INFRASTRUKTUR APA YANG MENDESAK UNTUK DIBANGUN DIKALIMANTAN


INFRASTRUKTUR APA YANG MENDESAK UNTUK DIBANGUN DIKALIMANTAN

Beberapa waktu lalu FoD melakukan sebuah polling sederhana “Menurut kamu, infrastruktur apa yang sangat mendesak dibangun di daerah kamu dan di Pulau Kalimantan?”

Berikut hasil pollingnya:

Hasil Polling

Hasil Polling

Dari hasil polling ini ada 2 hal yang memilik prioritas yang harus segera dibangung yaitu; supply listrik & akses jalan raya, sedangkan prioritas medium adalah; pendidikan, rumah sakit, kereta api, dan prioritas rendah ada pada kompleks industri dan taman pintar sekitaran 4%. Mari kita bahas pada tingkatan prioritas utamanya dahulu.

KEBUTUHAN LISTRIK DI KALIMANTAN

Kebutuhan listrik di Kalimantan masih belum merata, ada daerah yang memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi ada juga yang rendah. Kebutuhan listrik yang tinggi ada pada daerah yang banyak industri pertambangannya dalam hal ini Kalimantan Selatan, sedangkan tingkatan kebutuhan listrik terendah ada pada Propinsi Kalimantan Tengah. Pulau Kalimantan dibagi menjadi tiga wilayah pemasaran listrik PLN, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan-Tengah.

Adapun kondisi disetiap wilayah pemasaran PLN Kalimantan adalah sebagai berikut:

(dikutip dari berbagai sumber)

Kalimantan Barat : Untuk daerah Kalimantan Barat hampir semua pembangkit listriknya masih mengandalkan tenaga diesel (BBM). Dari 10 Sistem kelistrikan yang ada di Kalimantan Barat, tidak satu pun yang cukup untuk memasok kebutuhan listrik di wilayahnya. Inilah yang mengakibatkan sering terjadinya pemadaman listrik. Kapasitas pembangkit untuk seluruh Kalbar adalah 415 MW dengan daya mampu 355 MW sehingga masih ada defisit daya yang cukup banyak belum lagi jika itu ditambah kendala kerusakan mesin atau kendalan pemasokan BBM ke PLTD.

Kalimantan Tengah – Selatan :

Saat ini, PT PLN Kalimantan Selatan dan Tengah memiliki beberapa sumber pasokan energi listrik, yaitu:

  • Pembangkit Listrik Tenaga Uap Asam-asam. Kapasitas 2 X 65 Megawatt (MW). Artinya ada dua mesin dengan kapasitas masing-masing 65 MW.
  • Pambangkit Listrik Tenaga Air Riam Kanan. Kapasitas 3 X 10 MW.
  • Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Trisakti. Kapasitas 85,4 MW.
  • PLTG Trisakti. kapasitas 21 MW.

Selain itu, PLN Kalselteng juga memiliki 300 unit lebih PLTD dengan kapasitas kecil. Secara keseluruhan, daya maksimal yang mampu disediakan PLN Kalselteng adalah 260 MW. Sementara kebutuhan pelanggan di wilayah ini pada beban puncak pmencapai 252 MW. Artinya, margin standar keandalan sistem tidak tercapai karena selisih daya dan kebutuhan sangat kecil 260 : 252.

Beberapa masalah yang kerap mengganggu pasokan listrik di Kalselteng diantaranya:

  • Penurunan debit bendungan riam kanan pada musim kemarau, padahal bendungan ini sumber utama energi PLTA riam kanan.
  • Perbaikan atau overhaul mesin PLTU Asam-asam yang harus dilakukan setiap tahun. Akibatnya, saat mesin dirawat, kemampuan PLN menyediakan listrik juga menjadi jauh berkurang.
  • Terhambatnya pasokan solar ke PLTD. Hal ini juga sering terjadi dengan disertai lempar tanggung jawab antara Pemerintah Daerah, Pertamina, dan PLN. Sejauh ini, yang paling sering ketiban sial disalahkan adalah Alam. Alam dituding mengalangi proses distribusi dengan banjirnya, surutnya air pelabuhan yang membuat tongkang tidak bisa bersandar atau kerusakan jalan.

