KUNJUNGAN KE DESA SEKATAK – MENGENAL SEDIKIT DAYAK PUNAN TUGUNG & DAYAK BULUSU


KUNJUNGAN KE DESA SEKATAK – MENGENAL SEDIKIT DAYAK PUNAN TUGUNG & DAYAK BULUSU

Didepan Lamin Dayak Bulusu

Didepan Lamin Dayak Bulusu

Suasana Ibadah di salah satu Gereja di Desa Sedulun

Suasana Ibadah di salah satu Gereja di Desa Sedulun

Kali ini penulis berkesempatan untuk melakukan ekpedisi singkat ke Desa Sekatak untuk bertemu Dayak Punan sub Punan Tugung. Desa Sekatak berada di Kabupaten Bulungan, Kecamatan Sesayap, Kalimantan Utara. Didesa ini sebenarnya lebih banyak didominasi oleh Dayak Bulusu namun juga ada Dayak Punannya. Perjalanan kami, kami mulai dari Malinau menuju Kabupaten Tana Tidung, Desa Sedulun – untuk bertemu teman-teman Dayak Bulusu disana – sebab kami punya janji untuk melakukan mission trip di Desa itu. Pagi itu kami menyempatkan untuk ikut beribadah di sebuah gereja di Desa Sedulun dan sharing singkat tentang bagaimana menjadi anak muda Dayak yang cinta budayanya tetapi juga tetap cinta Tuhan dan mau maju.

Diskusi dengan para penatua, pendeta dan tetua adat

Diskusi dengan para penatua, pendeta dan tetua adat

 

Dari hasil diskusi dengan pendeta, penatu dan tetua adat disana – masalah terbesar yang dihadapi masyarakat Dayak Bulusu adalah kebiasaan mabuk minum “pengasih” – memang pengasih adalah budaya lokal Dayak Bulusu. Sebenarnya tidaklah salah juga tetapi, ketika kebiasaan minum ini membuat masyarakatnya menjadi tidak produktif ini yang menjadi concern kita. Oleh karena itu bersama komunitas pelayanan Littleflocks, rencananya kami akan mengadakan mission trip sekaligus sosialisasi kesehatan gigi buat anak-anak di Desa Sedulun dan Sekatak.

Sharing didepan jemaat di Desa Sedulun

Sharing didepan jemaat di Desa Sedulun

 

Selesai beribadah itu kami melanjutkan pergi ke Desa Sekatak, untuk bertemu sodari Sri Tiawati – salah satu anggota FOD yang memang adalah seorang Dayak Punan – yang juga sangat aktif didalam keorganisasian AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nasional). Perjalanan kami tempuh dari Tana Tidung ke Sekatak sekitar 1 jaman.

Bersama Sri Tiawati

Bersama Sri Tiawati

 

Di Desa sekatak ini terdapat dua buah lamin adat Bulusu – yang satu sudah tidak ditempati sedangkan yang satu masih ditempati oleh beberapa kepala keluarga. Kami disambut hangat oleh Adu Laya’ (Neneknya Sri) – Adu dalam bahasa Punannya adalah nenek. Adu Laya’ ini dahulu pernah terlibat didalam syuting acara ethnic run away bersama bajaj. Nenek Adu Laya’ ini hanya ikut syuting pada hari pertama saja – sebab beliau marah besar dengan sutradara acara ini yang memaksa mereka memakai daun-daunan sebagai pakaian – “karena ini bukan baju adat orang Punan” tuturnya. Sangat salut dengan keteguhan Adu dalam menjaga eksistensi budaya Punan. Bahkan nenek ini berbicara dengan kami dengan Bahasa Punan. Sebab katanya “Bahasa Indonesia itu kuno”. Adu ini juga piawai dalam hal mengobati orang dengan ritual belian dan juga piawai dalam membuat anyaman-anyaman. Sebab memang orang Punan terkenal piawai membuat ayaman-anyaman yang indah.

Bersama Adu Laya'

Bersama Adu Laya’

 

Siang itu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke Lamin Adat Bulusu. Memasuki lamin suasana sangat adem – berbeda dengan cuaca yang saat itu sedang panas-panasnya. Lamin ini masih dihuni 20 KK, dan diatas lamin ini masih digantung kepala manusia hasil pengayauan jaman dahulu yang ditutupi sebuah karung beras. Kebanyakan anak-anak muda Dayak Bulusu ini menikah diusia yang masih sangat muda. Di lamin ini kami bercengkarama dengan anak-anak dan para wanita Dayak Bulusu yang sedang bersantai di dalam lamin.

