EKSPEDISI FOD KE TAMIANG LAYANG


EKSPEDISI FOD KE TAMIANG LAYANG

Pada bulan Januari 2015 yang lalu team FOD melakukan ekspedisi ke daerah Barito. Tujuan awal team FOD adalah untuk melakukan visitasi ke Desa Kemawen, Barito Utara, sebab kami mendengar ada kasus penangkapan terhadap warga Dayak yang mempertahankan tanahnya. Maka team FOD mengumpulkan pemuda-pemudi Dayak yang secara sukarela mau pergi kesana diantaranya ada seorang pengacara wanita Dayak Sala Taher, lulusan ilmu hukum Dobby, bahkan Risky salah satu admin FOD yang masih kuliah disalah satu universitas swasta di Yogya ikut meluangkan waktu untuk pergi ke TKP.

Team FOD yang menuju Tamiang Layang

Team FOD yang menuju Tamiang Layang

Perjalanan kami dimulai dari Surabaya dimana penulis bertemu Sala dan Risky yang datang dari Jogjakarta. Walaupun Risky adalah salah satu admin FOD namun secara real penulis hanya pernah bertemu sekali, lebih-lebih dengan pahari Salawati yang tidak pernah bertemu sebelumnya. Namun dengan satu tekad yang sama kami ingin pergi kesana untuk memberikan suatu sumbangsih kepada masyarakat Dayak yang mengalami penzaliman. ***Cerita perjalanan di Surabaya akan penulis ceritakan di bagian lain tulisan

Sesampainya di Palangkaraya pada tanggal 22 Januari 2015 kami mengumpulkan para Pemuda Dayak di sana untuk brain storming pembentukan Aliansi Pemuda Dayak. Sebab sudah 8 kali pertemuan diadakan di Kalimantan Tengah belum berhasil membuahkan kepenguruan yang definitif selalu yang hadir 3 atau 4 orang saja. Namun pada hari itu Tuhan menjawab kerinduan kami dengan terkumpulnya beberapa pemuda Dayak yang militan dan mau ikut terlibat didalam Kegerakan Pemuda Dayak ini. Kami menceritakan kerinduan untuk mengadakan Kongres Pemuda Dayak yang memang inisiatif awalnya berasal dari kaum muda dimana juga kaum muda Dayak yang mengorganisirnya dan melaksanakanya.. *** Hasil pertemuan ini akan penulis tuliskan dalam tulisan yang terpisah juga

Pertemuan Aliansi Pemuda Dayak Di Palangkaraya

Pertemuan Aliansi Pemuda Dayak Di Palangkaraya

Pertemuan Aliansi Pemuda Dayak Di Palangkaraya

Pertemuan Aliansi Pemuda Dayak Di Palangkaraya

Maka keesokan harinya Jumat tanggal 23 Januari kami ber-6 orang terdiri dari Risky, Sala, Dobby, Ocy, Yudhi dan penulis sendiri berangkat menuju Muara Teweh. Ditengah perjalanan kami menyempati untuk menziarahi makam Christian Simbar – salah satu pejuang Dayak Maanyan yang berjuang dalam pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah bersama Tjilik Riwut. Lalu kami melanjutkan perjalanan kami ke Muara Teweh, amun ketika dalam perjalanan dari Palangkaraya menuju Muara Teweh, kami mendapatkan contact person warga, fihak polisi dan perusahaan, kami berusaha menggali informasi sedalam-dalamnya mengenai kasus Kemawen – namun memang nampaknya kasus Kemawen cukup pelik dan banyak kejanggalan disamping itu situasi desa yang tidak kondusif untuk team FOD pergi kesana. Maka kami memutuskan untuk pergi ke daerah Tamiang Layang untuk bertemu salah satu pejuang lingkungan Dayak, seorang perawat bernama Mama Maleh atau Ibu Mardiana. Ibu Mardiana ini juga sering disebut sebagai Che Guevara-nya Dayak. Tidak ada yang tahu banyak mengenai porifile ibu bersahaja satu ini, namun dibalik kesahajaannya beliau sangat berjuang aktif membela warga di Tamiang Layang yang mengalami kriminalisasi akibat konflik lahan, bahkan telah banyak bersuara di dunia Internasional.

