Bejalar dari Rahasia Wisata Jogya.


Bejalar dari Rahasia Wisata Jogya.

Oleh: Dedy Sanjaya

kreative sampai mati

Beberapa hari yang lalu saya melakukan napak tilas di surabaya-jogya-semarang. Sayangnya, koneksi internet tidak bersabahat sehingga sedikit menjauhkan saya dengan postingan di dunia maya.

Tapi untunglah, pulpen dan kertas mau menjadi teman baik saat itu. Sehingga saya sempat menulis ceritanya.

Kisah pertama yang ingin saya bagi adalah kekaguman saya pada Jogyakarta. Empat tahun lalu saya memang pernah datang ke Provinsi teristimewa di belahan jawa itu, namun tidak se-“ngeh” seperti sekarang. Kalau di amati, “Jogya” punya cara unik dalam mendorong sektor seni dan budaya mereka.

Bahkan karena keunikannya itu, salah satu buku karya Wahyu Aditya, menobatkan jogya sebagai 1 dari 10 tempat wisata di tanah air yang wajib di kunjungi.

Keberadaan tempat-tempat sejarah, dukungan masyarakat dan berlimpahnya berbagai souvenir seakan menjadi menu utama dalam berwisata di kota Gudeg ini. Kalau saya bandingkan, hal-hal inilah yang masih belum ada di tempat kita Kalimantan ( Borneo) saat ini.

Kita mungkin akan bilang, jika Keraton jogya, benteng Vredeburg, taman sari dan tugu jogya merupakan hasil karya peninggalan orang dahulu yang kini berjelma jadi tempat wisata. Keberadaan tempat wisata itu seperti tidak ada ada bedanya dengan peninggaln sejarah, kalau di tempat kita dengan Masjid Pangeran Suriansyah di banjarmasin, Bukit tangkiling di Palangkara atau bekas kerajaan kutai di kaltim.

Namun, sensasi lain yang ada di jogya namun sangat sulit kita temukan kita ( Borneo) adalah desain kota yang rapi, culture yang unik, masyarakat yang banyak kreatif dan tampil ngotot.

Saya mencatat, sifat Kreatif dan tampil ngotot menjadi kunci utama dalam membentuk Jogya jadi kota wisata.

Unsur kreatif, Saya ambil contoh :
Jika kita main ke jogya, kalian tinggal tanya mau cari apa disana. Pakaian, makanan, perhiasan ?

Jika pakaian, maka anda akan begitu mudah di tunjukan ke sebuah komplek yang penuuuuh dengan sentra pembuatan pakaian. Mulai dari kaos, jaket, Jas hingga Batiknya. Hebatnya lagi, alat angkutan seakan bersinergi dengan tempat-tempat tadi. Asal diminta mereka akan sigap mengantarkan.

Coba liat, bagaimana kreatifnya masyarakat disana. Untuk menarik banyaak uang dari setiap orang yang datang, tempat-tempat kerajinan di kumpulkan menjadi satu tempat. Mereka masing-masing menghilangkan ego dan rasa persaingan. Istilah “mangan nggk mangan sing penting ngumpul” telah merasuk dalam pedagang jogya.

Saya bahkan terkaget-kaget ketika singgah ke sentra kerajinan kayu. Disana, limbah kayu yang sebenarnya di tempat kita di anggap tidak beharga justru oleh mereka di bikin kerajinan dengan harga gilaa mahalnya.

Bayangkan saja, kayu rebuk (lapuk) di jadikan patung oleh mereka. Dalam hati sempat saya membatin “Apakah saya bodoh atau mereka yang terlampau pintar”

Sekarang kita bandingkan dengan di tempat kita, misalkan di Palangkaraya. Selama ini belum ada tempat-tempat sentra kreatif yang terorganisir dengan baik. Coba saja, andai para pengerajin tikar-tikar lampit dan tikar rotan dikumpulkan di satu komplek misalkan di kawasan Tjilik Riwut. Kemudian sentra kuliner di kumpulkan di sekitar G.Obos lalu sentra pembuat mandau di kumpulkan di jalan Ahmad Yani. Begitu juga sentra wisata lain.

Tentu kreatif yang terorganisir seperti itu menjadikan tujuan wisata lebih jelas. Turis yang datang tidak lagi di kuras staminanya hanya untuk sekedar berburu souvenir. Kemudian harga-harga juga pasti akan kompetitif. Pengerajin senang, pengunjung pun riang pemerintah pun akan bahagia.

Itu dulu cerita dari jogya yang saya tulis sambil menyusuri bis Eka Wisata.
Salam..

Iklan