Kalimantan Timur: Jumlah pelangan PLN di Kaltim mencapai 430.000 orang dengan 11 area pelayanan. Dan sebanyak 120.000 atau (28 %) pelanggan dilayani oleh sistem mahakam, yaitu Samarinda, balikpapan dan Tenggarong. sementara beban yang harus dipenuhi 195 Mega Watt (MW) sedangkan kemampuan optimal hanya 175 MW. Jadi singkatnya, PLN defisit 25 MW sehingga pemadaman tak dapat terhindari. Beban puncak adalah daya tertinggi yang dicapai suatu sistem pembangkitan akibat penggunaan listrik oleh pelanggan.

Melihat data yang demikian sangat berbanding terbalik dengan sumber dayak energi yang dikuras dari Pulau Kalimantan untuk diekspor dan juga digunakan sebagai bahan pembangkit listrik di Pulau Jawa. Kondisi listrik yang masih belum memadai ini tentu saja akan mempengaruhi roda perekonomian lokal di Kalimantan. Kesalahan terbesar adalah sumber daya alam yang ada bukan diserap melainkan hanya diekspor keluar dari Kalimantan. Memang Pemerintah telah memiliki planning untuk melakukan eletrifikasi / penambahan pembangkit listrik tetapi kebanyakan hanya masih rencana dan belum pada tahapan eksekusinya. Entah apa yang menjadi kendalanya??

Jika ingin memajukan Kalimantan mestinya Pemerintah Daerah fokus untuk menciptakan iklim investasi yang memadai, sebab tanpa ada prasarana penunjang untuk itu maka yang ada hanya mengambil bahan mentahnya untuk dikirim keluar dan bukan diolah diKalimantan sehingga membuka banyak lapangan pekerjaan di Kalimantan sendiri.

Salah satu program yang tidak tepat sasaran di Desa Kalimantan adalah Internet Desa. Saat penulis melakukan ekspedisi ke Tumbang Mantuhe penulis melihat pusat layanan telekomunikasi dan informasi yang terbengkalai di Tumbang Mantuhe. Bagaimana tidak terbengkalai? listrik saja belum masuk sejak Indonesia merdeka. Maka tidak perlu orang cerdas atau rocket science untuk memikirkan apakah Internet Masuk Desa sangat dibutuhkan atau bagaimana membangun pembangkit listrik desa dengan memanfaatkan sumber Dayak Alam yang ada. Misal di Tumbang Mantuhe ini terdapat riam yang cukup besar yaitu Riam Karaha. Ini adalah sumber Dayak Alam yang bisa dimanfaatkan untuk desa-desa dekitar, selain pemanfaat riam Kalimantan dikaruniai sinar matahari karen atepat dibawah equator sehingga bisa dilakukan project cluster solar cell untuk per komunitas pedesaan.

 

pusat layanan telekomunikasi dan informasi di Tumbang Mantuhe

pusat layanan telekomunikasi dan informasi di Tumbang Mantuhe

Riam / Gohong Karaha

Riam / Gohong Karaha

KONDISI JALAN DI KALIMANTAN

Selain masalah kelistrikan yang menjadi perhatian anggota FOD, maka hal lain yang mendesak untuk di benahi adalah akses jalan di Kalimantan. Banyak jalan antar desa dan provinnsi di Kalimantan yang jauh dari kata bagus, bahkan seringkali harus beroffroad ria. Jikapun ada jalan maka jalan yang dibangun dengan setengah hati karena kemungkinan dana yang disunat. Akibat kondisi jalan yang tidak memadai ini membuat masyarakat di pedalaman Pulau Kalimantan kesulitan menjangkau pusat perekonomian karena minimnya infrastruktur berupa jalan raya dan jembatan. Kalaupun tersedia, jalan tersebut umumnya dalam kondisi rusak parah sehingga menguras waktu dan biaya.Satu-satunya jalan yang bagus di Kalimantan adalah jalan Russia atau jalan Tjilik Riwut. Jalan Tjilik Riwut adalah jalan yang dibangun pada masa Tjilik Riwut mendirikan Ibu Kota Kalimantan Tengah ditengah-tengah belantara hutan Pahandut.

