KISAH RUMAH PANJANG INDAI & PERANG SIHIR ANTARA ORANG DAYAK KADAZANDUSUN DI INDAI & BONGAWAN


Kisah Rumah Panjang Indai Dan Perang Sihir antara orang Kadazandusun di Indai dan Bongawan

Oleh: Aki Nabalu (Robson)

rumah panjang

Pada suatu masa dahulu, beberapa ratus tahun dahulu, terdapat sekelompok besar manusia yang mendiami sebuah rumah panjang di sebuah tempat yang disebut Indai di Tuaran. Rumah panjang itu sangat panjang sehingga jika terjadi kematian di ujung rumah panjang itu pada siang hari maka berita itu hanya akan diketahui oleh orang yang berada di ujung  rumah panjang yang satu lagi pada besok harinya. Jikalau seseorang memetik ranting selasih dan berjalan dari hujung ke hujung rumah panjang itu, ranting selasih itu akan menjadi layu pada saat orang itu sampai di hujung rumah panjang itu.

Jumlah penduduk di rumah panjang itu sangatlah banyak sehingga apabila pelepah kelapa jatuh di jalan utama perkampungan itu pada siang hari, pada petang hari semua daun dari pelepah itu akan tertanggal habis daripada batangnya (kerana dipijak-pijak). Dan pada petang hari, ketika perempuan-perempuan dari perkampungan itu menuju ke sungai berdekatan untuk mencuci periuk nasi mereka sebelum memasak nasi untuk makan petang, jumlah kerak nasi yang terbuang di sungai dapat menghalang aliran air.

Suatu hari, seorang wanita tua bernama Odun Lumban yang tinggal di salah satu bilik di bagian tengah rumah panjang itu telah pergi ke sebuah rawa untuk menangkap ikan menggunakan sebuah jaring penangkap ikan. Namun anehnya, tidak seperti sebelumnya dia menangkap banyak ikan, kali ini dia tidak berhasil menangkap walau seekor ikan pun. Dia mencoba menjala terus tetapi tetap tidak berhasil menangkap seekor ikan kecuali seekor ketam (kepiting) kecil.

Dia membuang ketam itu namun tetap terjala lagi, dan berapa kali dia membuang ketam itu jauh-jauh tetap saja ketam itu tetap terjala dijaring ikannya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil ketam itu dan meletakkannya di dalam “baraitnya”.

Dan walaupun dia masih mencoba menangkap ikan di bagian-bagian lain rawa tersebut sehingga tengah hari, dia tetap tidak menangkap apa-apa. Kerana kelelahan, di memutuskan untuk pulang ke rumah dan ketika hampir sampai ke rumah, dia tiba-tiba merasa kasihan dengan ketam di baraitnya itu karena menurutnya masih terlalu kecil untuk dimakan. Dia kemudian meletakkan ketam itu di sebuah mangkuk dari tempurung kelapa, dengan air yang cukup untuk ketam itu tenggelam.

Ketika dia bangun pada siang besoknya, dia terkejut karena mendapati bahwa ketam kecil itu sudah membesar dalam satu malam, memenuhi mangkuk tempurung kelapanya. Dia kemudian memutuskan untuk meletakkan ketam itu ke dalam “tagu” (sebuah bekas/kontainer yang diperbuat dari kulit pohon)

Pada pagi besoknya, ketam itu membesar lagi, memenuhi seluruh “tagu” itu. Kerana tidak memiliki wadah yang cukup besar untuk ketam itu, dia memutuskan untuk meletakkan ketam itu di sebuah kolam tempat kerbau berkubang, di depan rumahnya. Pada besok paginya, ketam itu membesar menjadi sangat besar sampai memenuhi kolam kubangan kerbau itu.

Pada malam itu, ketam itu memberitahu orang tua itu dalam mimpinya, dia berkata, “terima kasih karena telah menjaga saya. Saya sebenarnya datang kepada kamu karena suatu tujuan penting. Saya di sini datang untuk melindungi perkampungan ini dari seekor naga yang cukup kuat, yang akan menyerang perkampungan ini dari arah laut. Saya akan berangkat malam ini karena saya akan membesar lagi menjadi lebih besar untuk melawan naga itu di kuala sungai, dan jika ada siapapun yang kelak melihat air sungai menjadi berwarna putih ketika masa air pasang, maka kamu akan mengetahui bahwa itulah darah saya yang akan mengalir keluar pada hari saya melawan naga itu.” Pada besok harinya, ketam itu sudah tiada lagi di kolam kubangan itu. Setelah beberapa hari berlalu, Odun Lumban diberitahu bahwa air sungai telah menjadi putih tepat pada air pasang, dia spontan teringat kembali kata-kata ketam yang muncul dalam mimpinya.

