SIAPAKAH ORANG TIDUNG??


SIAPAKAH ORANG TIDUNG??

tidung

Sebelumnya penulis tidak begitu pernah mendengar tentang keberadaan Suku Tidung sebab kebanyakan Suku Tidung berada di bagian Utara Kalimantan yaitu di Sabah dan di area Malinau. Suku Tidung mulai penulis dengar ketika terjadi konflik di Tarakan antara Suku Tidung dengan salah satu suku Pendatang beberapa waktu yang lalu Ketika konflik nama Suku Tidung disebutkan sebagai Dayak Tidung, bahkan didalam salah satu artikel di Wikipedia diebutkan :

The Tidung or Tidong (Dutch: Tidoeng) are a group of Dayak people who lived in northeastern part of Borneo and surrounding small islands.

http://en.wikipedia.org/wiki/Tidung_people

Namun ketika penulis melakukan perjalanan ke Malinau Kalimantan Utara, didalam speedboat dari Tarakan menuju Malinau. Penulis berkenalan dengan seorang bapak, yang awalnya aku kira adalah seorang Kenyah – karena ciri mukanya yang mongoloid. Bapak ini kemudian menjelaskan bahwa dia adalah suku Tidung. Kemudian saya menanyakan ke bapak ini –mengingat informasi sebelumnya bahwa orang Tidung juga merupakan rumpun Dayak – kemudian Bapak ini menjelaskan bahwa Tidung bukan dayak, Tidung berbudaya Melayu.

Maka penasaran akan ini, penulis mulai mencari beberapa bahan literature dan wawancara dengan Kepala Adat Dayak Berusu di Kab. Tana Tidung. Kalimantan Utara.

Bersama Kepala Adat Dayak Berusu

Bersama Kepala Adat Dayak Berusu

Suku Tidung adalah suku asli yang berada di Sabah dan cenderung tinggal dibagian pesisir / coastal. Sehingga assumsiku kemungkinan masuknya suku Tidung ke areal Malinau dan sekitarnya adalah migrasi dari daerah Sabah. Jika dicermati lagi secara etimologis, Tidung itu sendiri memiliki arti bukit atau tanah tinggi, itulah sebab orang Tidung di Sabah memiliki istilah “DAMO ANTAD DE TIDUNG” yang berarti “Kami datang dari tanah tinggi” maka kemungkinan besar leluhur aslinya berasal dari orang-orang yang tinggal di dataran tinggi bisa jadi yang dimaksud adalah bagian gunung Kinabalu tetapi ada juga yang mengatakan bahwa asal-usul orang Tidung adalah dari Sulu – Filipina.

Dalam suatu legenda konon pada jaman dahulu salah seorang putera dari Sultan Sulu bernama Datu Jamalulkarim berlayar bersama beberapa orang menuju ke Pulau Kalimantan, setelah sampai di pinggir pantai Kalimantan di kawasan Semporna mereka masuk ke kawasan sungai Pegagu. Kemudian mereka sepakat untuk menetap di area itu dan menamakannya Bukit Tengkorak.

Dalam legenda ini, Datu Jamalulkarim menikahi Putri Sunting dari Kayangan dan mereka dikaruniai 3 orang putra dan seorang putri. Putra yang bernama Datu Empat Mata, yang kedua Mantali Gumban, yang ketiga Mantali Amas dan yang putri bernama Dayang Dandani. Setelah Datu Jamalulkarim meninggal maka Datu Empat Matalah yang menjadi penggantinya dalam buku Tijilik Riwut justru Mantali Gumban atau Manterie Gumbang lah yang menjadi penggantinya.

Konon Datu Empat Mata atau dalam buku Tjilik Riwut disebut Mantarie Gumbang ini sangat kejam ia menguasai Tidung, Solok, Bulungan dan Kutai dalam legenda lain dikatakan ia hanya menguasai Sungai Pegagu. Konon raja ini memiliki empat buah mata kalau ia tidur dua matanya senantiasa terbuka. Suatu ketika daerah Pegagu mengalami bencana kekeringan yang panjang sehingga mengakibatkan bencana kelaparan di negeri itu. Ketika itu adiknya Mantali Amas pergi ke tanah Sulu untuk mendapat bahan makanan, sementara Datu Empat Mata ini membakar adik perempuannya Dayang Dandani hidup-hidup. Karena mempercayai bahwa adiknyalah yang membawa kesialan.

