MENGAPA PERLU KONGRES PEMUDA DAYAK


MENGAPA PERLU KONGRES PEMUDA DAYAK

Kerinduan untuk menyelenggarakan Kongres Pemuda Dayak sudah dari dahulu digaungkan namun belum pernah sampai benar-benar terbentuk, walau kabarnya tahun 2010 pernah dilakukan sebuah kongres yang terbatas hanya di Kalimantan Tengah, namun demikian saat itu lebih sarat muatan politis dimana didalam keputusannya mereka menyatakan dukungan terhadap salah satu kandidat pilkada. Dari hasil kongres di Kalimantan Tengah itu Presiden MADN memberikan mandat kepada Gerakan Pemuda Dayak sebagai kepanitian untuk membentuk Kongres Pemuda Dayak Nasional, namun sampai hari ini kongres ini pun tidak pernah terselenggarakan bahkan Gerakan Pemuda Dayak yang awalnya merupakan kepanitian telah bertransformasi menjadi sebuah ormas.

Gerakan kepemudaan Dayak untuk membangun tanah leluhurnya sangatlah genting, sebab saat ini Pulau Kalimantan bukan lagi dikuasai oleh putera daerahnya belum lagi hak-hak adat yang dirampas sedemikian rupa oleh perusahaan-perusahaan bermodal besar. Namun disayangkan organisasi-organisasi Dayak yang ada saat ini lebih suka mencari status quonya dan tidak sedikit yang digunakan sebagai alat politik kelompok tertentu.

Jika berkaca pada pergerakan Dayak mula-mula melalui Syarekat Dayak, itu diawali oleh beberapa anak muda Dayak yang memiliki idealisem dan menyadari bahwa Suku Dayak saat itu sangat tertinggal dan termarginalkan. Maka pada tanggal 18 Juli 1919 di sebuah gereja di Hampatong, Kuala Kapuas para pemuda itu mendirikan sebuah organisasi bernama Sarikat Dayak yang bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat Dayak. Mereka bergerak pertama-tama untuk merebut hak politik dari tangan pemerintahan kolonial Belanda, kemudian secara ekonomi dengan mendirikan “Koperasi Dayak”, dalam hal pendidikan mereka berhasil mendirikan beberapa sekolah dan kepanduan untuk menggerakan kaum mudayanya, bahkan Syraikat Dayak bergerak melalui media dengan mendirikan tabloid “Soera Pakat”. Namun semenjak bergabung di pemerintahan RI terutama pada masa Orde Baru, pergerakan kaum muda Dayak ini secara sistematis dipadamkan baik secara pendidikan dan kesejarahan sehingga seolah-olah orang Dayak itu hanyala suku primitive yang hanya tau berburu, minum tuak dan menombak babi dan sama sekali tidak memiliki sumbangsih apapun didalam pergerakan perjuangan kemerdekaan. Sehingga sampai saat ini Bangsa Dayak terutama kaum mudanya telah kehilangan tokoh yang bisa memberikan inspirasi dan kebanyakan tumbuh menjadi generasi yang permissive. Kaum muda Dayak kehilangan suara profetiknya.

Pada tahun 2010 yang lalu Teras Narang sebagai Presiden MADN pernah mengatakan agar kaum muda Dayak jangan bersikap pasif dalam menyikapi setiap perkembangan yang terjadi, namun sebaliknya harus punya semangat proaktif untuk membuktikan kemampuan yang dimiliki sebagai salah satu subyek pembangunan (Sumber Kompas). Memang secara sumber Daya Manusia sebenarnya orang Dayak tidaklah kalah jika dibandingkan dengan suku-suku lainya – namun karena kurangnya kepercayaan diri dan wawasan yang membuat seolah-olah SDM Dayak ini maish rendah. Ini pun setali tiga uang dengan yang dihadapi sodara-sodara Dayak yang ada di Sabah dan Serawak. Kegerakan Dayak sering dibatasi oleh ego garis sempadan dan ego sub suku sehingga persatuan Dayak secara kolektif ini pun masih sebagai imagined community, padahal banyak isu-isu yang mesti bisa dijawab oleh kaum muda Dayak, diantaranya:

