MENJAWAB – DAYAK BUKIT / MERATUS & BANJAR DARI MELAYU SUMATERA


MENJAWAB – DAYAK BUKIT / MERATUS & BANJAR DARI MELAYU SUMATERA

Dayak Meratus

Dayak Meratus

Beberapa waktu lalu admin melakukan diskusi mengenai entitas Banjar & Dayak Bukit – Ada anggapan bahwa Dayak Bukit dan Banjar bukanlah muasal suku di Kalimantan tetapi pendatang melayu dari Sumatera. Seperti yang dikutip berikut:

Menurut Alfani Daud, suku Dayak Bukit sebagaimana suku Banjar, nenek moyangnya juga berasal dari Sumatera dan sekitarnya ( daerah Melayu). Karena itu ada pulanya yang menamakan sebagai “Melayu Bukit” (Bukit Malay).Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen.Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi Ngayau yang ada jaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya “Aruh Bawanang”. Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, “memusat” karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihunioleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memilikidapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).

Sumber: http://dayakofborneo.blogspot.in/…/asal-muasal-suku

Untuk menjawab ini kita break down menjadi beberapa point:

1.ADAT RUMAH PANJANG –

Tidak semua sub suku Dayak yang menggunakan sistem Rumah Panjang – Beberapa Sub Suku Dayak sepertu Dayak Maanyan tidak menggunakan rumah panjang tetapi berbentu balai sama seperti rumah orang Dayak Bukit dan Orang Banjar, sebagian orang Dayak Ngaju di hilir mengenal rumah besar ketimbang rumah panjang, juga Dayak Sungkungk tidak kenal budaya Rumah Panjang tetapi Rumah Baluk yang bentuknya jauh beda dengan rumah Panjang dan suku Dayak lainnya. Memang pada Mayoritas Dayak mengamalkan Budaya Rumah Panjang atau Huma Betang tetapi tidak semua sub suku Dayak demikian. Perlu diingat Dayak itu sendiri terdiri atas lebih dari 400an sub suku yang berbeda cara hidup dan budaya.

Rumah Baluk

Rumah Baluk Dayak Sungkungk

Rumah Dayak Maanyan

Rumah Dayak Maanyan

2. BUDAYA KAYAU

Budaya Kaya awalnya bukan budaya tempatan, budaya ini dibawa oleh Dayak Rumpun mongoloid pada era migrasi Proto Melayu – ini bisa kita telisik didalam ajaran Kaharingan dan tathum (babad cerita genesis Dayak Ngaju) bahwa tidak ditemukan ajaran MENGAYAU atau memotong kepala, bahkan senjata pertama yang diturunkan oleh Ranying Hatalla berupa Dohong – yang tidak didesign untuk memotong kepala tetapi sebagai alat ritual.

3. PENGHORMATAN TERHADAP PERTANIAN

Ini justru adalah budaya Dayak pada umumnya, oleh sebab itu dikalangan orang Dayak ada istilah GAWAI, kalau orang Dayak Ngaju jaman dahulu menyebutnya BALIAN PAKANAN BATU namun adat ini sudah punah dikalangan Dayak Ngaju sendiri. Di Kalimantan Selatan di Kalangan Dayak Meratus hal ini masih lestari dengan acara ritual ARUH – yaitu syukur atas panen yang diberikan NINI BAHATARA

4. TARIAN KANJAR

Tarian ini malahan sama konsepnya dengan tarian kanjan Dayak Ngaju, ngajat Dayak Iban, kacet Dayak Kenyah hanya lagi-lagi setiap sub Suku Dayak memiliki variasi bentuk gerakan dan musik.

5. DAYAK BUKIT MASUK DALAM RUMPUN MELAYIC DAYAK

Sebenarnya bahasa Pahuluan dan Bahasa dayak Bukit memiliki kemiripan dengan group yang masuk didalam rumpun Melayic Dayak. Bahasa Melayik Dayak, juga disebut bahasa Bamayo atau bahasa Bumayoh, adalah salah satu dari rumpun bahasa Melayu yang dipertuturkan di Kalimantan Barat (sebagian Kayong Utara, sebagian Ketapang, sebagian Kapuas Hulu, sebagian Melawi) dan bagian barat Kalimantan Tengah (sebagian Kabupaten Lamandau, sebagian Sukamara, sebagian Kotawaringin Barat, sebagian Seruyan, sebagian Kotawaringin Timur). Bahkan bahasa Dayak Tamuan 66% mirip dengan bahasa Banjar – nampaknya ulasan dan tuduhan di blog diatas tanpa memperhatikan rumpun sebahasa dengan Dayak Bukit dan Banjar.

Nah lantas kenapa budaya Urang Banjar kemudian berbeda dengan orang Dayak pada umumnya????