Melihat hal itu maka muncul keinginan rakyatnya untuk membunuh Datu Empat Mata ini, apalagi setelah cerita ini diketahui sodaranya Mantali Amas sehingga sodaranya pun berencana untuk membunuh Datu Mata Empat. Masyarakat Pegagu mengajak seorang Sultan untuk membantu membunuh Datu Mata Empat ini. Kemudian Sultan ini memerintahkan masyarakat Pegagu untuk membuat sebuah peti mati berukuran 4 x 2 x 2 Depa (1 depa sama dengan ukuran tombak – kurang lebih 3 meteran). Ketika peti mati ini dilihat oleh Datu Mata Empat, bertanyalah ia kepada sodaranya Mantali Gumban “Siapa yang meninggal?” maka Mantali Gumban menjawab “Tidak ada seorangpun yang meninggal dunia, ini hanya sebagai persediaan bilamana diantara keluarga ada yang wafat” . Maka Datu Mata Empat hendak mencoba peti mati tersebut, kemudian peti mati itu ditutup dan dipaku oleh sodaranya Mantali Gumban, kemudai Datu Mata Empat memanggil-manggil dari dalam peti, tetapi sia-sia sebab tidak ada yang menyahutnya. Menyadari ia telah ditipu, Datu Mata Empat mengamuk didalam peti tadi sampai tanah disitu turut tergoyang sehingga membuat runtuhnya beberapa rumah di sekelilingnya. Setelah tiga hari mangkatlah beliau, tetapi karena hebatnya goyangan tadi peti mati itu jatuh ke dalam sungai dan terhanyut. Sebelum mati Datu Mata Empat sempat bersumpah bahwa tidak aka nada raja lagi setelah kematiannya. Peti mati itu kemudian hanyut dan terdampar disebuah gosong dan menjadi sebuah pulau yang disebut Pulau Lunung atau Pulau Silungun yang terdapat di Semporna. Setelah kematiannya terjadilah percekcokan diantara sodara-sodaranya untuk merebut tampuk kekuasaan. Akibat dari percekcokan ini terbentuklah beberapa kesultanan sendiri-sendiri. Beberapa menguasai daerah Solok, Bulungan, sebagian Bulungan dan Kutai, beberapa  dibawah kekuasaan Sultan Bulungan.

Maka munculah pertanyaan kita apakah Orang Tidung merupakan indigenous Kalimantan atau merupakan migrasi dari Sulu??

Didalam legenda diatas kita tahu bahwa memang ada migrasi dari dataran Sulu dimana Datu Jamalulkarim menikahi seorang wanita dari Kayangan. Mengingat bahasa sastra jaman kerajaan dahulu cenderung hyperbolic, maka kemungkinan yang paling masuk akal istrinya yang bernama Putri Sunting adalah seorang indigenous Kalimantan. Kemungkinan besar adalah seorang wanita Dayak Murut.

Kita bisa melihat ini dari sisi linguisticnya. Menurut para ahli bahas murut terdiri atas dua rumpun utama yaitu “Murut” dan “Tidung”. Rumpun Murut terdiri atas; Orang Alumbis, Orang Okolod, Orang Taghel. Sedangkan Rumpun Tidung terdiri atas empat dialek, yaitu: Tarakan-Nunukan, Bulungan, Sembakung dan Belusu’ / berusu. Orang dengan dialek Tarakan-Nunukan kebanyakan berada di Pulau Tarakan, Nunukan dan Sesayap – mereka ini menyebut dirinya Orang Tidung. Sedangkan orang dialek Bulungan yang merupakan migrasi dari Tarakan dan mediami Sungai Kayan menyebut dirinya sebagai Orang Bulungan, yang berumpun Sembakung menyebut dirinya orang Dayak Tingalan dan Dayak Agagbag mereka ini tinggal disepanjang Sungai Sembakung dan Sebuku. Dan Berusu yang tinggal disepanjang Sungai Malinau dan Sekatak disebut Dayak Berusu dan Dayak Abai.

