Adat Besepie’ (Bersunat) Dayak Ketungau Sesat . Kalimantan Barat


Adat Besepie’ (Bersunat) Dayak Ketungau Sesat . Kalimantan Barat

Oleh: Boby Arya Anggen-Umar

Sunat

Pada sebagian sub suku Dayak, mengenal yang namanya bersunat. Bersunat bagi sebagian Masyarakat Dayak bukan hanya untuk kesehatan, tapi juga merupakan Adat yg mempunyai ritual tertentu.

Pada masyarakat Dayak Ketungau Sesat di Sekadau (Kalimantan Barat), jaman dulu jika seseorang belum Besepie’ (bersunat) maka ia tidak boleh menduduki jabatan dalam masyarakat, sulit dapat jodoh bahkan hidupnya dikucilkan. Pada masa kini menurut kepercayaan mereka orang yg tidak Besepie’ tidak mempunyai harga diri dan dianggap belum dewasa.

Besepie’ biasanya dilakukan jika anak lelaki berumur 10-15 tahun. Besepie’ dipimpin oleh seorang Manangg Sepie’ (pemimpin upacara adat Besepie’). Dan memasang sepie’ biasanya dilakukan pagi hari.

 

Tata Cara Upacara adat Besepie’ (Bersunat) di Dayak Ketungau Sesat, Kalimantan Barat :

  1. Upacara biasa di awali dengan menggigit besi pihak yang di Sepie’ (yang disunat) sambil berkata “kerieng-kerieng besi tuk, kerieng-kerieng gak sungaekku” artinya : Keras-keras besi ini , keras-keras juga jiwaku. Manang (Pemimpin upacara Adat) pun berucap “ kerieng-kerieng besi tuk, kerieng gak sungaek aku, kering gak sungaek si ….. aku sepie “ artinya : keras-keras besi ini keras juga jiwaku, keras juga jiwa …. (nama orang disunat) yang aku sunatkan.
  2. Kemudian Manang , mengibas-ngibaskan ayam jago ke atas yang mau disunat (disebut Berebu), yang artinya manang menerangkan kepada penguasa alam dan orang-orang yg hadir bahwa akan ada lelaki yang melepas masa anak-anaknya dengan Besepie’. Kemudian Ayam Jago itu disembelih dan darahnya di oleskan di dahi anak yang akan disunat.
  3. Setelah itu Nyepie’ dilakukan. Seseorang yang akan disepie’ harus mengenakan sarung. diperlukan dua orang untuk memasang sepie’ (sepit) yang biasanya dibuat dari Bambu atau Belian (dikenal juga dengan nama Kayu Besi/Ulin). Seorang membukakan ujung kulit , seorang memasang sepie’. Anak yg akan disepie’ merendam batang zakarnya 2-3 jam. Tujuannya biar lembut dan tidak terlalu sakit.
  4. Kemudian mereka (biasanya lebih dari 1 org yg di sepit) dibawa ke sungai untuk berendam dan ditunggui sampai Manang selesai menyiapkan Belanya’ (bahan sajian). Sepulang berendam, orang yang di sepie’ makan bersama.Belanya’ tidak boleh dibawa pulang.
  5. Adat Sepit dilakukan dengan Menara’ (memberi sesajian dan memohon). Biasanya sesajian dilengkapi dengan nasi ketan, hati ayam, nasi putih. Dicampur dengan tuak dan dicurahkan ke batu asahan.
  6. Setelah itu dilanjutkan dengan Ngantung Ancak dan Ngante’ Tejuk. Ancak digantungkan di atas pintu masuk , khusus untuk roh-roh. Sedangkan Tejuk adalah sesajian dalam tempurung kelapa yang diberikan khusus pada anggota keluarga yang telah meninggal. Tejuk biasa diletakkan diatas tunggul pada ujung kampung.

Pantangan dalam adat Besepie’ adalah pada saat disepit perempuan yang belum menikah dilarang melihat orang memasang sepit. Dan bagi yang Besepie’ dilarang makan-makanan yang berlemak. Masa Besepie’ usai jika ujung kulit batang zakar telah putus dan terbelah dua.Menurut kepercayaan Dayak Ketungau Sesat, Sepit harus dibuang dengan tangan kiri. jika Sepit dibuang jauh, maka yang bersangkutan akan mendapatkan jodoh orang jauh. Dan jika dekat akan mendapat jodoh di sekitar Kampung.

Menurut Bapak Hermanto Djuleng , Tradisi bersunat terdapat/dikenal juga pada Dayak Banyuke, yang disebut Babalak. Pada Dayak Banyuke , Gawai Dayak yang paling ramai dan menghabiskan biaya yang besar adalah Gawai Babalak (Bersunat)  ini. Karena jika Gawai Panen hanya mengundang satu atau dua kampung yang terdekat, maka jika melakukan Adat Babalak (Bersunat) harus dan wajib untuk mengundang seluruh kampung yang Ada dan kenal dengan orang tua pihak yang di sunat. Mungkin akan saya tulis dilain kesempatan.

 

-Sekian

 

Sumber :

Tradisi Lisan

Damianus Siok

Hermanto Djuleng

Boby Arya

Iklan