Menziarahi makam Christian Simbar

Menziarahi makam Christian Simbar

Menziarahi Makam Christian Simbar

Menziarahi Makam Christian Simbar

Profile Ibu Mardiana

Dalam perjalanan menuju Tamiang Layang kami mampir ke Desa Bambulungan. Desa Bambulungan adalah kampung halaman orang tua admin Risky. Disana kami menjenguk Kakah atau Kakehnya Risky yang tidak menyangka akan mendapat kunjungan cucunya secara tiba-tiba dari Jawa. di Bambulungan kami bercengkrama dengan keluarga Risky dan menyempatkan menikmati Durian yang memang saat itu sedang musimnya. Setelah puas bercengkrama, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke Tamiang Layang.

Admin Risky dengan Kakeknya

Admin Risky dengan Kakeknya

Di Tamiang Layang, kami disambut oleh Mama Maleh, tidak lama buat kami untuk akrab dengan sosok pejuang Dayak ini. Setelah beristirahat sejenak, kami bersama Mama Maleh melakukan perjalanan ke Desa Sarapat bertemu salah seorang warga bernama Bapak Ukaiman atau dikenal Bapa Kintet yang tanah kebunnya dirampas secara paksa oleh salah satu perusahaan Sawit. Bapak ini telah kehilangan salah satu anaknya akibat sakit dan dua anaknya telah dipenjara akibat memperjuangkan tanah kebun mereka. Jadi cerita mereka secara singkat telah terjadi pemalsuan dokumen. Memang orang Dayak jaman dahulu tidak mengenal surat-menyurat tanah. Karena orang Desa memiliki hukum Adat dan saling percaya, sehingga batas-batas tanah hanya ditetapkan berdasarkan tanda pokok-pokok kayu atau gundukan batu. Suatu ketika warga desa ini diundanglah untuk mengikuti sosialisasi Sawit, dimana mereka menandatangani daftar hadir sosialisasi ini. Namun ternyata oleh oknum aparat Desa kop blangko daftar hadir ini diganti menjadi PERSETUJUAN PEMBEBASAN LAHAN. Disinilah permasalahan ini dimulai, bukan hanya kebun-kebun warga yang diambil tetapi bahkan situs adat budaya Dayak Maanyan juga hilang digerus oleh perusahaan sawit ini.

Di rumah Mama Maleh / Ibu Mardiana

Di rumah Mama Maleh / Ibu Mardiana

Kunjungan ke rumah Bapa Kintet

Kunjungan ke rumah Bapa Kintet

Bersama Bapa Kintet

Bersama Bapa Kintet

Situs yang hilang ini adalah situs perdamaian Dayak Maanyan Padju Epat dan Dayak Maanyan Padju Sapuluh. Zaman dahulu antara orang Padju Sapuluh dan Padju epat saling bermusuhan dan saling hakayau atau saling memotong kepala. Maka sebagai bentuk perjanjian perdamaian mereka memilih suatu pohon di sebuah danau disana masing-masing seorang perwakilan padju epat dan padju sapuluh mengorbankan dirinya sebagai korban pendaimaian. Keduan orang ini disembelih dipohon ini dan kepala mereka ditanam dibawah pohon ini sebagai tanda perjanjian damai abadi antara Padju Epat dan Padju Sapuluh, namun apa dinyana saat ini situs perdamaian dan danau ini sudah hilang digerus traktor dan berubah menjadi padang sawit. Bukan hanya situs budaya yang hilang, tetapi beratus-ratus hektare hutan anggrek pun turut lenyap menjadi korban keserakahan manusia.

Kunjungan kerumah warga di Desa Sarapat

Kunjungan kerumah warga di Desa Sarapat

Salah satu warga berkata: “Kami ini sebelum sawit masuk kekampung kami, kami memang orang miskin, tetapi kami tidak pernah kelaparan. Kami masih bisa memanen hasil kebun kami sendiri untuk dijual. Tetapi sekarang tidak bisa lagi. Pemerintah dan Pengusaha ini sudah mengajarkan dan memaksa kami untuk menjadi penjahat, pencuri dan pembunuh.” Dan memang benar folks, kasus gizi buruk banyak terjadi didaerah ini juga, dan sedihnya ini terjadi kepada anak-anak Dayak!!! yang selama ini tidak pernah terdengar anak-anak mengalami gizi buruk.