Dalam suatu kunjungan penulis ke Desa Sedulun Kab. Tana Tidung, penulis sempat bertandang ke Lamin Adat Dayak Berusu’. Kemudian diskusi dengan salah satu Kepala Adat Dayak Berusu mengenai Orang Tidung. Menurut mereka bahasa Orang Berusu’ dengan Orang Tidung itu sama saja. Konon legenda kenapa terjadi pemisahan antara Orang Dayak Berusu’ dengan Orang Tidung. Pada zaman dahulu kala leluhur Orang Dayak Berusu dengan Orang Tidung adalah kakak – adik. Sang Kakak adalah leluhur Dayak Berusu dan sang Adik leluhur Orang Tidung. Suatu ketika, sang kakak ini hendak melangsungkan suatu acara, untuk menambah bahan makanan ia ingin meminjam ternak babi milik adiknya. Saat kakaknya bertanya, adiknya ini berbohong dengan mengatakan bahwa ia tidak memiliki babi. Sampai beberapa kali kakaknya ini bertanya, adiknya ini tetap berbohong dengan mengatakan ia tidak memiliki babi. Maka terdengarlah suara ternak babi milik adiknya itu yang berada diatas bukit. Sehingga membuat terjadinya percekcokan antara kakak dan adik ini. Adiknya kemudian bersumpah bahwa ia tidak akan mau lagi memakan babi dan memilih untuk menjadi islam – sehingga jadilah orang Tidung berbudaya Melayu sedangkan Orang Dayak Berusu masih berbudayakan Dayak walau bahasanya sama.

Lamin Adat Dayak Berusu

Lamin Adat Dayak Berusu

Lamin Adat Dayak Berusu

Lamin Adat Dayak Berusu

Saat ini walaupun Orang Tidung sudah beragama Islam dan memiliki corak budaya Melayu, sebenarnya masih dapat kita temui unsur-unsur agama leluhurnya masuk didalam ritus dan adatnya baik itu dalam aspek perkawinan, kelahiran, pengobatan dll. Orang Tidung pada mulanya mempercayai akan dewa-dewa yang mendiami Kayangan, gunung-gunung dan bukit-bukit, mereka percaya bahwa dewa ini mempunya kekuatan untuk menyembuhkan bermacam sakit penyakit – salah satu tempat keramat orang Dayak Berusu di Tana Tidung adalah Air terjun gunung Rian dan disana terdapat kuburan Dayak yang mirip dengan Sandung tempat menaruh tulang belulang orang yang dialakukan upacara secondary burial seperti yang dilakukan oleh Dayak Ngaju, Maanyan, Benuaq.

Di Air Terjung Gunung Rian

Di Air Terjung Gunung Rian

Kuburan Dayak Berusu

Kuburan Dayak Berusu

Pad prosesi pengobatan orang yang menjadi pengantaranya disebut “TOK BOMOH”. Sebelum sepenuhnya masuk Islam, orang Tidung mengenal tradisi pengobatan semacam “belian” dimana orang-orang Tidung akan berdialog dengan kekuatan alam gaib dan membuat KELANGKANG MAHLIGAI untuk diantar kesuatu tempat atau pohon besar yang dipercaya sebagai media untuk berdialog dengan kekuatan gaib tersebut. Sewaktu upacara itu berlangsung, dua orang pelaku memainkan peranan yang dikenali sebagai PUNGGUR dan SUWANU. Mereka akan memabawa KELANGKANG MAHLIGAI sambil menaburkan wangi-wangian yang diambil dari bunga-bungaan setelah itu mereka akan membawa air embun yang diambil dari puncak gunung sebagi obat. Sewaktu mereka menari mengelilingi orang yang sakit, air embun itu akan dipercikan ke tubuh orang yang sakit tadi. Cerita kepercayaan dan tradisi Suku Tidung sebelum termelayukan dapat kita dengarkan dalam syair yang disebut SELUDEN berisi legenda, hikayat para pahlawan, pendekar, raja. Cerita yang paling terkenal adalah Raja Alam Buana.

