TATTOO BIAJU – Dari Buku H. Ling Roth (Natives of Serawak)


TATTOO BIAJU – Dari Buku H. Ling Roth (Natives of Serawak)

Tattoo Dayak Ngaju

Tattoo Dayak Ngaju

Berikut ini merupakan rangkuman tulisn Mr. C.Van Den Hammer mengenai tattoo Biaju. Perbedaan pola-pola kurang lebih jika di satukan akan memiliki design yang sama. Beberap hanya memiliki pola BUNTER / bulat di bagian betis kaki, sebagian lagi memiliki pola MANUK / ayam pada bagian lengan, dst. Orang-orang biaju dibagian pesisir sudah meninggalkan budaya tattoo tetapi orang-orang Ot Danum dan yang ada dibagian hulu masih mempraktekan hal itu. Anak laki-lakinya ditato ketika mereka mulai menggunakan EWAH/ cawat dan tidak ada upacara ataupun ritus puasa sebelum melakukan pentattoan itu. Sang pembuat tattoo menggunakan alat yang terbuat dari kuningan dengan bagian yang bengkok dan sebuah kayu kecil yang ringan untuk mentapingnya.

Pola tattoo akan digambar menggunakan jelaga damar dan debu emas, sang anak akan berbaring sambil merintih kesakitan karena pendarahan dari proses pentattoan tersebut, secara terus menerus dibubuhi jelaga dan air dan darah yang keluar akan dihapus menggunakan kulit kayu. Untuk menyembuhkan luka maka bagian yang berdarah tadi akan dibubuhi garam, sehingga bagian luka akan berubah warna menjadi keputih-putihan seperti kurap dan kemudian menjadi warna biru tua dan kemudian menjadi warna yang permanen.

Tattoo Dayak Ngaju

Tattoo Dayak Ngaju

Pola pertama BUNTER dibuatkan pada bagian betis, berbentuk bulat dengan jari-jari 5 cm dengan pola kotak-kotak didalamnya  – mirip seperti potongan-potongan plaster. Kemudian dibagian lengan dibuat lima pola MANUK/ayam, dua dibagian dalam dan tiga dibagian luar berbentuk sebuah garis spiral dengan sedikit garis lengkung; dari bagian permulaan garis spiral mengembang keluar. Bentuk umum pola MANUK berbentuk sebuah sayap. Pola terkecil berada pada bagian belakang pergelangan tangan. Untuk mengurangi rasa sakit pada proses pembuatan tattoo mereka membuatnya pada sisi sebaliknya. Dari pergelangan tangan ke separoh lengan, 2 garis pararel dibuat dengan bentuk belah ketupat diantaranya dengan sebuah titik tepat ditengahnya. Mirip seperti barisan kancing. Disana juga terdapat design SALA PIMPING diantara MANUK. Pada bagian pergelangan tangan terdapa pola MATAN PUNEI DUHIN BAMBANG  yang bertemu pada bagian tenggorokan. Motive TURUS USUK (Garis Dada) mengalir dalam tiga garis pararel dari bagian pusar kearah. Pada kedua sisi garis-garis ini berjumlah 29  (RIUNG), pada bagian luar terdapat dua garis, TURUS TAKULUK NAGA, mengalir dari bagian pusar ke bagian putting. Pada kedua bagian dada terdapat motive NAGA dengan kepalanya digambarkan rahangnya menganga lengkap denga gigi & lidah, tanpa mata dan saling berhadapan satu dengan lainnya. Motive ini biasanya berkembang menyerupai PALAS, sejenis semak belukar. Motive MANUK USUK dibuatkan pada bagian otot leher; mirip seperti SAMBAN – sejenis hiasan dada yang biasa dipakai oleh pemuda dipedalaman pada sebuah tali disekeliling leher. Bagian puting susu diberikan motive melingkar disebut TAMBULING TUSU. Sedangkan motive BATANG RAWANG berupa garis-garis yang mengalir dari bagian cawat, sejajar dengan TURUS TAKULUK NAGA kebagian sendi bahu, dimana mereka menggabungkan motive daun dan sayap – DAWEN DAHA (bagian bahu). Pola ini kemudian menghiasi bagian atas lengan. Terdapat Sembilan garis dan 22 bunga. Pola BUWUK SAPUI seperti ikatan leher yang pendek yang memiliki dua pengembangan yaotu MATAN PUNEI dan DUHIN BAMBANG. Dua garis RAMPAI BAHA mengalir dari bagian tengkuk ke arah rambut. Dikatakan juga pola garis ini berbalik dari bagian belakang telinga, mengalir ke atas pelipis dan berhenti dengan pola melenting pada bagian pipi.  Pada bagian tulang belakang terdapat lima garis pararel dengan motive BATANG GARING mirip seperti TURUS USUK. Pada bagian pundak digambarkan pola garis-garis, garis silang dan bunga yang mengantung kebawah dari bagian leher seperti rumbai-rumbai. Terdapat enam MANUK pada bagian atas belakang.