Disamping itu ada juga desa lain dimana aliran sungai yang disumbat oleh salah satu perusahaan tambang dan membuat sungai dikampung itu tercemar, tidak bisa dipakai lagi sebab jika digunakan akan menyebabkan gatal-gatal. Maka pertanyaannya dimana yang katanya lembaga Adat Dayak?? Bahkan aparat pemerintahan juga 11-12. Penulis jadi teringat sekitar tahun lalu juga terjadi kasus yang mengerikan dimana seorang remaja ditembak aparat TNI karena dituduh mencuri sawit, anak ini masih kelas 3 SMA. Saat itu ia bersama teman-temannya melewati jalan perusahaan dan saat itu dicegat oleh aparat TNI, dan tanpa aba-aba langsung memberondong timah panas ke arah mereka, dan anak ini bernama Rho tertembak dibagian lehernya. Aparat ada bukan untuk mengamankan Sawit tetapi mengamankan warga negara!!!!! Saat Rho ini tertembak hampir tidak ada lembaga adat Dayak yang mau mengurus dan membantunya. Padahal jarak kampung Rho ini sekitar 8 jam dari Samarinda. Singkat cerita Rho ini bisa dikirim ke Surabaya untuk dioperasi. Lalu dimana lembaga adatnya?? Lembaga ada jutsru jadi JURU BICARA perusahaan dengan seenak perutnya mengatakan keluarga berdamai. Syukurnya maish ada orang Dayak yang diluar lembaga-lembaga yang mengaku Dayak ini yang mau sukarela membantu Rho walau bukan keluarag seperti Tanten Emerensiana dan Kak Frans yang rela membawa Rho ke Surabaya dan menemani Ibu Rho ini. Ayah Rho sakit karena stroke, dan ibunya ini sangat lugu di rumah sakitpun tentara dan fihak perusahaan mengawali dengan ketat supaya isu ini tidak meluas. Tetapu justru dokter yang mengoperasinya, yang notabene bukan orang Dayak lah yang membantu untuk mengangkat kisah ini sehingga menjadi headline di Jawa Pos. Namun saat inipun kasus Rho seolah-olah menguap saja.

FOD membesuk RO di Surabaya dan memberikan bantuan

FOD membesuk RO di Surabaya dan memberikan bantuan

Kembali ke Tamiang Layang kasus yang tidak punya peri kemanusiaanpun terjadi disana, ada salah satunya ada seorang warga, dia ini memang tidak bisa baca tulis. Kemudian ia datang keperusahaan dan meminta jika bisa dipekerjakan entah jadi satpam kah atau bagian apa saja, dan menurutku itu jauh lebih terhormat dari pada ia memalak. Namun saat itu dikatakan kepada warga ini belum ada slot pekerjaan. Maka pulanglah dia, beberapa hari kemudian dia mendapat berita bahwa ia dipanggil oleh perusahaan. Maka pergilah dia kesana, baru sampai di pintu gerbang masuk perusahaan ini, dia diberi tembakan peringatan tiga kali dan disuruh tiarap. Dan setelah ia tiarap dia dihajar dan ditendang aparat ini dituduh mencuri, walau ia sudah berusaha menjelaskan tujuannya adalah untuk meminta pekerjaan dan ia dipanggil fihak perusahaan. Tidak sampai disitu kebiadaban mereka, orang ini kemudian disuruh berlutut dan mulutnya disumpal dengan tanah disuruh ia memakannya. SUNGGUH BIADAB!!!!

Bahkan tidak berhenti penderitaan warga Dayak ini, ada juga warga yang ditangkap karena dituduh mencuri padahal ia menoreh karet dikebun nenek moyangnya dan ada juga yang ditangkap karena sajam. Padahal orang ini pergi berladang dan membawa parang berladang adalah hal yang biasa. Saat ini sodara kita Salawati sedang mendampini kasus ini di pengadilan.. Pertanyaannya QUO VADIS DAYAK??? Warga Desa ini bersama ibu Mardiana sudah berusaha mendatangi DPRD, Gubernur, bahkan DPR RI. Apa yang mereka dapatkan?? hanya janji manis tanpa eksekusi nyata!

Kasus yang dituduh pencurian terjadi di desa Jana Jari oleh perusahaan perkebunan Karet PT.Sendabi Indah Lestari di Pengadilan Negeri Tamiang Layang, Barito Timur – Kalimantan Tengah. Perusahaan Perkebunan karet ini lahannya masih dalam status sengketa dengan masyarakat desa Janah Jari. Kasus ini sudah sampai ke KOMNASHAM. Dari kedua belah pihak kemudian mengadakan perjanjian antara perusahaan dan masyarakat desa, yaitu kedua belah pihak sama-sama tidak boleh mengaambil hasil kebun karet tersebut. Namun kemudian hari dari pihak perusahaan mengambil juga secara sefikah hasil kebun karet tersebut, melihat hal tersebut masyarakat yang juga merupakan petani karet akhirnya juga mengambil hasil namun kemudian dituduh mencuri oleh perusahaan. Mereka dilaporkan dan di proses oleh polsek Awang. Sekarang sudah masuk proses persidangan di Pengadilan Negeri Tamiang Layang ada 9 orang terdakwa dan dari 9 orang tersebut ada 2 pasangan suami istri. Ini merupakan salah satu contoh dari sekian banyak kasus kriminalisasi warga oleh oknum aparat dan perusahaan yang terjadi di daerah pedalaman/desa2 di Kab. Barito Timur. Beberapa warga yang kami temui tidak sedikit yg sangat awam dengan permasalahan hukum, dan beberapa kali juga warga bercerita mereka  mendapatkan ancaman dan terror jika masih berusaha melawan perusahaan, bahkan kerap kali mendapatkan tawaran-tawaran oleh pihak-pihak tertentu agar masyarakat mau “Berdamai” dengan perusahaan

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Pahari Sala mendamping warga sebagai pengacara tanpa bayaran

Pahari Sala mendamping warga sebagai pengacara tanpa bayaran

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Admin Risky menemani ibu yang jadi tersangka

Admin Risky menemani ibu yang jadi tersangka

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Persidangan Warga Jana Jari

Keesokan harinya kami, pergi kedesa Pulau Patai – melewati Jembatan Desa yang sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki oleh Pemerintah. Disini kami menziarahi makam seorang pemuda Dayak bernama Riko Mudioto, pemuda ini berusia 26 tahun, namun ia dengan segenap tenaga berusaha membela hak-hak warga di Tamiang Layang bersama pahari Salawati. Sehingga ia sudah tidak begitu memperdulikan kesehatannya dan kelelahan itulah yang kemudian merenggut nyawanya.

Menziarahi makam Riko

Menziarahi makam Riko

Menziarahi makam Riko

Menziarahi makam Riko

Sesudah kami menziarahi Maka Riko, kami menyempatkan diri mandi disungai Pulau Patai yang masih jernih – bahkan didesa ini masih ditemukan Ornag Utan ynag hidup secara liar. Selesai puas mandi kami menjelejahi hutan didesa ini . Benar saja hutan ini kami banyak menemukan anggrek dari berbagai macam jenis bahkan sampai anggrek yang langka. Selain itu juga ada banyak tumbuhan obat yang tumbuh disekitar, salah satu yang kami bawa adalah sirih merah dan jenis bawang yang dipercaya bisa menjadi obat. Dalam hati kami bergumama entah sampai kapan keasrian hutan Kalimantan ini bertahan?? sebab sudah banyak yang hilang akibat kerakusan manusia.

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Mandi di Sungai Pulau Patai

Mandi di Sungai Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Menjelajahi Hutan Pulau Patai

Selesai kami menjelejahi hutan, kemudian kami kami bertemu dengan ibunya Riko, saat itu penulis hampir tidak bisa mengendalikan diri, melihat ibu ini menangisi kematian putra kesayangannya sambil dipeluk oleh sodari Salawati. Ekspresi tanpa kata yang sangat menampar batin, bahwa kami tidak bisa diam, harus ada sesuatu yang dilakukan untuk mengangkat harkat dan martabat orang Dayak Kembali. Kunjungan yang singkat ini telah membuat suatu perubahan pola pikir buat kami semua. Oleh karena itu kami berupaya untuk mendirikan Aliansi Pemuda Dayak yang memag tujuannya adalah mengangkat harkat martabat orang Dayak disegala bidang, bukan karena ada tujuan politis dan kekuasaan tetapi memang murni karena KEPEDULIAN. Sebab itu juga kami tanggal 18-22 Maret 2015 ini akan mengadakan Dayak Youth Camp disini dan membawa para pemuda Dayak dari setiap Kalimantan untuk menyatuka kekuatan dan membentuk kepengurusan yang definitif. Dalam acara inipun kami tidak akan meminta dana dari pejabat atau perusahaan tetapi murni hasil usaha sendiri. …** Nanti penulis akan tuliskan barang-barang yang kami jual untuk usaha Dana, jika ada folks yang perduli dan mau terlibat mari bergabung bersama-sama kami. Pahari bisa menghubungi Sdr. Dobby di 081322384096

Ibu Riko menangis di Pelukan Pahari Sala

Ibu Riko menangis di Pelukan Pahari Sala

Pahari Dobby kelelahan selama perjalanan pulang

Pahari Dobby kelelahan selama perjalanan pulang

 

Tabe

Jakarta 20/Feb/2015

 

Iklan