidak lama kemudian terdengar suara : “Hei, ada bau manusia. Mari kita cari”. Hantu-hantu itu gentayangan ke hulu dan ke hilir, namun tidak menemukan apa-apa.
“Oi, siapa kalian yang ke sini tadi ? Di mana kalian ? Siapakah yang punya buwu ini ?” Beruntun pertanyaan hantu-hantu itu, namun tidak ada jawaban sama sekali. Marajahaji sangat gelisah, kemana gerangan palanduk, mengapa ia tidak menjawab sama sekali.
Hantu-hantu itu bergerak ke hulu memanggil, sunyi tiada jawaban. Kemudian mereka bergerak ke hilir memanggil, tetap tidak ada jawaban. Marajahaji gelisah sebab palanduk yang tidak menjawab itu. Ia meludah saking jengkelnya dan ludahnya mengenai salah seorang hantu itu.
“Hei ! Manusia itu ada di atas sana !” seru hantu-hantu itu. Mereka lalu menaiki pohon itu beramai-ramai dan ketika menemukan Marajahaji, mereka lalu menggelitikinya sampai jatuh ke tanah. Ketika sudah di tanah gelitikan itu terus berlangsung, hingga Marajahaji dari tertawa lalu menangis hingga jatuh pingsan. Tapi hari keburu siang, hantu-hantu itu berlalu pergi entah ke mana.
Setelah siuman dari pingsannya, Marajahaji mengangkat buwu yang dipasangnya. Isinya kosong tiada seekor pun ikan ada di dalamnya. Saking jengkelnya buwu itu dicencangnya sampai hancur dengan mandaunya.
Ketika palanduk piaraan Sangumang datang mendekat, ia pun mengalami nasib yang sama dengan buwu. Palanduk itu dipotong-potongnya, dikuliti dan bagian yang tidak dapat dimakan dibuang.
“Itulah upahnya bagi buwu yang tidak menghasilkan serta palanduk yang tidak menjalankan perintah. Aku tidak akan pernah ke tempat ini lagi, lebih baik mati daripada digelitik seperti tadi malam”, omel Marajahaji seraya mengemasi daging palanduk Sangumang yang dibunuhnya untuk dibawa pulang.
Tanpa menanyakan dari mana ayahnya memperoleh, daging palanduk itu lalu dimasak. Mereka sekeluarga dengan lahap memakannya. Tulangnya terlempar ke sana ke mari menjadi makanan anjing. Tetapi tanpa mereka ketahui sepotong tulang kaki tersangkut di antara papan dapur.
Kembali pada Sangumang, ia jadi bingung sebab sudah beberapa hari ini pamannya Marajahaji belum juga mengembalikan buwu dan palanduknya. Ia pun lalu pergi ke rumah pamannya itu. Masih di halaman ia sudah berteriak-teriak : “Oo paman ! Adakah engkau di rumah ? Mana palandukku ?”
“Naiklah dahulu. Aku ada di rumah”, sahut pamannya Marajahaji.
“Mana palandukku paman ? Apakah sudah kau bunuh ?“ tanya Sangumang.
“Ah, jangan dipikirkan lagi. Kuakui aku telah membunuhnya, buat apa memelihara binatang seperti itu yang tiada gunanya dan hampir membuatku terbunuh”, jawab Marajahaji lalu menceriterakan apa yang dialaminya beberapa hari yang lalu waktu memasang buwu itu.
“Apa yang kuduga tentang perbuatan paman semua benar. Palanduk itu milikku, aku memeliharanya hingga tentu saja ia berguna bagiku. Ia menuruti semua yang kuperintah. Pada orang lain ia tak mau menurut”, kata Sangumang.
“Terserah padamu, tapi aku akan bertanggungjawab”, kata Marajahaji.
“Ia binatang kesayanganku paman, kalau boleh adakah tulangnya sekalipun tertinggal untukku ?” kata Sangumang lagi.
Sangumang terus berjalan ke dapur dan terlihat olehnya tulang kaki palanduknya terjepit di lantai papan dapur. Tulang itu lalu diambilnya sambil menangis berjalan pulang. Sampai di rumah tulang itu dipotongnya tipis-tipis lalu dibuatnya menjadi sisir. Jika ada undangan kenduri atau pesta, Sangumang menyisir rambutnya di depan cermin. Ia terlihat semakin tampan saja. Nampaknya pertautan kasih sayang antara Sangumang dan piaraannya itu sangat erat, walaupun palanduknya hanya tinggal tulang berupa sisir.
“Ibu, aku mau menuntut harga palandukku itu”, kata Sangumang pada suatu hari kepada ibunya.
“Ah sudahlah. Biarlah semuanya berlalu, tidak usah diperhitungkan lagi. Dia kan pamanmu juga. Maafkan saja”, kata ibunya.
“Itulah ibu, aku menuntut agar palandukku itu dihidupkannya kembali. Jika tidak bisa kuceritakan halnya pada orang sekampung. Aku minta dibayar dengan anaknya, adikku si Putir Busu (Puteri Bungsu) harus jadi isteriku”, kata Sangumang.
“Biarlah aku yang menghadapi pamanmu itu”, kata ibunya.
“Terima kasih ibu semoga kau berhasil meyakinkan paman bahwa ia harus bertanggungjawab dan akibat pada dirinya bila ingkar”, kata Sangumang.
Ibu Sangumang pergi mendapatkan adik iparnya Marajahaji. Ia lalu mengutarakan maksud kedatangannya serta menyampaikan tindakan apa yang akan diambil Sangumang bilamana ia ditolak.
Marajahaji tidak bisa mengelak lagi. Ia sebagai orang yang terpandang di kampung itu, tidak ingin dipermalukan. Ia harus bertanggungjawab terhadap binatang piaraan kesayangan Sangumang, yang harus dibayarnya dengan anak kesayangannya. Sangumang dan Putir Busu hidup berbahagia.

Tabe

Iklan