Karena merasa risau dengan ketam itu, dia menaiki perahunya lalu menuju ke kawasan tepi laut, dan sungguh benar ketamnya itu sedang berlawan dengan seekor naga, dengan ukuran yang sangat besar.

Pada suatu ketika salah satu dari penyepit ketam itu hampir patah karena sengitnya perlawanan itu, wanita tua itu kemudian ke dalam hutan untuk mengambil mengambil rotan dan membantu mengikat penyepit ketam yang cedera itu, ini berhasil memberikan kekuatan baru kepada ketam itu sehingga pada akhirnya ketam itu berjaya memenangi perlawanan, membunuh naga itu.

Dengan ucapan selamat tinggal, ketam itu kemudiannya menyelam memasuki laut, sementara Odun Lumban memutuskan untuk mengambil beberapa dari tulang naga itu sebagai cenderamata dari peristiwa hebat itu. Ketika di hadapan rumah panjang, dia menanam tulang itu di hadapan berenda rumahnnya. Tidak lama setelah itu tumbuhlah pokok kolian dari tulang itu.

Namun ajaibnya pokok kolian ini mengeluarkan buah yang terbuat daripada emas. Apabila pokok itu menjadi semakin besar, lebih banyak buah emas yang dikeluarkannya, seluruh penduduk rumah panjang itu mulai memetik dan memiliki ketulan-ketulan buah emas yang semakin hari semakin membanyak, yang kemudiannya dari emas itu mereka membuat peralatan rumah dari emas tersebut- senduk, pinggan, pemarut kelapa (Pongonguan), alat penampi (lilibu/rilibu) dan sebagainya.

Sebuah perkampungan yang hari ini bernama Selupoh (beberapa kilometer dari Indai), terutamanya di sekitar sebuah tasik kecil (yang merupakan bagian dari sungai Tauran) saat ini berhadapan dengan kediaman OKK Imbun Orow, yang biasa disebut sebagai Libu-Libu karena pernah ditemukan dua alat penampi (lilibu) di kawasan tersebut. Akan tetapi artifak bersejarah itu sudah dibawa keluar ke daerah lain dan saat ini hilang tidak diketahui. Sebuah pemarut kelapa emas dan pencedok nasi emas (kikiriw) juga ditemukan di beberapa tempat di Tuaran.

Tidak lama kemudian, penduduk Indai menjadi begitu kaya, dan dari kekayaan mereka itu timbul sifat tinggi diri dan angkuh. Pada suatu hari, dua orang yang nakal dan jahat telah merancang suatu penipuan besar, dengan mengambil sebuah batu besar, mengukirnya menjadi sebuah bulatan dan melapisinya dengan emas dari pohon kolian itu. Mereka membawa bebola emas yang berisi batu itu ke Bongawan dengan sebuah bot dan pergi menemui pemilik sebuah pasu besar (tajau/tempayan besar) atau guci yang sangat berharga dan dianjungi, yang dipanggil Gurunon.

Kedua penipu itu menawarkan bola emas mereka untuk ditukarkan dengan Gurunon, akan tetapi pasu suci itu merupakan ikon spiritual dan simbol kemegahan penduduk Bongawan dan tidak ternilai harganya sehingga pemilik pasu itu menolak tawaran tersebut.

Akan tetapi setelah beberapa kali tawar menawar dan usaha meyakinkan bertapa besarnya nilai bola emas itu, pemilik Gurunon itu akhirnya bersetuju untuk menukarkan Gurunon itu dengan bebola emas dari pohon Kolian Indai yang memang sudah terkenal dan termashyur di mana-mana.

Dengan kegembiraan yang meluap, kedua penipu itu menaiki sampan mereka dan menuju ke laut untuk pulang ke Indai. Akan tetapi salah seorang dari mereka tidak dapat menahan kegembiraannya, mulai bernyanyi sekuat hatinya, “Salu-salu bulawan, nokotuhun Gurunon!” (Setelah keliru untuk emas, Gurunon telah menjadi rendah!)

Dia malah menyanyikan lebih kuat lagi sekalipun temannya yang satu sudah menyuruhnya supaya diam. Seorang yang kebetulan berada di tebing sungai mendengar nyanyian itu, dia tertanya-tanya mengapa lelaki itu menyanyikan demikian. Akan tetapi orang itu tahu nama Gurunon, sebuah pasu yang sangat terkenal dan dipuja-puja di Bongawan.

