KALUNG UNCAL – PUSAKA KERAJAAN KUTAI


KALUNG UNCAL – PUSAKA KERAJAAN KUTAI

KALUNG UNCAL

KALUNG UNCAL

Salah satu pusaka Kerajaan Kutai adalah Kalung Uncal – yaitu kalung berbentuk buklat panjang 9 cm terbuat dari bahan emas muda (18 karat). Terdapat ukiran Dewi Sinta dan Sri Rama memanah babi, pada bagain kalung terdapat juga empat buah bulatan yang dua diantaranya berhiaskan permata. Kalung ini menetukan sah atau tidaknya pelantikan seorang raja Kutai.

Seorang Raja Kutai hanya dua kali selama hidupnya memakai kalung uncal yakni pada waktu penobatan dan pada waktu pernikahannya, selain daripada sultan/raja tidak ada seorangpun yang boleh menggunakannya. Untuk mengelurakannya dilakukan prosesi ritus tertentu seperti membakar menyan dan membaca mantera atau disebut basawai.

Konon kalung uncal ini asalnya dari India dan hanya ada sepasang di dunia ini sebab dahulu kalung ini satu punya SRI RAMA, satunya punya DEWI SHINTA.  Ketika Sri Rama dapat merebut kembali Dewi Sinta isterinya dari RAHWANA dia meragukan apakah isterinya masih suci dan tidak diganggu oleh Rahwana. Kecurigaannya ini cukup beralasan karena kalung Uncal lambang kesucian itu telah hilang dari leher Dewi Sinta.

Dewi Sinta memaklumi keraguan dari suaminya Sri Rama. Walau kalung Uncal tersebut telah hilang dari dirinya, dia masih suci. Karenanya untuk membuktikan kesuciannya, dia minta agar dibuatkan api unggun sebesar besarnya untuk dia membakar diri sebagai bukti kalau dia masih suci. Kalau dia sudah ternoda maka katanya dia akan mati ditelan Dewi Agni ( Dewa Api ).

Apa yang dimintanya disediakan oleh rakyat Ayodiapala. Tepat harinya api dinyalakan dihadapan Sri Rama dan para pembesar kerajaan Ayodiapala, Sinta pun mulai menaiki tangga menara yang disediakan. Sampai di atas menara Sinta berkata “Kanda Rama, sekalipun kalung Uncalku telah hilang aku tetap suci. Dan kalau sudah ternoda maka aku akan hangus dibakar oleh Dewi Agni. Namun jika tidak, kanda akan melihat aku kembali kepada kanda“. Setelah berkata demikian, Dewi Sinta lalu terjun memasuki api yang berkobar. Sinta ditelan api hingga tak terlihat. Namun tak lama kemudian, dari dalam api muncullah sebuah singgasana yang naik secara perlahan lahan dan berhenti di depan Sri Rama. Ternyata di atas singgasana tersebut terlihat Dewi Sinta duduk sambil tersenyum memandang suaminya sang Sri Rama.

Kalung tersebut diketahui telah menjadi milik Ratu Kudungga yang menjadi raja jauh dari negeri asalnya India. Menurut cerita ,kalau kalung tersebut belum menyatu atau kembali berdampingan, maka selama itu pula India tak pernah tenteram, damai dan makmur. Bencana selalu melanda negeri tersebut. Kelaparan, kemiskinan serta peperangan tak akan berhenti bagaimanapun juga. Demikian menurut kepercayaan kalangan masyarakat India. 

Tabe,

Bekasi 18/Maret/2014

Iklan