KEKELIRUAN ORNAMEN PATUNG DAYAK DIDEPAN BETANG MADN (MAJELIS ADAT DAYAK NASIONAL) PALANGKARAYA


KEKELIRUAN ORNAMEN PATUNG DAYAK DIDEPAN BETANG MADN (MAJELIS ADAT DAYAK NASIONAL) PALANGKARAYA

Patung Dayak didepan MADN

Patung Dayak didepan MADN

Walaupun ini hanyalah sebuah patung atau ornamen biasa, namun karena ini berada di betang MADN (Majelis Adat Dayak Nasional), maka sudah sewajarnyalah filosofi-filosofi adat budaya Dayak ditonjolkan disini. Kekeliruan utama pada patung didepan betang MADN di Palangkaraya ini adalah posisi “PULANG” atau gagang mandau yang menghadap kebawah.

Dari jaman nenek moyang dahulu gagang mandau orang Dayak TIDAK PERNAH menghadap kebawah, ia selalu menghadap ke arah atas. Didalam filosofi budaya Dayak, jika gagang ini menghadap kebawah maka ia menghadap ke arah PAMPATEI atau kematian, sedangkan ke arah atas adalah PAMBELUM atau kehidupan, sehingga jika orang ini ingin maju perang dengan posisi mandau seperti ini maka menurut kepercayaan orang Dayak, dia pasti akan mati atau kalah.

Kekeliruan arah gagang mandau ornamen patung didepan kantor MADN

Kekeliruan arah gagang mandau ornamen patung didepan kantor MADN

Sebenarnya sisi logis mengapa gagang mandau dibuat menghadap keatas, ialah supaya ketika penggunanya membuka mandau dari sarungnya, ia tidak melukai tangan sang pengguna, karena tangannya memegang bagian tajam dari mandau dan ketika dibuka dengan cara seperti itu riskan sekali bagian yang tajam ini keluar sedikit dari sarungnya dan melukai tangan pengguna.

Belum lagi ornamen bulu enggang di kepala patung ini yang juga tidak sesuai, seharusnya ornamen bulu enggang adalah putih, hitam putih. Inipun tidak sembarangan. Makna bulu enggang ini dalam kepercayaan suku Dayak Ngaju adalah melambangkan alam manusia dan alam Ilahiah, dimana alam Ilahiah ada dua yaitu alam atas dan alam bawah dan manusia berada ditengahnya – dilambangkan dengan warna hitam yang menunjukan kefanaan dan kelemahan seorang manusia.

Sehingga ini akan sangat disayangkan ketika sebuah lembaga adat Dayak, tetapi memiliki ornamen yang menyalahi adat dan filosofi Dayak itu sendiri, oleh karena itu mestinya setiap perencanaan harus ada pengawas arsitek tradisional baik motif ukiran, patung, senjata. Arsitek tradisional ini adalah orang-orang yang paham filosofi, adat, budaya, ritual, dan jangan asal menerima apa yang dibuat namun tidak sesuai dengan nilai atau adat budaya yang sebenarnya. Apabila dibiarkan saja, ini bisa menjadi gambaran untuk orang Dayak yang bisa dikatakan mana kuan uluh matur atau terserah apa kata orang saja mengatur kita, sebab tidak ada yang memprotesnya.

Kekeliruan arah gagang mandau ornamen patung didepan kantor MADN

Kekeliruan arah gagang mandau ornamen patung didepan kantor MADN

Maka dari itu kami sebagai pemuda Dayak yang tergabung dalam komunitas Folks Of Dayak (FoD) dan Aliansi Pemuda Dayak (APD), yang peduli akan budaya kita Dayak akan mengajukan keberatan kami kepada fihak terkait dalam hal ornamen Dayak yang tidak sesuai filosofi adat budaya Dayak khususnya Dayak di Kalimantan Tengah dan mengharapkan agar dapat dilakukan renovasi ulang.

Kami juga berharap folks bisa ikut mensharekan berita ini sehingga setidaknya bentuk ketidaksetujuan kita bisa disebarkan melalui media sosial. Terimakasih

 

Tabe

 

Riau, 29/Maret/2015

 

Iklan