Salah satu anggota FOD bersama anak Bulusu

Salah satu anggota FOD bersama anak Bulusu

Bercengkrama dengan anak-anak Dayak Bulusu

Bercengkrama dengan anak-anak Dayak Bulusu

Diskusi dengan Dayak Bulusu

Diskusi dengan Dayak Bulusu

Anak-anak Dayak Bulusus

Anak-anak Dayak Bulusus

Suasana Lamin Dayak Bulusus

Suasana Lamin Dayak Bulusus

suasana Lamin Dayak Bulusu

suasana Lamin Dayak Bulusu

Suasana Lamin Dayak Bulusu

Suasana Lamin Dayak Bulusu

Gong peninggalan Dayak Bulusu

Gong peninggalan Dayak Bulusu

Gong peninggalan Dayak Bulusu

Gong peninggalan Dayak Bulusu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid di Desa Sekatak

Masjid di Desa Sekatak

Sehingga komposisi masyarakat di Desa Sekatak ini ada yang muslim dan ada juga yang kristen tetapi baik muslim atau kristen mereka tetap melaksanakan ritual adatnya baik itu dalam acara kematian, perkawinan ataupun kelahiran. Namun semenjak tumbangnya Orde Baru banyak juga Dayak Bulusu dan Puna yang awalnya muslim convert menjadi kristiani.

Bahkan dikisahkan sodara Sri tentang bagaimana kekejaman pemerintah Orde Baru terhadap orang Dayak masa lalu – jika ditemukan orang Dayak yang menggunakan cawat maka akan dihukum oleh tentara ada yang dengan cara dijemur seharian tanpa diberi makan dan minum. Saat itu kakek Sri adalah salah seorang kepala Dayak Punan – ada seorang kerabatnya yang ditangkap oleh tentara karena masih menggunakan cawat – maka kakeknya Sri ini tidak hilang akal. Katanya kepada tentara ini “Kalau kamu hukum dia ini disini, lari dia nanti – mending kamu hukum didekat rumah saya saja” katanya. Maka sang tentara ini menurut dan membawanya ke rumah kakek Sri dan menjemurnya dibelakang rumah kakek ini. Lalu kata kakek sri lagi “nah kalau kamu tinggal dia ini, bisa kabur dia – mending kamu sambil jaga dia”. Maka sang tentara ini pun berdiri menjaga sang terhukum disampinya. Tetapi tidak menyadari bahwa ia juga sedang dihukum jemur oleh kakeknya Sri.

Kepala hasil Kayau yang digantung di atas lamin Dayak Bulusus

Kepala hasil Kayau yang digantung di atas lamin Dayak Bulusus

Kekejaman ini terjadi sebenarnya tidak hanya di Sekatak tetapi juga di beberapa daerah seperti di Kalimantan Barat. Pada waktu itu Pemerintah Orba sedang gencar-gencarnya menghapus sisa-sisa komunisme, sehingga agama-agama lama yang tidak diakui oleh negara dianggap mendukung komunisme. Banyak dahulu orang-orang Dayak yang dipaksa meninggalkan rumah panjangnya dan dipaksa memeluk agama yang diakui negara.

Kepercayaan Punan Tugung dengan Dayak Bulusu sebenarnya hampir sama dengan kepercayaan Kaharingan, dimana theologisnya adalah “bitheisime” atau Tuhan Esa ini ada didalam dua bentuk kekuatan yaitu Feminim dan Maskulin atau Dunia Atas dan Dunia Bawah. Jika didalam agama Kaharingan Penguasa Atas disebut “POHOTARA” dan Penguasa Alam Bawah disebut “DJATA”. Didalam kepercayaan Punan Tugung dan Bulusu – Tuhan ada dalam dua kekuatan ini yang disebut – Yang Feminim disebut ADU LAWANG dan Yang Maskulin disebut AKI BUGANG. Didalam ritualnya ini maka orang punan akan meminta petunjuk kepada ADU LAWANG AKI BUGANG ini dengan cara menyemburkan kunyit maka akan ada pertanda dalam bentuk hewan yang memberitahukan bahwa perjalanannya akan berhasil atau tidak.

Dilamin adat Bulusu ini juga kami berkesempatan melihat Mandau Pusaka yang digunakan jaman dahulu untuk mengayau – Maka Penulis mencoba memakai pakaian adat Dayak Bulusu lengkap dengan Mandaunya. Dan kami juga beruntung karena saat itu juga sedang musimnya orang Punan mencari madu dihutan – maka kami membawa 1 jirigen madu yang baru saja diperas.

Mandau yang digunakan ketika zaman Kayau

Mandau yang digunakan ketika zaman Kayau

Mandau yang digunakan ketika zaman Kayau

Mandau yang digunakan ketika zaman Kayau

Menggunakan baju perang Dayak Bulusu

Menggunakan baju perang Dayak Bulusu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gong peninggalan Dayak Bulusu

Gong peninggalan Dayak Bulusu

Ragi yang sedang dijemur untuk membuat Pengasih

Ragi yang sedang dijemur untuk membuat Pengasih

Gong peninggalan Dayak Bulusu

Gong peninggalan Dayak Bulusu

Ukiran yang ada di Desa Sekatak

Ukiran yang ada di Desa Sekatak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rasanya ingin lagi mengunjungi Desa Sekatak ini dan mengenal lebih dalam Budaya Dayak Punan dan Dayak Bulusu disana. Tabe

Surabata

8/Juli/2014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan