TUGU BUAYA DI LAMIN ADAT DAYAK LUN DAYEH


TUGU BUAYA DI LAMIN ADAT DAYAK LUN DAYEH

 ULUNG BUAYE'  (Tugu Buaya) didepan Lamin Adat Dayak Lun Dayeh di Pulau Sapi Malinau

ULUNG BUAYE’ (Tugu Buaya) didepan Lamin Adat Dayak Lun Dayeh di Pulau Sapi Malinau

Setiap kali folks mengunjungi rumah adat Dayak Lun Dayeh maka akan selalu ada sebuah tugu atau patung Buaya didepannya atau disebut ULUNG BUAYE’ dalam bahasa Lun Dayeh. Buaya adalah salah satu hewan sakral bagi Dayak Lun Dayeh atau dikenal dengan ADA’ BUAYE BUDA’ (Roh Buaya Putih) sebab diyakini roh ini yang ada di alam sekitar ini akan memberikan pertanda baik atau buruk. Selain itu Buaya dianggap sebagai binatang yang kuat yang melambangkan kepahlawanan dan kesatrian seorang Dayak Lun Dayeh.

Jika seseorang pada zaman dahulu berhasil memenggal kepala musuhnya maka ia dianggap seorang sakti atau jawara, sehingga ketika ia pulang kembali ke kampungya, ia akan mendirikan sebuah kayu yang penuh dengan ukiran pada sebuah tugu berbentuk buaya atau naga. Maka para penghuni rumah panjang akan menari SEMAJAU disekeliling patung buaya tadi selama beberapa hari sambil meminum tuak atau dalam bahasa Lun Dayehnya disebut PENGASIH atau BURAK.

Seorang yang sakti akan menunjukan kehebatanya kepada para tamunya dengan memotong bagian belakang tugu buaya itu dengan senjata khas Lun Dayeh yang disebut FELEPET. Senjata FELEPET ini mirip seperti samurai dan saat ini sudah sangat susah mendapatkan FELEPET yang asli – penulis beruntung berhasil memiliki sebuah FELEPET asli dari abad ke-18.

FELEPET milik penulis

FELEPET milik penulis

Tabe

8/Januari/2015

Iklan