Tjilik Riwut membangun jalan Palangkaraya - Tangkiling (Jalan Russia)

Tjilik Riwut membangun jalan Palangkaraya – Tangkiling (Jalan Russia)

Contoh yang paling nyata menurut data resmi Dinas Pekerjaan Umum Kaltim mencatat, dari hampir 2.200 kilometer panjang jalan trans-Kalimantan di Kaltim, hanya 40 % yang tergolong baik dan layak dilintasi sisanya rusak. Untuk Provinsi Kalimantan Tengah secara keseluruhan mengalami peningkatan dalam aksesibilitas jalan, dimana pada beberapa tahun lalu belum ada jalan yang tembus menuju arah hulu maka saat ini sudah ada jalan yang tembus kedesa-desa Kalimantan sehingga ini meningkatkan taraf perekonomian warga. Pada masa lalu bisa diperlukan waktu berhari-hari menggunakan perahu untuk pergi ke kota, menyebabkan warga tidak bisa menjual hasil pertanian mereka ke kota. Menurut data Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan Kalimantan Tengah memiliki panjang jalan sepanjang 3.338,58 kilometer dimana panjang jalan negara mencapai 51,4%-nya atau sekitar 1.714,83 kilometer dan panjang jalan provinsi adalah 48,64% atau sekitar 1.623,75 kilometer. Dari seluruh panjang jalan tersebut sepanjang 2.213,14 kilometer jalan sudah diaspal atau 66% dan yang belum diaspal mencapai 1.125,44 kilometer atau 34%  jalan belum diaspal. Namun demikian hanya 45% kondisi jalan yang baik atau mencapai 1.501,46 kilometer panjangnya, 826,05 kilometer dalam kondisi sedang, dan sisanya dalam kondisi rusak dan rusak berat.

Kondisi Jalan di Kalimantan

Kondisi Jalan di Kalimantan

Lantas bagaimana dengan Kalimantan Barat? ternyata setali tiga uang juga dengan Propinsi Kalimantan lainnya, menurut data Kementrian Pekerjaan Umum hingga saat ini, jalan-jalan yang sudah dibuat oleh dinas PU Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat masih ada yang belum bisa menghubungkan satu desa ke desa lain. Sebagai contoh, jalan dari ibu kota kabupaten Sambas menuju ke Aruk sekitar 30 km jauhnya masih belum terhubung, padahal jalan tersebut akan menjadi jalan internasional, apalagi dengan adanya rencana pembukaan pintu gerbang perbatasan Aruk dalam waktu dekat. Demikian pula keadaan jalan negara, salah satunya jalan negara dari Pontianak ke Entikong. Belum lagi kondisi jalan-jalan antarkabupaten, misalnya di Sanggau, yang hancur dan berlubang. Banyaknya lubang-lubang terjadi akibat truk-truk bermuatan besar yang kapasitasnya melebihi 8 ton melewati jalan yang berkapasitas hanya 8 ton.

