BATUNU – PROSESI PEMAKAMAN DAYAK PESAGUAN


BATUNU – PROSESI PEMAKAMAN DAYAK PESAGUAN

RITUAL BETUNU

RITUAL BATUNU

Suku Dayak Pesaguan adalah sub-suku Dayak yang mendiami Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia. Masyarakat Dayak Pesaguan adalah kelompok masyarakat asli yang mendiami wilayah pehuluan aliran Sungai Pesaguan di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Kelompok ini tersebar di wilayah tiga kecamatan, yaitu: Kecamatan Tumbang Titi di bagian paling timur, Desa Lalang Panjang di bagian tengah, dan Kecamatan Sungai Melayu Raya di bagian barat.

Untuk acara pemakamannya Dayak Pesaguan memiliki ritus yang disebut BATUNU – suatu acara pembakaran jenazah biasanya seorang tokoh adatnya sebelum abunya dipindahkan kedalam SANDONG atau dikenal sebagai prosesi NYANDUNG. Pada prosesi BATUNU ini akan dikumpulkan Kayu Tunu untuk bahan membakarnya, biasanya pada wanita jumlah kayu tununya akan lebih banyak sebagai bentuk penghormatan bagi kaum wanita.

Mengingat biaya upacara ini sangat mahal karena memerlukan kurban hewan yang tidak sedikit, maka seringkali jenazah akan dikuburkan dahulu dan ketika sudah memiliki kemampuan financial baru dilaksanakan. Kuburan akan digali kembali dan tulang belulangnya akan dibersihkan dan diminyaki kemudian dipindahkan dalam peti mati yang lebih kecil sebelum dilakukan prosesi pembakaran. Usai dibakar abu disimpan dalam wadah kemudian disemayamkan disuatu balai rumah duka, kemudian di diselimuti dengan kelambu hantu. Setelah melewati prosesi ritualnya maka abu ini disimpan dalam tempayan kecil dan diletakkan di atas tiang belian berdiameter 20-30cm yang berukiran setinggi 3-4 meter.

Kurban pada ritual BATUNU

Kurban pada ritual BATUNU

Dalam ritual ini juga dilakukan tarian MENGANJAN – Menganjan adalah ritual agar arwah masuk ke serugo tujoh sebayan dalam (surga, bahasa Pesaguan). Pada zaman dahulu prosesi ini akan melibatkan pengorbanan manusia yang disebut sebagai golongan TULUYUN. Orang TULUYUN adalah orang yang ditakdirkan untuk dijadikan korban dalam setiap upacara menganjan. Mereka disiksa dengan tombak dan mandau, lalu dibunuh dan menjadi tumbal pada dasar tiang sandung atau tambak – namun saat ini sudah tidak dilakukan lagi.

Menurut keyakinan orang Dayak Pesaguan dengan melakukan ritual ini maka arwah keluarga yang meninggal tersebut dapat masuk ke sebayan tujoh serugo dalam, ke hujong ke penawaian, ke siu’ ke pendondaman, be’arai cetohu bayu, benasi cetohu basi, beboras cemenutu, bejolu cebekarang. Artinya tempat di mana air tidak membusuk, nasi tidak pernah basi, beras tidak perlu menumbuk, dapat lauk-pauk tidak perlu berburu; suatu tempat yang digambarkan sebagai tempat yang abadi, kebahagiaan kekal.

Alkulturasi budaya dengan agama Katholik

Alkulturasi budaya dengan agama Katholik

Sumber: wikipedia, TDU, PETEBANG-CENTRE & http://www.wisatakalbar.bl.ee/

Tabe

Bekasi 24/Maret/2014

Iklan