Rumpun Tidung yang lain yang masih mempertahankan budaya aslinya adalah orang Dayak Tingalan, Dayak Agagbag, Dayak Berusu. Kada para ahli masih bingung memasukan ini kedalam rumpun mana apakah Murut atau Tidung. Tetapi dari sisi linguistic memang bahasa Tidung memiliki kemiripan dengan bahasa Murut. Berikut daftar kemiripan Bahasa Tidung dengan Bahasa Murut:

Bahasa Indonesia

Bahasa Tidung

Bahasa Murut

Rambut

Abuk

Abuk

Kepala

Otak

Ulu

Telinga

Telingo

Telingo

Mata

Mato

Mato

Tangan

Engen

Longon

Kaki

Te’nek

Kelayam

Perut

Tinai

Tinai

Mulut

Kabang

Kabang

Gigi

Nipen

Tipon

Lidah

Dila

Tila

Kening

Kili

Kurou

Bibir

Bibir

Rumpil

Hujan

Oasam

Rumasam

Tidur

Mengau

Ambolong

Panas

Lasu

Alunsu

Menangis

Entangi

Antangi

Ada

Sino

Sino

Mau

Guang

Asiha

Kelapa

Piasau

Piasau

Datuk

A’ki

Aki

Nenek

Aduk

Aru

Bapa

Yama

Yama

Ibu

Inak

Ina

Kaka

Yaka

Yaka

Adik

Yali

Yali

Jalan

Makou

Makou

Ayam

Manuk

Manuk

Anjing

Asuk

Uku

Kucing

Eusik

Using

Pisang

Puntik

Puntih

Bung

Busak

Busak

Menurut Sellato setelah kedatangan agama Islam dan convertnya penduduk asli ini  pada abad ke-18 menyebabkan perbedaan antara Dayak Tingalan dan Dayak Berusu dengan orang Melayu Tidung. Baik dari cerita tutur diatas dapat kita ketahui bahwa siar Agama Islam dibawa dari daerah Sulu – Filipina, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk asil dalam hal ini rumpun Dayak Murut, Tingalan dan Berusu. Sebab penulis masih belum yakin bahwa Dayak Tingalan dan Berusu masih merupakan rumpun murut. Sebab yang disebut Murut adalah kumpulan suku yang mempraktekan budaya FURUT – Uang Hangus dalam acara pernikahannya. Ketika penulis ke lamin adat Dayak Berusu saat itu baru saja selesai dilakukan acara pernikahan, penulis tidak menemukan adanya cerita mengenai FURUT ini tetapi sebagai mas kawin mereka menggunakan TAJAU atau guci – atau penulis memang ada??. Penulis berencana akan melakukan ekspedisi lagi ke daerah orang Dayak Abai dan Dayak Tingalan sebab sangat minim tulisan mengenai sub suku ini. Dayak Abai berada di daerah Mentarang Malinau, dan daerah ini memiliki sterotype sebagai tempat yang masih menyeramkan dan penuh cerita mistisnya.

Bercengkrama dengan Dayak Berusu

Bercengkrama dengan Dayak Berusu

Lomba Minum Tuak ala Dayak Berusu

Lomba Minum Tuak ala Dayak Berusu

Makan Siang bersama Dayak Berusu

Makan Siang bersama Dayak Berusu

Dari pembahasa ini penulis berkeyakinan bahwa Orang Tidung memang adalah merupakan keturunan Dayak yang terislamkan oleh pendatang dari daerah Sulu Filipina. Namun sampai saat ini Orang Tidung / Lembaga Adat Tidung tidak menyebutkan dirinya Sebagai Dayak Tidung, walau sebagian orang di Tarakan apalagi setelah terjadi konflik menyebutkan dirinya sebagai Dayak Tidung. Akankah orang-orang Tidung menggabungkan dan mengakui dirinya sebagai Rumpun Dayak seperti Orang Dayak Paser?? Mungkin akan butuh banyak diskusi dan kesiapan sehingga kita tidak lagi dikotak-kotakan sebagai penduduk asli Kalimantan.

Tabe

Bekasi 3/Maret/2014

Iklan