KEGERAKAN “ELA MAHAMEN MAHAPAN KUTAK ITAH” DI PALANGKARAYA


KEGERAKAN “ELA MAHAMEN MAHAPAN KUTAK ITAH” DI PALANGKARAYA

Folks Dayak di Palangkaraya, kali ini FoD punya suatu ide rencana kegiatan yang nantinya juga ingin bekerjasama dengan komunitas Dayak yang lain, yaitu KEGERAKAN “ELA MAHAMEN MAHAPAN KUTAK ITAH”, kegiatan ini belum ditentukan waktunya sebab movement ini tidak akan menjadi kegiatan 1-2 hari tetapi beberapa bulan. Untuk kegiatan ini akan diperlukan Folks Of Dayak yang tentunya cinta akan budayanya untuk menjadi Volunteer Bahasa Dayak. Nah dibawah ini saya tuliskan sedikit gambaran tentang latar belakang, Manfaat & Tujuannya, Bentuk Kegiatannya. Rencananya pada akhir bulan Maret ini kita akan mengadakan KOPDAR di Palangkaraya untuk saling berkenalan dan mengenal sekaligus menjaring teman-teman yang bersedian menjadi volunteer kegiatan ini. Harapan kami kegerakan kecil ini akan menjadi suatu movement dari kaum muda Dayak untuk Masyarakat Dayak sendiri. Kalau Folks tertarik  bisa kirimkan data diri atau jika punya masukan atau kritik bisa kirim ke email: komunitasdayak@gmail.com

Terimakasih Tabe..

I. Latar Belakang

Propinsi Kalimantan Tengah dibentuk bukan tanpa perjuangan bahkan harus menumpahKan darah. Propinsi ini dibentuk dan dicita-citakan oleh para pendahulu kita  sebagai sebuah “Dayak Homeland”, sebab sejarah mencatat bagaimana Suku Dayak baik pada zaman kerajaan, penjajahan Belanda bahkan era kemerdekaan dianggap sebagai suku inferior, terbelakang dan hanya tinggal dihutan, ada beberapa istilah yang mengungkapkan ini seperti; istilah Hakka untuk menyebut orang Dayak sebagai “La Chi” yang pada masa lalu bermakna “setengah manusia”, dalam bahasa Melayu, Dayak artinya “terbelakang” atau dalam bahasa Jawa “ndayak” yang artinya “urakan”. Sebagian orang bahkan menganggap Orang Dayak tidak memberikan sumbangsih dalam perjuangan kemerdekaan hanya tahu tinggal dihutan, membuat tuak dan menombak babi, padahal banyak tokoh Dayak yang terlibat aktif baik melalui perjuangan keorganisasian bahkan mengangkat senjata dan mengorbankan nyawanya demi mengusir penjajah dari bumi Kalimantan ini.

Sebab itu sudah seharusnya Kalimantan Tengah mempertahankan ciri khasnya sebagai “Dayak Homeland” dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika kita melihat propinsi Bali, kita akan melihat bagaimana kehidupan orang Bali dan budaya Bali baik itu dari segi arsitektur, kehidupan sehari-hari bahkan dalam bahasa pergaulannya, demikian juga jika kita pergi ke Pulau Jawa, maka setiap orang yang merantau ke Pulau Jawa akan mengalami bagaimana Budaya Jawa itu, bahkan hampir semua  yang merantau ke Pulau Jawa akan setidaknya mengerti Bahasa Jawa.

Ini berbanding terbalik dengan Kalimantan Tengah yang awalnya dicita-citakan sebagai “Dayak Homeland” –  propinsi yang seharusnya mengakar Budaya dan Bahasa Dayaknya, Propinsi dimana setiap orang luar yang berkunjung kesana akan melihat bagaimana kehidupan orang Dayak, bagaimana budayanya, bagaimana kesenian dan bahasanya malahan jarang kita jumpai.

Salah satu yang fundamental dalam identitas  adalah bahasa, seperti yang disinggung diatas, jika kita pergi ke Jakarta maka bahasa gaulnya adalah bahasa Betawi “Loe – Gue”, jika kita pergi ke Yogyakarta maka bahasa gaulnya adalah Bahasa Jawa atau jika kita pergi ke Padang bahasa gaulnya ialah bahasa Minang, tetapi di Palangkaraya yang adalah Ibu Kota Propinis Kalimantan Tengah banyak anak mudanya tidak bisa berbahasa Dayak lagi walupun berasal dari Bapak – Ibu Dayak. Malahan seolah-olah Bahasa Banjar lah yang menjadi bahasa gaul dan lingua fracanya.

