SUSUNAN MASYARAKAT DAYAK PADA JAMAN DAHULU


SUSUNAN MASYARAKAT DAYAK PADA JAMAN DAHULU

Peninggalan Rantai Djipen yang diikatkan di pinggang budak di Betang Tumbang Korik - Kalimantan Tengah (c) Afriyandie Ldc

Peninggalan Rantai Djipen yang diikatkan di pinggang budak di Betang Tumbang Korik – Kalimantan Tengah (c) Afriyandie Ldc

Masyarakat Dayak jaman dahulu khususnya di kalangan Dayak Kalimantan Tengah membagi kelompok masyarakatnya kedalam 3 golongan, yaitu golongan merdeka, golongan budak dan golongan hantuen – Didalam budaya Dayak lain mungkin dikenal hal yang sama, hanya memiliki istilah yang berbeda. Dalam tulisan FOD lain pernah dibahas mengenai JIPEN (Budak) DALAM BUDAYA DAYAK NGAJU kali ini kita akan membahas sedikit lebih detail mengenai  golongan-golongan ini.

I. GOLONGAN MERDEKA

Golongan merdeka ini terbagi kedalam dua kelompok yaitu:

1. UTUS GANTUNG / UTUS TATAU (golongan tinggi / golongan kaya). Golongan ini dipandang sebagai kelas bangsawan tinggi, golongan manusia kaya dan sempurna. Mereka dipandang selaku pewaris keturunan langsung keilahian, terutama dalam bidang harta kekayaan dan kedudukan penting dalam masyarakat. Kalangan ini memiliki banyak sekali harta pusaka dan bentuk yang meprupakan emblim dari keilahian, seperti: tombak, gong-gong, tikar ilahi, balanga suci, manik-manik, dsb. Dari golongan inilah akan dipilih kepala suku, kepala adat dan jabatan tinggi lainnya. Utus gantung ini sering disebut juga: anak matahari, manusia tingang dsb.. yang menunjukan kepada identifikasi mereka dengan Tuhan

2. UTUS RANDAH atau UTUS PEHE BELUM (golongan rendah atau golongan yang hidupnya susah). Golongan ini walaupun termasuk kelas merdeka, namun masih juga dibedakan kedudukan sosial ekonominya. Dengan pengistilahan utus randah, tersirat pemahaman religiusnya: bahwa mereka ini berasal dari keilahian secara tidak langsung. Penamaan “utus pehe belum” mengandung nilai sosial karena mereka ini tidak memiliki kekayaan, terutama harta pusaka suci yang menandai hubungan langsung dengan keilahian tertinggi. Walaupun mereka memiliki beberapa benda-benda suci, tetapi umumnya nilainya lebih rendah. Walaupun demikian mereka juga ikut dalam fungsi yang lebih rendah dari pada utus gantung. Pada mulanya dari kalangan mereka inilah muncul para imam (balian & basir) yang selanjutnya akan merupakan kelompok tersendiri dimata masyarakat Dayak (H. Schrarer). Mereka juga dinamakan anak bulan atau manusia tambun.

Sedangkan dikalangan Dayak Ma’anyan, kelas merdeka ini terbagi menjadi tiga golongan : URIN, PATIS dan TAMANGGONG dan kemudian berkembang karena adanya pemecahan-pemecahan sehingga menjadi tujuh golongan yaitu:

a. Mangko

b. Patingi

c. Djaksa

d. Giritan

e. Singa – Langgawa

f. Djarang – Bayohan

g. Mangasiau (Masiau)

Sedangkan Tamanggong hanya diperuntukan bagi kelas yang memerintah (semacam golongan raja). Tiap-tiap golongan tersebut mempunyai “tambak” nya sendiri – yakni tempat penyimpanan tulang yang telah dibakar, yang tidak boleh disatukan dengan lainnya.

II. GOLONGAN BUDAK

Peninggalan Rantai Djipen yang diikatkan di pinggang budak di Betang Tumbang Korik - Kalimantan Tengah (c) Afriyandie Ldc

Peninggalan Rantai Djipen yang diikatkan di pinggang budak di Betang Tumbang Korik – Kalimantan Tengah (c) Afriyandie Ldc

Didalam istilah Dayak Ngaju terdapat dua istilah budak yaitu DJIPEN dan REWAR. Berdasarkan kisah mithologi Dayak, tidak dijumpai bukti yang menyatakan bahwa kelas budak ini ada sejak mula kejadian manusia. Kelas budak terjadi kemudian akibat perkembangan masyarakat itu sendiri (Ph. Zimmerman, Borneo, Jahresbericht, 1877).

REWAR : Rewar ialah budak yang turun temurun mejadi kepunyaan dari sipemiliknya. Golongan ini menurut cerita ketika manusia pertama diturunkan dari alam atas ke bumi haru turun dengan susah payah dengan menjadi kera  melalui tiang kayu yang memancang menghubungi bumi, sedangkan golongan atas diturunkan dengan sebuah palangka bulau beserta kelengkapan peralatannya. Kemungkinan REWAR adalah budak akibat kalah perang atau akibat suatu pelanggaran yang berat

DJIPEN: Budak akibat utang lebih lengkapnya silahkan baca JIPEN (Budak) DALAM BUDAYA DAYAK NGAJU. Golongan ini jika tidak mampu membayar hutangnya, maka mereka bisa menebusnya dengan bekerja dengan si piutang. Golongan djipen ini nantinya bebas kembali apabila mereka berhasil membayar segala hutangnya. Apabila hutang itu sudah dilunaskan mereka menerima kembali kebebasan sebagai manusia merdeka. Dalam kepercayaan Dayak, budak telah mengambil suatu kedudukan khusus pula, mereka ini dianggap “pai-lenge” (kaki tangan) sipemilik. Dikuatkan dengan cerita tradisional yang menunjukan bahwa mereka itu bukan keturuna SANGIANG, maka berarti mereka tidak mungkin memanggil SANGIANG untuk memberkati mereka. Mereka diperuntukan mengikuti tuan pemilik dari masa hidup sampai ke alam baka dan tetap menjadi budak di lewu liau kelak. Terhadap para pemiliknya, budak harus memanggil : “TEMPUNGKUH SANGIANGKUH” (Pemiliku, Tuhanku).

Schwaner mengatakan terjadinya kelas budak ini tak lain akibat perkembangan masyarakat itu sendiri.  Mula-mula mereka semua adalah orang-orang merdeka punya hak milik, tanah dan harta sendiri. Keturunannya membentuk semacam “kelas bangsawan”, sehingga lama kelamaan dikembangkan suatu oandangan seolah-olah memang ada perbedaan didalam kelas masyarakat (Schwaner, Borneo, Amsterdam 1853) Didalam peraturan jaman dahulu pula para budak ini dilarang untuk mendirikan rumahnya didalam kampung, melainkan di daerah perbatasan kampung atau didalam hutan sekitarnya. Secara demonstratif, ditunjukan bahwa daerah perpijakan mereka bukanlah diatas tanah yang direstui oleh para SANGIANG, melainkan didalam wilayah kekuatan jahat.

Terjadinya kelas DJIPEN (pandelingschap) disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

– berasal dari keturuna ibu yang memang adalah djipen

– akibat hutang yang tak terlunaskan setelah habis terjaminnya

– akibat terjadinya pelanggaran adat, yang dikenakan denda uang tetapi tidak mampu dibayar

– akibat “persundalan” yang menghabiskan harta benda

– karena tidak mampu membayar bunga hutang dari kapital yang dipinjamkan

– akibat kalah perang sehingga menjadi tawanan

Peninggalan Lundju (Tombak) di Tumbang Korik

Peninggalan Lundju (Tombak) di Tumbang Korik

Pada umumnya para djipen ini tidak akan mampu membayar kembali hutang-hutangnya bahkan keturunannyapun akan tetap menjadi djipen, karena ongkos pemeliharaan anak-anak mereka itu dperhitungkan pula selaku hutang, sehingga setiap tahun hutang itu bukannya berkurang tetapi bertambah. Tetapi didalam adat dimungkinkan djipen ini untuk memperoleh kebebasannya. Beberapa cara yang bisa ditempuh menurut hukum adat:

1.  ia harus membayar habis seluruh hutangnya

2. setiap habis panen ia berhak menerima 10 % dari seluruh panen pemiliknya, bagian ini dpaat dijual atau dipinjamkan dengan bunga sehingga memungkinkan ia mencicil hutangnya

3. pekerjaan yang dilakukan diwaktu malam hari seluruhnya menjadi hak milik sendiri, sehingga segala macam pekerjaan tangan seperti mengayam, mengukir dan sebagainya adalah milik pribadi yang bisa dijual

4. apabila ada pekerjaan di hutan, seperti mengambil rotan maka ia berhak dalam jumlah tertentu mendapat upah

5. ia diperbolehkan memelihara binatang ternak milik sendiri dengan tidak mengurangi pekerjaan untuk pemilik yang kemudian dapat dihargai dengan uang.

Gong Besar - salah satu alat pembayaran Djipen

Gong Besar – salah satu alat pembayaran Djipen

Tetapi ada kisah juga seorang yang keturuna budak ini memerdekakan diri dan kaumnya melalu sebuah penyerengan yaitu kisah mengenai Bandehun (Silahkan baca: LEGENDA BANDEHUN) – Perbudakan ini berhenti tidak lepas dari perjuangan para missionaris Jerman yang memberitakan injil ke Kalimantan Tengah dan membantu membebaskan kaum jipen ini, kisah ini dapat dibaca : INJIL MASUK KE TANAH PARA “PENGAYAU”.

Sumber: Tantang Jiwa Suku dayak , Sejarah hukum adat Kalimantan Barat

 

Tabe

Bekasi 12/9/2014

Iklan