LEGENDA TERPISAHNYA DAYAK DARAT DAN ORANG LAUT


LEGENDA TERPISAHNYA DAYAK DARAT DAN ORANG LAUT

Keraton Ismahaya Landak

Keraton Ismahaya Landak

Bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Barat yang disebut Orang Laut adalah “suku Melayu” saat ini, namun jika dirunut sejarahnya baik dari kisah Mite kita akan menemukan bahwa sebenarnya antara orang Laut (Melayu) dan Orang Dayak adalah satu nenek Moyang. Kisah ini bermula dari kisah Dara Hitam yang berusaha merebut kembali kepala ayahnya yang dikayau oleh bala Biaju – kisah lengkapnya silahkan baca artikel KISAH PEREBUTAN TENGKORAK PATIH GUMANTAR – Di akhir kisah ini Dara Hitam melahirkan dua orang anak kembar yang bernama LUTIH dan KARI, namun Raja Pulang Palih memberi namanya DULKASIM dan DULKAHAR, jadilaha nama mereka dikenal dengan LUTIH DOLKASIM dan KARI DOLKAHAR (yang kemudian menjadi Kari Abdulkahar).

Ketika kedua anak ini menjadi dewasa maka dibagilah daerah kekuasaan mereka , dimana LUTIH DOLKASIM menguasai daerah darat hulu sedangkan KARI DOLKAHAR menguasai daerah pesisir. Ketika dilakukan pembagian daerah kekuasaan ini, maka dilakukanlah ritual adat dimana seluruh masyrakat menjadi saksinya. Maka diberikanlah masing-masing batu buat LUTIH DOLKASIM dan KARI DOLKAHAR sebagai tanda kesepakatan – batu ini diambil sebab dianggap manusia bisa berlalu tetapi batu ini akan tetap setia pada tempatnya.

Dalam upacara adat itu diucapkanlah sumpah oleh kedua belah fihak yaitu:

  1. Hidup harus tolong menolong
  2. Harus sama-sama mempertahankan keamanan rakyat dan desa
  3. Tidak boleh hidup tipu menipu sesama
  4. Harus hidup jujur dan adil
  5. Harus hidup setali darah

Selesai mereka mengucapkan sumpah tadi maka batu saksi itupun ditanam dihadapan seluruh rakyat didepan halaman rumah panjang di Kampung Jering. Kemudian mereka mengambil lagi sebuah batu yang akan digunakan sebagai tapal batas wilayah. Mereka kemudian menaiki sebuah sampan untuk dijatuhkan ke sungai, mereka membawa dua orang saksi yang bernama RONTOS dan RANGGA. Mula-mula batu itu hendak dibuang di Sungai Lubuk Belambang, namun ketika hendak membuang batu itu timbulah dalam pikiran LUTIH DOLKASIN :“Kalau-kalau nanti Orang Laut akan hidup ngambang atau saling mencurigai satu sama lain”

Maka mereka milir lagi sampai ke KODAK, namun ditempat itupun tidak memuaskan hati mereka sebab mereka pikir jangan-jangan nanti keturunannya akan saling mengancam. Maka mereka milir lagi sampai ke LUBUK SENGARAS, inipun masih menguatirkan mereka, kalau-kalau kedua suku ini nanti akan berkeras-kerasan . Maka mereka berhenti dan berunding akankah mereka melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi?. Mereka pun mencoba untuk milir lagi sampai ke suatu daerah LUBUK MELANO, inipun belum memuaskan hati mereka – kalau-kalau kedua suku ini akan saling belato – atau saling panggil memanggil dan kacau.

Maka merekapun milir lagi sampai ke LUBUK SUWAL, ketika hendak membuang batu itupun mereka masih khawatir jangan-jangan kedua keturunan mereka nanti akan saling terjadi tipu menipu. Maka milirlah mereka ke LUBUK RIAM PAUH namun lokasi ini pun tidak memuaskan hati mereka, sebab mereka khawatir nanti keturunan mereka akan hidup berjauh-jauhan.

Kemudian mereka milir lagi sampai kedaerah yang bernama PENOLOS, namun tempat inipun membuat mereka takut, kalau-kalau nanti keturunan mereka kasin saling menghina. Maka mereka milir lagi ke daerah yang bernama SEPAT – mereka melihat tempat dan nama tempat ini bagus sebagai tempat berpisah (sepat berarti sifat). Pada milir yang kesembilan ini kedua saudara ini akhirnya membuang batu batas sempadan ini disaksikan oleh dua orang saksi. Ketika mereka hendak membuang batu itu mereka harus mengucapkan lagi sumpah yang sudah diucapkan ketika berada di Rumah Panjang Jering.

Namun ketika mereka hendak membuang batu KARI DOLKAHAR mengucapkan sumpah :

“DAYAK SALAH DAYAK MATI, LAUT SALAH DAYAK MATI”

Namun apa dinyana batu sempadan itu sudah jatuh kedasar Sungai. Segera LUTIH DOLKASIM dan kedua saksi memprotes keras  KARI DOLKAHAR akibat sumpah yang diucapkannya tidak jujur itu. Mereka meminta KARI DOLKAHAR untuk mengulangi sumpahnya lagi. KARI DOLKAHAR mau saja untuk mengulangi sumpahnya namun apa dinyana batu saksi tadi sudah jatuh dalam kedasar sungai dan sukar untuk diambil kembali.

LUTIH DOLKASIM sekembalinya ke kampung halamannya ia kemudian menjadi pemangku adat dengan gelar PATIH PERMULA- kemudian KARI DOLKAHAR menguasai daerah pesisir dan akibat pengaruh pendatang kemudian memeluk agam Islam sekitaran abad ke-14 dan menjadi Raden Kari Abdulkahar dan menguasai Kerajaan Landak.

Silsilah Raja-raja Kerajaan Landak dibagi menjadi empat periode pemerintahan serta dua fase keagamaan: Hindu dan Islam. Keempat periode yang dimaksud berkiblat pada keberadaan Istana Kerajaan Landak yang tercatat pernah menempati empat lokasi berbeda.

  1. Kerajaan Landak di Ningrat Batur (1292–1472) – fase agama Hindu
  2. Kerajaan Landak di Mungguk Ayu (1472–1703) – dengan rajanya Raden Iswaramahayan Raja Adipati Karang Tanjung Tua atau Raden Abdul Kahar (1472–1542) yang pertama kali memeluk Islam
  3. Kerajaan Landak di Bandong (1703–1768)
  4. Kerajaan Landak di Ngabang (1768–sekarang), dengan kepala negara bergelar Paduka Panembahan dan kepala pemerintahan bergelar Paduka Pangeran.

 

Tabe

Bekasi

6/Oktober/2014

 

 

Iklan