Lukisan peniliti Belanda yang datang ke Kalimantan Tengah pada abad ke-18

Lukisan peniliti Belanda yang datang ke Kalimantan Tengah pada abad ke-18

Seorang kakek tua dari Sungai Manuhing, memiliki pola zig-zag pada bagian panggulnya disebut motive PENYANG. Pada bagian belakang tangannya terdapat lima macam pola seperti; pola S silang dengan empat garis putus-putus pada bagian titik temunya, kemudia pola burung wallet, lalu pola salib, dll. Beberapa tidak memiliki tattto sama sekali di tangannya. Untuk para wanita Ot Danum memiliki pola dua garis pararel dengan garis silang ditenganya, pada bagian paha mereka memiliki pola seperti SAMBAS; dari tattto BUNTER pada bagian betis ke bagian tumit terdapat garis-garis berduri disebut UKUH BAJANG – pada bagian kaki kanan disebut BARAREK dan bagian kaki kiri sebut DANDU CACAH. Kesatrian yang gagah berani akan memiliki tattoo seperti DANDU CACAH pada bagian sendi siku disebut SARAPANG MATAN ANDAU.

Menurut kepercayaan orang Biaju, tattoo menggantikan pakain dan akan berubah menjadi emas ketiak berada di dalam Surga atau LEWU TATAU. Berikut ini kira-kira biaya pembuatan tattoo pada masa itu – Motive BUNTER 25 cent; TUKUNG LANGIT pada bagian tangan 10 cent; TURUS USUK 1 gulden; Motive 2 NAGA 2 gulden; MANUK USUK 2 gulden; DAWEN DAHA pada kedua bagian pergelangan tangan 4 gulden; Bagian leher 1 gulden. Saya tidak tahu biaya untuk motive yang lainnya.

Diceritakan dalam cerita epic Sangiang bahwa TEMPUN TELUN pada zaman dahulu melakukan perjalanan mengelilingi dunia  dan ia membiarkan dirinya ditattoo di setiap tempat yang dikunjunginya menurut tradisi yang ada ditempat/Negara yang didatanginya. TEMPUN artinya tuan dan Telun adalah nama budaknya jadi TEMPUN TELUN berarti Tuan dari Telun.

Pembuatan tattoo biasanya dilakukan semenjak usia dini, motive awal biasanya pada bagian betis, lengan dan dada. Semakin bertambahnya usia sang anak, pembuatan tattoo berlanjut dan dibuat pada hampir semua bagian tubuh, sehingga sebagian laki-laki akan memiliki tattoo yang sepenuhnya menutupi tubuhnya dari bagian dagu hingga kaki dengan pola garis-garis dan gambaran lain yang menyerupai rangkaian bunga-bunga, sedangkan wanitanya tidak di tattoo.

Menurut Mr. Bock, diantara Suku Modang pemberian tattoo hanya khusu bagi wanita yang sudah menikah. Sedangkan Dayak Tunjung tidak mentattoo sebagai suatu keharusan/kebiasaan, hanya ada  pada bagian lengannya.

Motive lengan Dayak Tunjung

Motive lengan Dayak Tunjung

Sedangkan pada Dayak Benuaq semua laki-lakinya ditattoo dengan tanda kecil berupa baik itu di bagian kening, lengan atau kaki.

Motive Tattoo Dayak Benuaq

Motive Tattoo Dayak Benuaq

Tattoo juga dilakukan oleh semua puak Kutai kecuali orang Long Bleh; beberap memiliki pola yang artistic. Tattoonya biasanya ada pada bagian lengan, tangan, kaki, paha, dada dan pelipis. Para wanitanya Nampak lebih maju dari pada kaum prianya dan lebih bangga menampilkan kulitnya yang halus dan Indah. Pola-pola yang rumit dibuatkan oleh orang yang professional, yang terlebih dahulu membuatkan polanya pada sebuah kayu yang kemudian menjejaki polanya pada tubuh dengan bamboo yang tajam atau jarum yang dicelupi pewarna. Pembuatan tattoo ini menyakitkan dan memerlukan waktu yang lama dan permanen. Pembuatan tattoo dilakukan pada pria ketika mereka mencapai kedewasaannya dan untuk wanita ketika mereka hendak menikah. Ada juga seorang wanita berusia 60 tahun yang tattoo di bagian pahanya terlihat lebih jelas dan terang dari pada ketika tatttonya dibuat sekitar 45 tahun yang lalu. Beda sub suku dan beda orang walaupun suku yang sama akan memiliki metode tattoo yang berbeda pula. Sebagian yang ditatto hanya bagian kening atau dada; sebagian lagi tangan dan kaki; sebagian hanya bagian paha.

Tattoo Dayak Ngaju

Tattoo Dayak Ngaju

Tabe

Bekasi 26/Feb/2014

Iklan