Pada masa lalu, Bahasa Dayak Ngaju sudah dipakai sebagai bahasa pengantar hampir disemua kalangan Dayak Besar, bahkan menurut penjelasan salah seorang ahli Budaya Dayak Benuaq di Kalimantan Timur, jaman dahulu orang-orang tua Dayak Benuaq mengerti bahasa Dayak Ngaju. Itulah mengapa pada saat pertemuan Rapat Damai Tumbang Anoi tahun 1894 yang dihadiri hampir semua sub suku Dayak yang berbeda bahasa dan dialeknya, mereka dapat saling mengerti dan menghasilkan fasal-fasal hukum adat yang fenomenal bagi kemajuan Suku Dayak.

Atas dasar inilah kami dari Komunitas Folks Of Dayak ingin membuat suatu kegerakan “ELA MAHAMEN MAHAPAN KUTAK ITAH” yang artinya “JANGAN MALU MENGGUNAKAN BAHASA DAYAK”, yaitu suatu kegerakan untuk membangkitkan rasa kebanggaan akan bahasa Dayak, sehingga Bahasa Dayak akan menjadi salah satu ciri khas kota Palangkaraya. Kegerakan ini akan dicoba dibuat di Palangkaraya sebagai ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah dan jika memberikan hasil positive maka tidak menutup kemungkinan untuk membuat hal yang serupa di Kota lain di Kalimantan.

II. Tujuan & Manfaat kegiatan

Kegerakan ini bertujuan untuk membangkitkan rasa banga dengan budaya Dayak dan tidak lagi malu menggunakan bahasa Dayak dalam pergaulan, sehingga setiap keluarga Dayak diharapkan menggunakan Bahasa Dayak dalam lingkup keluarganya masing-masing dan bahasa Dayak Ngaju menjadi Bahasa Khas di Kota Palangkaraya

Output yang diharapkan dari kegiatan ini:

  1. Adanya kesadaran pentingnya melestarikan bahasa Dayak dan bangga menggunakan dalam percakapan sehari-hari
  2. Input kepada DIKNAS untuk measukan materi Bahasa, Sejara dan Budaya Dayak ke Sekolah
  3. Project pembuatan kurikulum Bahasa Dayak
  4. Menjadi event tahunan dan dilakukan didaerah lain di Kalimantan
  5. Tahapan awal untuk membentuk Kongress Pemuda Dayak

III. Target dan Sasaran

Target & sasaran utama kegiatan ini adalah kaum muda kota Palangkaraya melalui berbagai komunitasnya, Keluarga Dayak dan Instansi terkait

IV. Bentuk Kegiatan

Untuk mewujudkan kegerakan ini maka akan dibuat beberapa tahapan-tahapan kegiatan:

1. Penjaringan Volunteer Bahasa Dayak yang bertujuan akan melakukan sosialisasi dan representative orang-orang yang bangga menggunakan Bahasa Dayak. Tahapan sosialisasi akan dilakukan dengan beberapa metode:

  • Melalui Sosial Media – Para Volunteer ini akan memposting slogan-slogan bangga menggunakan bahasa Dayak melalui semua jaringan social medianya
  • Pemasangan spanduk dan banner dibeberapa titik strategis di kota palangkaraya selama 1 bulan
  • Melalui media radio, media cetak dan TV local
  • Bekerjasama dengan Gereja, Mesjid dan Pusat Kaharingan supaya setiap keluarga Dayak bangga menggunakan Bahasa Dayak
  • Terjun ke sekolah, kampus dan jalan untuk memberikan sosialisasi dan juga pembagian selebaran, pin, stiker yang bertuliskan slogan-slogan bangga menggunakan Bahasa Dayak

2. Event lomba dan pentas seni, lomba yang akan dilakukan adalah: Stand Up Comedy bahasa Dayak, Debat dalam bahasa Dayak Ngaju, Mural bertemakan bangga dengan bahasa Dayak.

3. Parade setiap komunitas Dayak

Bekasi

27/Feb/2014

Iklan