1. Di Sektor Ekonomi antara lain :

  • Kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi yang menyebabkan tinggi angka pengangguran di seluruh daerah Kalimantan.
  • Kurangnya pengelolaan dan pemanfaatan SDA (Sumber Daya Alam) yang sangat besar yang tersebar diseluruh daerah Kalimantan oleh penduduk asli (Dayak) karena minimnya kemampuan dalam memanfaatkan, mengolah dan mempergunakan hasil dari Alam itu sendiri serta keterlibatan baik dari pemerintah pusat, daerah bahkan masyarakat dalam proses kerjasama demi perubahan positif bagi daerah Kalimantan.
  • Masih banyak pemangku jabatan di pemerintahan yang masih berpikiran sempit, mengisi kantong sendiri serta memperkaya diri dengan meraup hasil bumi tanpa memikirkan generasi mendatang. Apabila setiap pemimpin mau membuang ego, sifat serakah dan mau untuk bahu membahu membangun daerah serta mendidik pemimpin baru, maka pemerataan pembangunan akan terlaksana dengan baik dan berkesinambungan.
  • Pola berpikir masyarakat daerah yang masih mengandalkan ego serta terkesan malas untuk mengelola dan memanfaatkan setiap kesempatan dalam berwirausaha.
  • Modal dan infrastruktur yang kurang memadai dalam membantu pelaksanaan program pemerintah daerah dalam menjalankan fungsi dan tugas yang diemban.
  • Masih tingginya tingkat pengangguran di Kalimantan disebabkan susahnya masyarakat asli dayak untuk dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan dibanding dengan masyarakat daerah lain yang mudah untuk mendapatkan pekerjaan di tanah dayak sendiri.

2. Di Sektor Pendidikan

  • Kurangnya mutu Pendidikan yang menyebabkan kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi yang menyebabkan tinggi angka pengangguran di seluruh daerah Kalimantan.
  • Masih minimnya infrastruktur dan sekolah-sekolah yang ada di setiap daerah pedalaman yang menyebabkan banyak anak-anak terutama didaerah terpencil masih belum mendapatkan pendidikan yang layak. Padahal jikalau dimaksimalkan dalam pengentasan
  • Pengembangan kemampuan di bidang Pendidikan baik Formal (akademik) ataupun Nonformal (Leadership, Enterpreneurship dll).
  • Pengembangan pendidikan sejak usia dini (Paud), Wajib belajar 9 tahun dan program pemerintah lainnya ke masyarakat pedesaan demi tercapainya SDM yang berkualitas.

3. Di Bidang Kesehatan

  • Masih kurangnya kesadaran masyarakat didaerah pedalaman akan pentingnya hidup sehat.
  • Masih kurang tersedianya klinik, puskesmas, rumah sakit dan tenaga medis didaerah pedesaan/pedalaman.
  • Masih jarangnya penyuluhan kesehatan secara mendalam baik bagi masyarakat kota ataupun pedesaan.
  • Pentingnya infrastruktur MCK dan penanaman sikap hidup sehat didalam kehidupan bermasyarakat.
  • Kurangnya Pengembangan kualitas kesehatan masyarakat baik di desa, kabupaten, dan kota diseluruh daerah Kalimantan. (Pelaksanaan KB, Imunisasi, Program Keluarga Sehat Kalimantan)

4. Di Sektor Kebudayaan dan Pemerintahan

  • Kurang diterapkannya penggunaan bahasa daerah oleh generasi muda dayak karena merasa malu bahwa bahasa daerahnya adalah bahasa yang digunakan di kampung. Bahasa yang digunakan oleh generasi muda sekarang lebih banyak dengan penggunaan bahasa “gaul” karena makin bergesernya kecintaan terhadap daerah dan kebudayaan sendiri.
  • Minimnya Media informasi untuk mengangkat sejarah dan adat istiadat dayak kepada generasi muda.
  • Bergesernya nilai-nilai luhur masyarakat daerah ke masyarakat perkotaan karena kurangnya rasa kepedulian didalam masyarakat dayak untuk mencintai, menjaga dan melestarikan adat istiadat dan kebudayaan luhur dayak itu sendiri.
  • Minimnya pembelajaran tentang sejarah dayak kepada generasi muda jaman sekarang karena kurangnya peran pemerintah dalam menerapkan kecintaan terhadap budaya dan adat istiadat dayak kepada generasi muda itu sendiri.
  • Minimnya peran dan kepedulian pemerintah daerah khususnya para pemangku jabatan terutama dinas pariwisata, Dinas pemuda dan olahraga dalam merangkul dan mengajak para generasi muda baik yang ada dikalimantan bahkan diluar kalimantan untuk mempelajari, mengolah dan melestarikan kebudayaan dayak baik di Kalimantan, nasional bahkan internasional.
  • Kurangnya kepedulian para pemangku jabatan di kursi pemerintahan daerah untuk memupuk kejujuran dan kepedulian dalam memimpin daerah, membangun daerah serta kepedulian untuk melahirkan pemimpin daerah khususnya generasi muda dayak.
  • Kebebasan dalam berpolitik (memilih Pemimpin secara langsung dan diangkat dengan proses adat agar para pemangku jabatan dipemerintahan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengemban tugas di kursi pemerintahan).
  • Para pemangku jabatan harus mempertimbangkan secara matang dalam pemberian ijin tambang atau usaha perkebunan kepada perusahaan asing/pekerja asing/ masyarakat diluar Kalimantan dalam membuka lahan usaha tanpa memberikan hak masyarakat asli bahkan memberikan hukuman apabila merampas hak yang dimiliki oleh masyarakat adat itu sendiri. (kasus para tokoh adat dayak yang dirampas hak tanah adatnya tanpa ada pendampingan dan bantuan hukum dalam penyelesaian persoalannya, Hak tanah adat yang masih banyak dirampas oleh banyak pengusaha asing/ pengusaha luar Kalimantan).

5. Di Sektor Hukum

  • Kurangnya Pengembangan pengetahuan di bidang Hukum agar masyarakat dayak paham dan mengerti tentang hukum adat/Hukum positif Indonesia. (Keadilan di mata hukum, persamaan hak  atas tanah adat, hak bersekolah, hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak mendapatkan pelayanan kesehatan, hak dalam politik, keadilan dimata hukum dll).
  • Masih minimnya pemerintah dalam memberikan pengetahuan dalam bentuk sosialisasi peraturan, seminar tentang pengetahuan dibidang hukum dan bantuan hukum kepada masyarakat adat dalam memperjuangkan setiap haknya terutama hak tanah adat.
  • Masih banyaknya tindak pidana yang terjadi akibat minimnya peran serta pemerintah dalam mendidik masyarakat untuk sadar dan taat akan hukum yang berlaku.
  • Masih banyaknya penyelewengan hak dan ketidakadilan didalam proses penyelesaian hukum karena unsur kepentingan orang yang berkuasa, memiliki jabatan dan uang.

 

Menjawab hal ini maka tercetuslah ide untuk membentuk sebuah Aliansi Pemuda Dayak (APD) yang dibentuk atas dasar kepedulian terhadap utus dayak/sesama saudara dayak. APD (Aliansi Pemuda Dayak) bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum dayak baik di tanah dayak, nasional bahkan Internasional.

Tujuan itu sendiri adalah untuk memfasilitasi dan mendidik Pemuda/i dayak untuk menjadi generasi yang berwawasan luas, berkualitas, bernilai, berharkat, bermartabat, dan memiliki daya saing yang tinggi. Berangkat dari Sejarah, kebudayan dan adat istiadat yang ada dan telah lama ada serta berbagai kasus yang terjadi di tanah dayak yang merenggut banyak hak baik tanah adat, hak bersekolah, hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak mendapatkan pelayanan kesehatan, makin hilangnya adat istiadat  dan kebudayaan asli, hak dalam politik, keadilan dimata hukum bahkan banyak hak lainnya. Maka 4 pemuda yaitu Cakra Wirawan Emil Bangkan, Evan Crisentius Pahoe, Christian Radia Filsan Bahen & Doby Rifadi Ruben Badjau akhirnya membawa Gagasan ini ke pihak saudara kalbar yang ada dijakarta dan saudara Kaltim yang ada di Bandung kemudian diperbincangkan dan akhirnya sepakat untuk membentuk sebuah aliansi yang bernama Alinasi Pemuda Dayak. APD sendiri mulai menjalankan aktivitasnya dengan mengangkat isu tentang Pilkada tidak langsung melalui UU Pilkada yang di keluarkan oleh DPR pusat yang akhirnya dicabut dan digantikan oleh Perpu yang dikeluarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden ke 6) dan akhirnya melakukan aksi pada tanggal 19 Oktober 2014 di Bundaran HI, Jakarta, dengan tujuan mendukung pilkada langsung dengan bentuk kegiatan kesenian tari tradisonal Kalimantan serta penyampaian aspirasi dari pemuda/i dayak itu sendiri. Kegiatan lainnya adalah visitasi melalui pembukaan stand Folks Of Dayak pada acara Pesta Seni dan Budaya Dayak ke – 12 pada tanggal 6 – 8 November 2014 di Yogyakarta. Dari 2 Kegiatan ini banyak hadir dukungan Positif dari Pihak Mahasiswa dan masyarakat dayak Kalteng, Kalbar, Kaltim dan Kaltara di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta pada khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya. Serta dilakukannya pertemuan lanjutan di Yogyakarta yang dihadiri oleh Iwan Djola, Mei Christy Sengoq, David Sengoq, Michael Lidang, Theo Nugroho untuk membuat konsep Kongres Pemuda Dayak.

