SEJARAH KAMPUNG BATUQ KELO – KAMPUNG DAYAK NGAJU DI SUNGAI MAHAKAM


SEJARAH KAMPUNG BATUQ KELO – KAMPUNG DAYAK NGAJU DI SUNGAI MAHAKAM

Oleh: Paulo Salatan dari tulisan Pastor Derick

Sejarah awal Kampung Batoq Kelo bermula dari sebuah kampung bernama BUSANG BELAWAN (di dalam Sungai Boh), petinggi waktu ini belum ada, kampung masih bersifat kumpulan penduduk Kalteng (Ot Danum, Kahayan, Ot Siang).Tokoh yang memimpin kampung pada waktu itu adalah BO ANTANG. Pada jaman Bo Antang, pernah terjadi “perjanjian damai” (Kesepakatan Damai) antara suku-suku di Mahakam dengan suku Kenyah dari Apo Kayan (Poh Kejin). Perjanjian ini dimaksudkan agar tidak ada lagi pengayauan di antara mereka, khususnya antara suku-suku di Mahakam Hulu dengan suku-suku Kenyah di Apo Kayan dan sebagai gantinya orang-orang Dayak Ngaju ini harus menghalangi pasukan Dayak Iban/Hiban untuk tidak masuk ke Sungai Mahakam

Pada waktu itu Bo Antang mengorbankan 3 orang anggota sukunya; 1 orang bernama Gasing dikorbankan di wilayah Busang Belawan yang hingga sekarang disebut wilayah itu Naha Gasing, sedangkan 2 orang lainnya diberikan kepada suku Kenyah di wilayah Apo Kayan. Perjanjian ini dibuat pada waktu Bo Bang Juk memimpin Kampung Ujoh Bilang. Bo Bang Juk kemungkinan menjadi penghubung ke suku-suku Kenyah di Apo Kayan, karena beliau berasal dari suku Kenyah Lepo Timai (Umaq Timai). Bo Bang Juk adalah seorang tokoh besar di wilayah kecamatan Long Bagun.

Dalam catatan (fakta social, cerita lisan) di wilayah Long Bagun, Bo Bang Juk bersama Ding Lejo (asal Kampung Anah) pernah membawa pasukan dari Mahakam membantu suku Kayan Medalam (Umaq Suling) mengusir suku-suku Taman (suku Turi) dari Sungai Sibau (di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat). Cerita selanjutnya, setelah dari kampung Busang Belawan, orang Batoq Kelo pindah ke KIHAM BURUNG, pada waktu itu kampung masih dipimpin Bo Antang. Kampung ini masih berada di dalam Sungai Boh. Ketika berada di Kiham Burung inilah di SK-kannya kampung Kiham Burung dan Bo Antang dilantik sebagai Pembakal oleh Camat Long Pahangai yang bernama “Ming’gang”/ Migang” (Camat Pertama di Long Pahangai, asal dari Kalteng. Camat kedua juga masih berasal dari Kalteng, bernama “Kavuq”).

Setelah dari Kiham Burung, orang Batoq Kelo pindah lagi ke MUARA NYAN. Kampung Muara Nyan, terletak di luar sungai Boh, atau di pesisir sungai Mahakam. Pada masa ini mulai terjadi perkawinan campur orang-orang Batoq Kelo dengan orang Bahau Busang, Kayan, Pnihing, Punan dan Kenyah. Di kampung Muara Nyan, Bo Antang digantikan oleh BO LIUNG (Pembakal) dan BO WOY (Kepala Adat). Diperkirakan 10 tahun mereka hidup di kampung Muara Nyan.

Kemudian masih terjadi perpindahan, dari kampung Muara Nyan, orang-orang Batoq kelo pindah ke kampung SUNGAI AKAH (di sungai Akah) yang dipimpin oleh: BO AJANG (Pembakal I, menjabat 4 tahun), BO PELU (Pembakal II, sekitar 10 tahun) dan BO KAMIS (Pembakal III, sekitar 5 tahun). Pada masa 3 Pembakal ini BO WOY tetap masih menjabat Kepala Adat. Ketika Bo Woy meninggal, digantikan oleh BO SAVUNG RINJEN. Diperkirakan di Sungai Akah ini, orang-orang Batoq Kelo bertahan hidup sampai 19 tahun.

Selanjutnya, orang-orang Batoq Kelo pindah lagi ke BATOQ KELO (Ulu), dengan pemimpin BO SUAN (Pembakal I, 2 tahun), BO PIJAR (Pembakal II, 5 tahun), BO IMANG (Pembakal III, 15 tahun) dengan Kepala Adat, bernama BO JAANG. Pada tahun 1982 masyarakat pindah ke LONG BAGUN, dengan pembakal masih tetap Bo Imang (sekitar 5 tahun). Kepindahan ini terjadi di masa Camat Long Bagun, Liah Hong Jeng. Tahun 1989, dipimpin BO KUENG LAHAI (Pejabat sementara, 2 tahun) dengan Kepala Adat, BO GUNA. Tahun 1990, kampung dipimpin oleh Pak YOHANES NYURANG (sekitar, 15 tahun). Tahun 2003, kampung dipimpin oleh SAHIDAR TUVAN, dengan Kepala Adat: JIU SENDUK dan Ketua Bapak Yusuf Yudianto. Pada tahun 1989, masyarakat Kampung Batoq Kelo yang berpindah ke Long Bagun mulai membentuk kelompok yang kembali (exodus) wilayah Batoq Kelo, kampung asal, di Sungai Gelong, lalu pada tahun 1993 pindah ke wilayah Bengalan yang sekarang ini.

Tabe

Bekasi 6/Maret/2013

 

Iklan