DAYAK DALAM SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN PONTIANAK


DAYAK DALAM SEJARAH BERDIRINYA KERAJAAN PONTIANAK

Keluarga Sulatan Pontianak

Keluarga Sultan Pontianak

Kerajaan Pontianak berdiri ketika Islam sudah masuk ke Kalimantan Barat yaitu pada tahun 1771. Seperti diketahui pendiri Kerajaan Pontianak adalah Sultan Syarif Abdurrahman. Ayahanda Sultan Syarif Abdurahman adalah seorang arab yang melakukan syiar agama Islam yaitu Al Habib Husin, yang ketika ia berusia 18 tahun bersama 4 orang rekannya yaitu Al-Sajjid Umar Husin Alsaggaf, Al-Sajjid Abubakar Idrus, dan Al-Sajid Muhammad bin Akhmad Qraisj pergi meninggalkan Kota asalnya yaitu Trim Hadralmut untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Al-Habib ini pertamakali singgah di Aceh kemudian ke tanah Jawa, Di tanah Jawa ia bertemu seorang ulama bernaha Syekh Salim Hambal yang kemudian menganjurkannya untuk pergi ke Kerajaan Sukadana – Dimana kerajaan Sukadana didirikan oleh Prabu Jaya (Majapahit) dan beristerikan Puteri Dayak Raja Ulu Air yang bernama Dayang Putung dan diberi gelar Puteri Junjung Buih. Ketika Al-Habib berada di Kerajaan Sukadana / Tanjungpura maka penguasa disana tertarik dengan ajaran yang dibawa oleh beliau dan oleh sebab itu ia kemudian diangkat menjadi seorang Mufti kemudian iapun menikahi puteri raja bernama Nyai Tua.

Suatu ketika terjadilah suatu kesalahfahaman antara Al-Habib dengan penguasa Sukadana yang membuat Al-Habib beserta keluarga hijrah ke Kerajaan Mempawah disini keluarga Al-Habib diterima dengan baik oleh penguasa Mempawah saat itu yaitu Opu Daeng Menambon bahkan menikahkan puterinya yang bernama Utin Tjandramidi dengan Syarif Abudrahman. Syarif Abdurrahman ini adalah orang yang gemar berpetualang dan ia memperoleh isteri keduanya yaitu puteri Sultan Banjar – Ratu Syahranum. Setelah ayahandanya Al-Habib wafat, maka Syarif Abdurrahman mengajak sanak keluarganya untuk meninggalkan Mempawah.

Kemudian Ia beserta keluarganya pergi menggunakan 14 perahu yang bernama “kakap” dan menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong. Hampir-hampir saja mereka mendirikan pusta kerajaan disana namun karena tidak sesuai dengan maksud Abdurrahman maka berangkatlah mereka memutar haluan masuk Sungai Kapuas Kecil. Disepanjang Sungai Kapuas Kecil ini mereka tidak henti-hentinya diganggu mahkluk halus yaitu hantu Pontianak (Dalam bahasa Dayak lain disebut KANGKAMIAK lebih lengkap silahkan baca: Link) sehingga menghambat perjalanan mereka. Maka Syarif Abdurrahman mengambil tindakan tegas dengan menembakan meriam mencoba mengusir hantu Pontianak itu sambil berkata “Dimana peluru ini jatuh, disitulah kota kerajaan akan kita bangun” . Maka merekapun mengikuti peluru meriam itu. Mereka mula-mula mendirikan pondok-pondok sederhana beratapkan ilalang, namun ternyata gangguang hantu Pontianak itu tidak berhenti bahkan mengancam jiwa mereka oleh sebab itu mereka kemudian kembali kedalam perahunya. Saat itu mereka hendak mendirikan sebuah Mesjid sebelum mendirikan sebuah Keraton, namun setiap kali pohon itu ditebang esoknya pohon itu bertaut kembali.

Hantu Pontianak

Hantu Pontianak

Pada waktu itu selain mengalami kesulitan akibat gangguan hantu Pontianak merekapun dilanda masalah akibat air pasang laut sehingga air tidak bisa digunakan untuk minum dan memasak. Maka Abdurrahman memerintahkan anak buahnya untuk pergi mencari air tawar. Maka berangkatlah mereka menggunakan sampan menuju anak Sungai Kapuas sambil mencicipi rasa air sungai apakah tawar atau asin. Ketika mereka menyusuri sungai itu terdengarlah suara orang  yang mengatakan “MALAIYA” (Sebenarnya kalimat lengkapnya adalah “MAE MALA IYA?” yang dalam bahasa Dayak Kendayan artinya “bagaimana membelahnya?”). Maka sesegera mungkin mereka ini kembali ke KAKAP dan memberitahukan perihal ini kepada Syarif Abdurrahman.

Mendengar berita ini Syarif Abdurrahman sangat gembira maka Ia bersama anak buahnya pergi menyusuri sungai itu (Sungai itu sekarang bernama MALAYA), setibanya disana ia bertemu 7 orang Dayak yang sedang memasak. Kemudian Syarif Abdurrahman bertanya kepada mereka “Siapakah Kamu?”. Ketujuh orang Dayak ini yang masih menggunakan cawat berlata: “KAMI INILAH RAKYAT PUSAKA TURUNAN MEMPAWAH MENCARI HIDUP DI DAERAH SUNGAI BERCABANG DUA”, lalu Syarif Abdurrahman bertanya lagi: “Pandaikah kamu bekerja?” merekapun menjawab semua kami bisa bekerja apa saja.

Ilustrasi: Ketujuh Orang Dayak yang melakukan ritual

Ilustrasi: Ketujuh Orang Dayak yang melakukan ritual

Kemudian Syarif Abdurrahman menceritakan semua permasalahan yang mereka hadapi terutama gangguan hantu Pontianak, maka Syarif Abdurrahman meminta bantuan ketujuh Orang Dayak itu jika mereka berhasil menebang pohon untuk mereka mendirikan mesjid. Ketujuh orang dayak inipun menyanggupinya namun harus diadakan sebuah upacar adat yaitu dengan mengalirkan darah binatang (babi) disekeliling kayu yang akan ditebang itu dan meminta ijin kepada roh-roh penunggunnya. Lalu ketujuh orang Dayak ini melakukan ritual dan mempersembahkan korban dan mulailah mereka menebang pohon tersebut dan sebentar saja tanpa gangguang pohon itupun tumbang. Atas jasa ketujuh orang Dayak itu Syarif Abdurrahman memberikan hadiah berupa berkarung-karung beras, pakaian dan lahan kebun yang terbentang menepi sepanjang Sungai Ambawang, selebar lima puluh depa.

Ketujuh Orang Dayak ini kemudian membuka lahan yang diberikan itu kemudian diikuti oleh rombongan Suku Dayak secara bergelombang.

Rombongan pertama sejumlah 20 keluarga, pemimpinnya tidak disebutkan namanya, mereka bertani dan mendiami daerah kampung Durian.

Rombongan kedua dipimpin oleh Macan Sumit bersama 40 keluarga mendiami Kampung Cabang Kiri

Rombongan ketiga dipimpin oleh Tumenggung Madja bersama 60 keluarga mereka mendiami Simpang Kanan

Rombongan kelima dipimpin oleh Nek Nane bersama 100 keluarga, mereka mendiami daerah Pancaroba, Ngabang dan Landak.

Demikianlah sejarah keterlibatan Suku Dayak dalam pembentukan Kerajaan Pontianak.

 

Tabe

 

Sumber:

Sejarah Hukum Adat JJ. Lontaan & Wikipedia

 

Bekasi

9/9/2014

Iklan