Lelaki itu bergegas ke rumah pemilik Gurunon itu, dan berdasarkan kejadian itu dia menanyakan apa yang dimaksudkan oleh panyanyi yang menyanyikan “Salu-salu bulawan, nokotuhun Gurunon!” kerana takut dengan apa yang terjadi kemudian mereka membelah bebola emas itu dan dengan sangat terkejut mendapati ternyata di dalamnya hanyalah batuan belaka.

Berita itu menjadi sebuah tamparan hebat untuk masyrakat tersebut dengan perasaan ngeri dan marah yang teramat sangat. Perasaan marah yang meluap-luap untuk membalas dendam kerana aib, menguasai msyarakat Bongawan tersebut, mereka memutuskan untuk melakukan pembalasan dendam ke atas orang-orang Indai yang sudah pasti sebuah balas dendam yang dahsyat dan mematikan. Dengan menggunakan keahlian para ahli sihir yang paling berkuasa (Bobolian), mereka pertama-tama menghantar tiga ekor naga yang dipanggil Topirik (artinya,makhluk yang menyeret ke atas), karena naga itu menghinggapi hujung sebuah pohon hutan berdekatan dengan rumah panjang Indai.

Ilustrasi Topirik

Ilustrasi Topirik

Hari demi hari banyak kanak-kanak didapati hilang tanpa jejak, semua usaha mencari kanak-kanak itu tidak berhasil menemukan walau satu pun dari mereka. Akan tetapi penduduk Indai menyedari bahwa semua kanak-kanak yang hilang itu ialah kanak-kanak yang pergi bermain di hutan. Oleh kerana itu, beberapa orang dewasa, yaitu pahlawan dihantar untuk mengintip kanak-kanak tersebut agar diketahui apa sebenarnya yang menyebabkan mereka hilang.

Kelompok pengintip itu akhirnya melihat ada naga di atas sepohon pokok tinggi di mana dari naga itu diturunkan banyak “sungut” (semacam tentakel) yang sangat cantik, bercahaya dan mengedipkan kilauan cahaya yang berwarna-warni.

Karena sangat tertarik dengan “tali” aneh yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, kanak-kanak itu bermain dengan “tali” tersebut. Hujung tentakel semacam “tali” itu akan berputar/ bergulung dan menggangkat naik (pirik) kanak-kanak itu dan dengan serta merta dilahap.

Dalam aksi pembalasan dendam itu, penduduk kampung telah datang lalu memotong tentakel Topirik, meskipun kelihatan seperti naga, namun memiliki badan pendek seperti tunggul kayu. Akan tetapi kulit bersisiknya, sama seperti tantakelnya, bercahaya dan memancarkan cahaya dengan cahaya yang berwarna-warni. Walaupun demikian, penduduk menyadari bahwa serangan rahasia membunuh Topirik hanyalah suatu permulaan untuk kejadian yang lebih dahsyat yang akan menyusul.

Untuk merayakan keberhasilan mereka menyelesaikan misteri raibnya anak-anak dan keberhasilan membunuh naga itu, mereka mengambil kulit Topirik, mengeringkannnya untuk dibuat gendang. Akan tetapi mereka terkejut apabila pukulan pertama ke atas gendang itu mengeluarkan bunyi yang aneh, gendang itu berbicara, “Tob, tob, Mitobok” (Tob, tob, saling menikam satu sama lain!), dan penduduk kampung itu seakan-akan dipukau dengan serta-merta mengambil pisau dan parang dan mulai saling menikam satu sama lain, melupakan siapa mereka, menyebabkan ratusan terbunuh.

Tanpa mengetahui apa penyebabnya mereka saling berbunuhan, mereka sekali lagi memukul gendang itu dan sekali lagi gendang itu berbunyi, “Tob, tob, Mitotok” (Tob, tob, saling menetak/memarangi satu sama lain!) dan penduduk kampung sekali lagi seperti dipukau tidak sadarkan diri mengambil parang dan pedang kemudian mulai saling menetak sesama mereka, sekali lagi ratusan penduduk kampung mati. Menyadari kengerian dari kuasa sihir yang mematikan dari gendang itu, mereka memutuskan untuk mengakhiri bahaya itu dengan membakar gendang itu.