Aksi Aliansi Pemuda Dayak Menolak UU Pilkada Tidak Langsung di Jakarta

Aksi Aliansi Pemuda Dayak Menolak UU Pilkada Tidak Langsung di Jakarta

Aksi Aliansi Pemuda Dayak Menolak UU Pilkada Tidak Langsung di Jakarta

Aksi Aliansi Pemuda Dayak Menolak UU Pilkada Tidak Langsung di Jakarta

Aksi Aliansi Pemuda Dayak Menolak UU Pilkada Tidak Langsung di Jakarta

Aksi Aliansi Pemuda Dayak Menolak UU Pilkada Tidak Langsung di Jakarta

FOD di Pentas Seni & Budaya Dayak XII di Yogyakarta

FOD di Pentas Seni & Budaya Dayak XII di Yogyakarta

 

Pertemuan di Yogya untuk membicarakan Kongres Pemuda Dayak

Pertemuan di Yogya untuk membicarakan Kongres Pemuda Dayak

Pertemuan di Jakarta

Pertemuan di Jakarta

Tujuan APD

Tujuan dibentuknya APD itu sendiri adalah untuk memfasilitasi dan mendidik  Pemuda/i dayak untuk menjadi generasi yang berwawasan luas, berkualitas, bernilai, berharkat, bermartabat, dan memiliki daya saing yang tinggi. Tjuan pengembang SDM pemuda/i dayak itu sendiri meliputi :

  1. Pengembangan kemampuan di bidang Pendidikan baik Formal (akademik) ataupun Non formal (Leadership, Enterpreneurship dll)
  2. Pengembangan kualitas kesehatan masyarakat baik di desa, kabupaten, dan kota diseluruh daerah Kalimantan. (Pelaksanaan KB, Imunisasi, Keluarga Sehat Kalimantan)
  3. Pengembangan kesejahteraan kehidupan masyarakat di sektor ekonomi. (Pemberian pengetahuan dan pembentukan serta pengembangan UKM dimasyarakat baik dalam skala kecil maupun menengah)
  4. Mengangkat kebudayaan dan adat istiadat yang semakin lama semakin hilang agar dapat dilestarikan didalam kehidupan masyarakat dayak. (Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari dalam komunikasi, pengenalan, pembelajaran dan pelestarian kebudayaan kepada generasi muda, dalam bentuk tarian daerah, upacara adat, sejarah dayak, seni musik tradisional atau hal lainnya).
  5.  Pengembangan pengetahuan di bidang Hukum agar masyarakat dayak paham dan mengerti tentang hukum adat/Hukum positif Indonesia. (Keadilan di mata hukum, persamaan hak  atas tanah adat, hak bersekolah, hak mendapatkan kehidupan yang layak, hak mendapatkan pelayanan kesehatan, hak dalam politik, keadilan dimata hukum dll).
  6. Kebebasan dalam berpolitik (memilih Pemimpin secara langsung dan diangkat dengan proses adat)

 

 

JARGON MENGAPA PERLU KONGRES

BORNEO

B = Bersatu – sebab belum semua rumpun Dayak ini bersatu bahkan belum semua mau menyebut dirinya Dayak

O = Organisasi – Butuh wadah organisasi yang dapat digunakan oleh kaum muda Dayak

R = Right – Untuk memperjuangkan hak-hak Masyarakat Dayak

N = Non Profit – Organisasi ini harus terlepas dari kepentingan politis dan finansial

EO = Empowering – untuk memperlengkapi kaum muda Dayak sehingga bisa menjadi SDM yang kompeten.

 

Buat Folks yang ingin terlibat aktif dan militan didalam pembuatan Kongres Pemuda Dayak ini silahkan joing group FB:

PANITIA PERSIAPAN KONGRES PEMUDA DAYAK

Atau bisa juga mengirimkan email ke : komunitas.dayak@gmail.com

Atau menghubungi BB Pin: 7F917957

Iklan