GAYANG – SENJATA KAUM DAYAK KADAZANDUSUN


GAYANG – SENJATA KAUM DAYAK KADAZANDUSUN

Oleh: Tompinai Robson

Senjata Gayang

Senjata Gayang

Orang Dayak Kadazandusun memiliki senjata yang mirip dengan Mandau, yang disebut “Gayang”. Perbedaan dengan Mandau pada umumnya terletak pada design bilah dan sarung yang agak melengkung seperti Parang Ilangnya Dayak Iban. Ukuran panjangnya lebih panjang dari Mandau pada umumnya.

Seperti mandau, gayang juga dibuat dengan ritual-ritual tertentu. Saat pembuatannya, “dompuran” atau tempat membakar bilahnya maka akan diritualkan dengan ritual “subak”, mengunakan ayam jenis komburak (ayam putih), tanpa ritual, maka sang  empu penempa gayang bisa terkena tulah seperti ditulikan telinganya, dikaburkan matanya dan api pembakar mati sendiri. “Dompuran” juga terlebih dahulu ditaburi garam dan dibacakan mantera atau rinait “ponusi” agar supaya kelak gayang akan menjadi berbisa.

Ketika gayang sudah siap, yang pertama dilakukan oleh penempa gayang adalah mengorbankan seekor ayam jantan merah dan darahnya disimbahkan ke gayang, penempa membacakan rinait “pongoboh” sebagai tanda gayang itu bukan lagi “benda mati” tapi “benda hidup” yang harus dijaga oleh tuannya. Penyembelihan ayam jantan merah tanda bahwa gayang itu kelak akan menjatuhkan setiap laki-laki yang perkasa sebab ayam jantan melambang kegagahan.

Menurut orang tua, gayang yang sudah “disubak” dan “dikoboh” itu akan menjadi seperti makhluk bernyawa, dan makanannya adalah darah dan otak manusia. Maka, setiap kali seorang pahlawan membunuh musuhnya, mereka akan mengambil otaknya dan memasukkan ke dalam satu lubang hulu gayang dan juga di dalam sarung gayang, dengan itu, semangat musuh akan tinggal dalam gayang tadi.

Detail gagang gayang

Detail gagang gayang

Senjata Gayang

Detail tatahan bilah gayang

Senjata Gayang

Detail Bilah senjata Gayang

Sumber foto : http://www.vikingsword.com/vb/attachment.php?attachmentid=37991&stc=1

Tabe

20/8/2015

Iklan