JUKUNG RANGKANG – Perahu tradisional Dayak


JUKUNG RANGKANG – Perahu tradisional Dayak

JUKUNG RANGKANG - Banjarmasin abad ke18

JUKUNG RANGKANG – Banjarmasin abad ke18

Jika Venezia terkenal dengan Gondolanya sebagai sarana transportasinya, maka Kalimantan pada zaman dahulu juga memiliki jenis perahu yang tidak kalah indahnya dari Gondola. Perahu ini bernama JUKUNG RANGKANG atau kalau dalam Bahasa Banjarnya PERAHU TAMBANGAN.

JUKUNG RANGKANG - Banjarmasin abad ke18

JUKUNG RANGKANG – Banjarmasin abad ke18

Pada masa lalu perahu ini banyak hilir mudik di Kalimantan, terutama kebanyakan pemukiman warga Kalimantan (Dayak, Banjar, Melayu, Kutai) yang berada di pinggiran sungai, JUKUNG RANGKANG terbuat dari kayu dengan panjang 8-12 meter dan lebar 1,5 meter, jika perahu ini tidak mempunyai atap hanya jukung biasa dan apabila perahu ini lebih besar maka disebut JUKUNG TIUNG  Perahu ini juga memiliki atap untuk melindungi penumpangnya dari panas dan hujan, dan ujung perahu melengkung. Biasanya perahu ini digunakan untuk berjualan juga sebagai “taxi air”. Penumpang yang dapat terangkut dalam jukung rangkang ini  sekitar 5-10 orang dan dibutuhkan dua orang untuk mengayuh perahu secara manual. JUKUNG RANGKANG mengalami masa kejayaannya pada tahun 1950 hingga 1970-an.

Model Jukung milik seorang dokter Belanda yg pernah bertugas di Barimba - Kalimantan Tengah (c) Intan Binti

Model Jukung milik seorang dokter Belanda yg pernah bertugas di Barimba – Kalimantan Tengah (c) Intan Binti

 

Tabe

West Madura Offshore, 28/Mei/2014

 

 

Iklan