LEGENDA TIONG KANDANG – BATANG TARANG KALIMANTAN BARAT


LEGENDA TIONG KANDANG – BATANG TARANG KALIMANTAN BARAT

Bukit Tiong Kandang merupakan bukit yang sangat sakral bagi Suku Dayak yang ada di Kalimantan Barat, mengenai asal-usulnya masih sangat simpang siur, beberapa artikel mengaitkan dengan burung TIUNG atau KIONG tetapi ada juga yang mengatakan ini merupakan burung KANAGNK – Kanagnk adalah nama seeokor burung yang juga diakui banyak berada di Bukit Tiong Kandang, burung ini berukuran agak kecil berwarna hitam keputih-putihan.

Salah satu admin FOD Hery Wesley berkesempatan pergi ke bukit TIONG KANDANG ini dan mensharingkan beberapa dokumentasinya. Salah satunya sebuah batu keramat yang dikenal dengan nama batu ikan. Batu Ikan yang berada dalam Bukit Tiong Kandang menyerupai ikan paus dan letaknya berdekatan dengan baru labi-labi di Temawang Empuyuk di wilayah adat Bangkan. Memang menurut cerita ada banyak tempat keramat yang ada di Bukit TION KANDANG ini selain Batu Ikan, diantaranya ialah batu penjepit yang digunakan untuk meramal panjang pendeknya umur seseorang.

BATU IKAN

BATU IKAN

Menariknya dalam sebuah tulisan (MELINDUNGI TIONG KANDANG SEBAGAI SUMBAT DUNIA) dikatakan ada banyak cerita dari berbagai tempat keramat di dalam Bukit Tiong Kandang berasal dari seseorang atau sepasang manusia dari berbagai etnis, diantaranya Batu Ncek Kuner dari Palembang, Pedagi dari Pangeran Tanjung dan Ratu Rante yang berasal dari Kerajaan Tayan (Melayu – Dayak), dan Batu Pengasih yang berada di paling puncak, konon berasal dari sepasang kekasih dari Raja Tanah Jawa.

Salah satu legenda yang cukup dikenal mengenai Bukit TIONG KANDANG ini ada kemiripan dengan kisah Malin Kundang, berikut kisahnya: Dahulu kala ada seorang ibu yang mempunyai anak bernama Ajong Linggi. Kemudian Ajong Linggi pergi berlayar untuk mencari rejeki. Tibalah ia disuatu tempat dan disana ia menikah dengan puteri Saudagar Kaya. Di tempat istrinya tersebut ia menjadi saudagar yang kaya raya, singkat cerita dengan keberhasilannya tersebut Ajong Kinggi sampai memiliki tujuh istri.

Suatu hari Ajong Linggi mengajak ketujuh istrinya menjenguk ibunya. Setelah sampai dan melihat Ibunya ia enggan mengakui ibunya. Istri pertama yang mengenal ibunya mendesak Ajong Linggi agar mengakui Ibunya. Tapi keenam istri yang lain menghasut Ajong Linggi. Akkhirnya Ajong Linggi termakan Hasutan keenam istrinya dan tidak mau mengakui Ibunya.

Akhirnya Ibunya bersumpah “Jika Ajong Linggi bukan anaknya maka ia akan selamat sampai di tujuan pulang , Jika memang anaknya maka kapal akan pecah di tengah lautan” . Perlahan kapal Ajong Linggi menjauh dari sisi pantai meninggalkan Ibunya. Sampai di tengah lautan muncul gelombang besar, angin maut , petir, dan hujan badai sehingga membuat kapal Ajong Linggi pun hancur berkeping-keping.

Di dalam kapal Ajong Linggi terdapat berbagai macam harta benda, diantaranya ada kerungun manuk (kandang burung) yang memuat berbagai jenis burung sepertt Kanagnk, tiung, dll. Semua benda tersebut terlempar ke laut, termasuk kandang burung tadi. Kandang burung tersebut terlempar tepat di sebuah sumber mata air. Lama kelamaan air laut mengering karena tertutup Kandang Burung milik Ajong Linggi. Akhirnya di tempay dimana kandang berada tumbuhlah MUNGGUK ( bukit/gunung). Oleh karena bukit tersebut berasal dari sebuah kandang maka dinamakan “KIOGNK KANAGNK” (Tiong Kandang) . Karena bukit dipenuhi oleh burung tiong maka akhirnya namanya lebih populer dengan nama Bukit Tiong Kandang.

Karena itulah para leluhur meminta kepada generasi selanjutnya untuk menjaga bukit ini, krn merupakan Sumbat Dunia. Sekitar tahun 1940-an Bukit Tiong kandang mengalami puset (kebocoran) karena ulah manusia menyebabkan banjir besar di Bagian Kab. Landak yaitu Kampung Sangku. Dipercaya jika kawasan hutan di TIONG KANDANG tidak dijaga maka akan membuat puset atau kebocoran tadi yang mendatangkan malapetaka dimana pulau Kalimantan akan menjadi laut sebab Bukit TIONG KANDANG adalah sumbat dunia.

Tabe

Bekasi 28/Feb/2014

Sumber:

Hery Wesly

Bobby Arya Anggen

“Melindungi TIONG KANDANG sebagai sumbat dunia” – Krissusandi Gunui’ & Elias Ngiuk

 

Iklan