Mereka menyangka bahwa mereka sudah mengatasi dan melalui malapetaka buruk itu. Namun masih ada yang lebih buruk dan paling ngeri yang akan menyusul tiba. Orang Dusun Bongawan kemudian menghantar “kepala babi terbang” ke rumah panjang Indai, dengan dahsyatnya, hinggap dan bertenggek di atas Sinunkiap (bahagian dari bumbung/atap rumah yang dapat dibuka untuk cahaya masuk), dan mulai berkokok seperti ayam jantan.

kepala babi terbang

Setiap kali kepala babi terbang itu berkokok, ratusan orang yang mendengar kokokannya akan serta-merta jatuh mati. Kepala babi itu kemudian akan terbang ke atas “Sinungkiap” lain di bahagian lain rumah panjang itu, dan sekali lagi mulai berkokok sehingga menyebabkan ratusan lagi mati.

Penduduk Indai dicengkam ketakutan dan menyedari tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk melawan bahaya yang mengerikan itu telah mengambil keputusan untuk menginggalkan rumah panjang itu. Empat kelompok besar dibentuk, kelompok pertama memilih untuk berhijrah ke Kadamaian di Kota Belud, kelompok kedua memilih untuk berhijrah ke lembah Tambunan, kelompok ketiga memilih berhijrah ke dataran Keningau, dan kelompok yang keempat pula berhijrah ke Nunuk Ragang.

Ini merupakan pengakhiran untuk Indai. Selepas penghijrahan itu, tempat itu dibiarkan untuk beberapa abad lamanya, dan kaum Lotud yang baru kemudian datang menetap di Tuaran tidak berani untuk mendirikan penempatan di kawasan tersebut kerana percaya tempat itu telah disumpahi atau dikutuk. Indai tidak pernah diduduki lagi sehingga pada awal tahun 1950-an ketika beberapa dari kaum Lotud membuka kawasan tersebut.

Di antara yang paling awal membuka kawasan tanah tersebut untuk pertanian dan penempatan ialah paman saya (abang ibu saya), Ipos Undugan (Mohd Salleh Undugan) dan sepupu saya dan anak abang Ipos Undugan, OKK Imbun Orow.

Ketika mereka membuka kawasan tersebut dengan membersihkan pohon-pohon besar yang sudah tumbuh meninggi setelah ratusan tahun ditinggalkan, mereka menemukan sangat banyak pasu/guci yang digunakan sebagai keranda, buktinya terdapat tulang di dalamnya.

Pasu-pasu tersebut masih terdapat di situ. Sudah banyak desakan ditujukan kepada pihak Musium untuk menanggung penelitian geologi di kawasan tersebut, akan tetapi tidak tindakan konkrit yang diambil, ini dapat menjadi kehilangan besar untuk sejarah kita.

Di salah satu bahagian dari paya itu merupakan sungai, sejumlah besar kulit kepah lama ditemukan terkubur di satu tompok tanah. Ketika menyediakan sebidang tanah untuk membina rumah berdekatan dengan rumah besar lama kepunyaan OKK Indan (kemudiannya Tun Hamdan Abdullah) di Kg. Lumpiring, Tuaran, orang menemukan timbunan harta karun yang berupa senjata (parang, pedang,lembing,perisai,dll) di sana, yang dipercayai harta karun yang ditinggalkan oleh penduduk Indai sebelum mereka berhijrah menuju penempatan baru. Mereka sudah tentu merasa putus asa dengan ketidakmampuan senjata-senjata itu ketika menghadapi kekuatan dahsyat dari sihir orang Dusun Bongawan.

Sekitar awal tahun 1990-an, saya berkeputusan untuk melihat sendiri kesan-kesan dari rumah panjang tersebut di Kg. Indai Baru. Terdapat barisan longgokan tanah dari sarang semut (puzsu) yang menurut orang-orang tua merupakan tompokan dari arang dapur (ropuhan) rumah panjang lama yang jatuh ke tanah. Debu arang dan tanah selalunya akan mengumpan anai-anai untuk membuat busut sarang mereka di sana. KK Panglima Liput Erah bahkan pernah menunjukkan kepada kami kira-kira kedudukan di mana pohon Kolian itu dulunya berdiri.

Kisah kehancuran Indai tanpa disangsikan diperkira merupakan sebuah kisah benar, sebuah kejadian sejarah, dari kaum Lotud Tuaran. Cerita Indai memang memiliki unsur-unsur Ghaib, akan tetapi ia dapat dipercayai dan dikenali sebagai kekuatan sihir, terutama pada zaman-zaman dahulu kala

 

Tabe

Iklan