Kondisi Jalan di Kalimantan

Kondisi Jalan di Kalimantan

Kedua hal utama ini sebenarnya yang akan menujang program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di Kalimantan. Sebagus apapun ide dan program ini tanpa didukung prasarana vital dalam hal ini akses litrik dan jalan maka program ini hanya akan jalan ditempat. Contoh kecil – pemprov Kalimantan dengan gencarnya melakukan promosi wisata Visit Kalimantan, tetapi tidak diimbangi perbaikin aksesibilitas tempat wisata dan akses jalan, maka bagaimanapun sangat sukar untuk memancing minat wisatawan ke Kalimantan. Kota yang paling diminati pelancong adalah Bali, Jogja, Jakarta, Bandung, Lombok, Manado dan kota di Kalimantan tidak masuk hitungan. Padahal keindahan alam kalimantan tidak kalah, misal untuk pantai, pantai-pantai di Derawan Kalimantan Timur sangat indah, bahkan ada satu danau yang disebut danau 2 rasa di berau, yaitu danau unik danau unik yang mempunyai dua rasa yaitu asin dan tawar, air asin didasar danau dan tawar diatasnya. Atau Danau Kakaban yang memiliki ubur-ubur yang tidak menyengat, di dunia ini hanya ada dua tempat yang memiliki fenomena alam ini satu di Pulau Palao dekat Filipina dan satunya di Kalimantan.

Danau dua rasa

Danau dua rasa

Bicara aksesibilitas juga maka akab berbicara tingkat investasi, satu-satunya Kota yang cukup menjanjikan untuk berinvestasi di Kalimantan adalah Balikpapan – sebab kota ini adalah kota minyak. Ada beberapa variable yang menentukan suatu kota adalah daerah memiliki iklim investasi yang bagus:

  1. Peringkat pertama ialah ifrastruktur yang baik
  2. Fundamental perekonomian yang kuat
  3. Pemerintah daerah yang mendukung dan memudahkan investor
  4. Sistem pelayanan terpadu
  5. Sistem perpajakan dan biaya usaha yang masuk akal

Dari semua variabel yang ada hanya ada 5 kota di Indonesia yang baik untuk berinvestasi yaitu : Jakarta, Makasar, Surabaya, Bandung dan Semarang. Untuk Kalimantan kita masih kalah dalam hal infrastruktur yang baik dan ini juga berimbas pada fundamental perekonomian masyarakatnya yang belum kuat dan ini juga disebabkan pemerintah yang belum mendukung dan memberdayakan agar terciptanya pergerakan perekonomian.

Dari semua hal ini jika Pemerintah bisa memenuhi variabel-variabel untuk memciptakan percepatan pembangunan, maka akan tersisa pertanyaan QUO VADIS DAYAK? kemana Orang Dayaknya?? akankah siap? atau hanya akan menjadi seperti pepatah orang Dayak Ngaju:

“Tempon Tana Mananan Sare, Tempon uyah teah belai, tempon kajang bisa puat” = Punya ladang tapi cuman bisa menanam dipinggir, punya garam tapi cuman bisa makan yang hambar, punya atap tapi yang selalu kebasahan..

Disini peran kita dan terutama lembaga-lembaga adat untuk membangun mindset orang-ornag Dayak untuk maju. Dan ini tidak bisa hanya 1-2 tahun tetapi harus punya planning jangka panjang 10 tahun setidaknya untuk mempersiapkan generasi muda Dayak untuk menjadi tuan ditanahnya sendiri. Anak-anak muda Dayak harus bisa keluar dari statu quo / zona nyamannya. Kebanyakan anak-anak muda Dayak hanya berfikir lulus kuliah menjadi pegawai negeri saja. Padahal peluang bisnis dan investasi sangat besar di Kalimantan. Dan industri swastalah yang sebenarnya dapat menggerak perekonomian suatu daerah. Salah satu contoh, ada kenalan penulis yang merupakan orang Jawa dia tidak pernah ke Palangkaraya ataupun keluarga disana, tetapi dia berkata ingin pindah ke Palangkaraya sebab harga tanah yang masih murah dan banyak peluang usaha. Ini orang luar yang jeli melihat kesempatan, lantas quo vadis pemuda/i Dayaknya?? Ini juga yang menjadi pertanyaan buat pribadi penulis. Tabe

 

Bekasi

25/April/2014

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan