ASAL-ASUL PADI MENURUT DAYAK LAWANGAN


ASAL-ASUL PADI MENURUT DAYAK LAWANGAN

Screenshot_2015-11-11-15-43-52-1

Dayak Lawangan / Luwangan adalah salah satu suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah. Dipercaya Dayak Lawangan adalah induk dari Sub Suku Dayak Kelompok Barito – seperti Bentian, Benuaq, Paser, Maanyan, Tabooyang, Deah, Tunjung, Bawo dan Kutai. Menurut situs “Joshua Project” suku Lawangan saat ini hanya berjumlah 109.000 jiwa.

Seperti hampir semua Suku Dayak di Kalimantan, padi dianggap sebagai suatu yang bersifat ilahiah dan sangat berharga. Orang Dayak Luawang percaya padi berasal dari alam dewa-dewi.

Konon sebelum manusia mengenal padi, manusia hanya makan dari hasil berburu dan hasil hutan saja. Pada suatu hari ada seorang manusia pergi berkunjung ke tempat tinggal para dewa. Di alam dewa itu ia melihat berbagai jenis tanaman padi yang sedang menguning dan berisi. Dalam kunjungan itu, manusia tadi dijamu makan oleh para dewa, ia menikmati makanan para dewa yang berasal dari padi tadi. Ketika manusia itu memakan makanan tersebut ia merasa bahwa makanan itu sangat nikmat dan menyegarkan tubuhnya.

Sesudah menikmati makanan tadi, ia memohon kepada para dewa supaya diberikan segalam macam jenis bibit padi tadi untuk ditanamkan dibumi, namun sayang sekali permohonan itu ditolak oleh para dewa, karena makanan yang terbuat dari beras hanya layak dimakan oleh para dewa saja. Maka pulanglah manusia itu tadi dengan tangan hampa. Namun ia berniat untuk kembali ke alam dewa dan mencuri sebanyak mungkin jenis bibit padi.

Benar saja beberapa waktu kemudian, ia kembali berkunjung ke alam dewa dewi, dengan diam-diam ia mencuri padi. Dia berusaha membawa jenis-jenis padi sebanyak mungkin. Namun ternyata usahanya ini diketahui oleh pada dewata, ia kemudian ditangkap dan semua padi curiannya diambil kembali. Lalu manusia tadi diusir kembali ke bumi – namun mereka tidak mengetahui bahwa ia berhasil menyembunyikan 2 butir padi didalam lubang pusatnya yang tertutup oleh pakaiannya.

Sesampainya dibumi, ia kemudian menanam 2 benih padi yang diperolehnya tadi, padi itu kemudian langsung tumbuh dan berbuah. Para dewa terkejut mengetahui hal itu, tetapi padi yang sudah terlanjur tumbuh itu tidak mungkin untuk dibawa kembali ke alam dewata, maka para dewa sepakat membiarkan padi itu untuk tumbuh menjadi bahan makanan manusia. Namun manusia diharuskan “membagi” hasil usaha tanaman padinya itu kepada para dewa. Dua butir tadilah yang menjadi induk moyang segala jenis macam padi dan padi ketan didunia ini.

Pemberian bagian untuk para dewa dari hasil usaha berladang ini dilakukan dengan memberikan sesajian berupa nasi dan lauk pauk serta makanan lain yang biasany dibuat dari bahan beras atau beras ketan. Sesajian itu yang ditaruh itu baru boleh dimakan manusia apabila sudah satu malam berselang, mereka percaya pada malam hari pada dewa telah mengambil bagiannya, sehingga makanan yang tersisa dalam bentuk sajian itu menjadi “hambar” karena telah kehilangan maknanya sebagai sesuatu yang menyegarkan tubuh.

Tabe..

Laut Cina Selatan

11/Nov/2015

Iklan