KEMAJUAN SUKU DAYAK DALAM 100 TAHUN – sebuah tulisan Tjilik Riwut


KEMAJUAN SUKU DAYAK DALAM 100 TAHUN – sebuah tulisan Tjilik Riwut

Berikuti ini adalah tulisan Tjilik Riwut yang dimuat didalam SOERA PAKAT pada tanggal 23 Desember 1939 sewaktu beliau berada di Karawang. Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan atas nasib masyarakat Dayak – judul aslinya KAMIAR OETOES ITAH DAJAK HONG 100 NYELO – KEMAJUAN SUKU DAYAK DALAM 100 TAHUN.

Banjarmasin, 23 Desember 1939

Apabila aku duduk menyendiri, aku merasa sangat menderita, apabila aku membandingkan kemajuan sukuku pada waktu ini. Tidak terasa air mataku mengalir, apabila aku membandingkan suku lain di lingkungan kita. Apabila aku melihat kemajuan sukuku pada masa ini dibanding dengan suku lain sangat berbeda pada abad keduapuluh ini. Baik sekolah, baik kemajuan di dusun-dusun, baik dari segi politil, baik dalam menata kota, memang sangat jauh ketinggalan dibandingkan dari suku lain.

Kalau kita melihat dari suku-suku lain apalagi dari suku-suku di Pulau Jawa sangat jauh tertinggal. Apabila aku tidak keliru Suku Dayak sudah mengenal sekolah kurang lebih 100 tahun yang lalu termasuk di pedalaman-pedalaman Kalimantan Tengah. Tetapi kita merasa heran karena sudah selama ini, Suku Dayak masih tetap tertinggal dibandingkan suku-suku lain disekeliling kita. Apalagi kalau kita melihat kemajuan suku lain seperti orang Batak, dalam 75 tahun terlihat jelas kemajuan mereka. Mereka dapat sekolah dari sekolah yang paling rendah, menengah dan ada juga mereka yang sudah duduk di sekolah yang lebih tinggi, bahkan sudah memperoleh titel sarjana. Tetapi mengapa suku kita Dayak belum bisa seperti mereka?

Ini menjadi pertanyaan bagi suku kita Dayak dan juga untuk pembaca Soera Pakat ini.

  1. Mengapa suku kita masih sangat jauh tertinggal pada era kemajuan ini?
  2. Apa yang menjadi penghambat kemajuan suku Dayak ini?
  3. Mungkinkah suku kita memang tidak dapat mengejar kemajuan ini?
  4. Kapan suku Dayak dapat maju seperti suku-suku lain di sekeliling kita?
  5. Apakah suku kuta cukup seperti ini saja?
  6. Ataukah kita selalu menunggu mereka?

Semua pertanyaan tersebut di atas agar dapat menjadi jawaban dari seluruh suku Dayak di daerah dan ini hendaknya menjadi catatan bagi diri kita sendiri. Karena seperti yang kita ketahui, apabila ada suku kita yang sudah masuk Sekolah Dewasa, Standaar School (sepengetahuan penulis hanya sekolah ini yang ada disini), dan jika ada yang sudah selesai dari sekolah ini dan ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi seperti kursus Mantri Verpleger, Mantri Cacar, Sekolah Guru atau Sekolah Belanda atau Sekolah Dagang dll. Tapi sangat diherankan pasti ada saja yang menjadi penghalang sehingga perjuangan anak-anak muda ini tidak dapat diteruskan (terhambat), seolah-olah ada kata-kata yang dibisikan ke telinga kita: “Apa guna kalian masuk sekolah tinggi-tinggi, sekolah Belanda, menjadi orang berpangkat karena sudah cukup bagi kalian jika sudah bisa mengenal huruf, bisa membaca dan menulis karena nantinya kalian juga harus bertani mengolah tanah di antara hutan lebat”.

Dereh Boenoe.

 

 

 

Iklan