Didalam Hikayat Banjar diceritakan Didalam hikayat banjar – diceritakan bahwa kedatangan Empu Jatmika dari Keling (Majapahit) merupakan perjalan damai yang diterima masyarakat Dayak disitu – sebagian Dayak Maanyan, Ngaju, Batang Alai, Batang Pitap, Abal dll tunduk pada kekuasaan Empu Djatmika. Namun kisah ini bertentangan dengan sastra lisan bangsa Dayak – bahwa kedatangaan pasukan Jawa ke Kalimantan adalah ekspedisi penaklukan kerajaan Nansarunai atau dikenal dengan peristiwa Usak Jawa. Ekspedisi penaklukan ini memang berhasil merebut kerajaan Nansarunai – Silahkan baca artikel terkait:

Nansarunai Ditaklukkan dengan Tiga Ekspedisi Militer

UPAYA PASUKAN MAJAPAHIT MASUK KE DAS KAHAYAN

Namun setelah mangkatnya Empu Djatmika maka berangkatlah Lembu Mangkurat ke Majapahit untuk membawa seorang pangeran Majapahit yang bernama Raden Putera untuk menjadi penguasa di Negeri Daha dengan gelar Pangeran Surjanata. Pada masa penguasaan Raden Putra inilah – maka dibuatlah suatu peraturan supaya jangan lagi mempraktekan budaya lokal dalam hal ini budaya Dayak namun diganti dengan adat dan kebiasaan majapahit baik dari segi pakaian, adat kerajaan dan ritusnya. Itulah tidak mengherankan di bagian Kalimantan Selatan sebagian Tengah gaya pakaian orang Dayak tidak lagi menggunakan gaya pakaian Dayak tetapi gaya pakaian jawa dan ini diikuti sampai kerajaan dipa berubah menjadi kesultanan banjar yang berocak Islam dan budaya Melayu kala itu adalah budaya yang sangat populer di Nusantara – Perlu diingat orang majapahit masa itu bukan melakukan transmigrasi tetapi membuat kerajaan nansarunai  menjadi salah satu propinsinya, namun semenjak pengaruh budaya melayu islam semakin kuat – dan runtuhnya kerajaan majapahit akibat proses islamisasi – maka kerajaan ini pun menerima pengaruh ini.

Dan memang Kerajaan Nansarunai kala itu sudah banyak melakukan hubungan dagang dengan kerajaan Sriwijaya bahkan sampai ke Madagaskar – benang merahnya akan kita temukan dalam kisah Cerita Urang Sepuluh yang menyebutkan bahwa tokoh bernama Anyan – dimana Cerita Urang Sepuluh dari Banjar, Kalimantan Selatan, menjelaskan cucu pertama dari Anyan, yakni tokoh Suku Dayak Maanyan yang bernama Lua pergi ke tanah melayu. Saat itu, Melayu atau yang lebih dikenal dengan nama Malaka merupakan pusat perdagangan yang ramai. Orang Suku Dayak memang terkenal memiliki ilmu tinggi. Lua yang mengikuti jejak Sang Kakek, merantau ke Pulau Sumatera yang masih merupakan tanah Melayu.

Seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya tentang :

SIAPA ORANG BANJAR??

Kalau kita lihat didalam Hikayat Banjar sendiri – perlu kita jawab.. siapakah penduduk sebelum berdirinya Kerajaan Dipa? dan Sesudahnya? maka akan terjawab ada penduduk asli yang mengamalkan budaya Dayak – namun kemudian seperti yang dijelaskan diatas ketika pemerintahan Pangeran Surjanata lah terjadi amalgamasi budaya – dan Orang Dayak yang tidak ingin meninggalkan budayanya ini pergi ke daerah perbukitan dan sebagian ke arah kalimantan bagian Tengah.

Selama ini kita menyebut dayak di Kalimantan Selatan sebagai Dayak Bukit, seolah-olah mereka memang sejak semula sudah bermukim di bukit. Kalau kita menelisik dari bahasa banjar pahuluan atau bahasa yang digunakan dayak bukit pada masa lalu tidak ditemukan kata “BUKIT” yang menunjukan keadaan topografi gunung yang tinggi ataupun rendah. Hanya ada tiga kata yang menunjukan ini yaitu; MUNGKUR, MUNJAL dan GUNUNG. Mungkur adalah gunung yang terendah yang landai sisi-sisinya. Munjal lebih tinggi dari Mungkur dengan sudut kemiringan kaki-kakinya lebi besar pula, sedangkan gunung jauh lebih tinggi dengan tebing yang curam dan pucanknya yang menjulang tinggi dan sukar dijelajahi. Bahkan jika kita melihat dari legenda atau mite Dayak Bukit tidak kita menemukan bahwa orang Dayak Bukit berasal dari dataran rendah di suatu muara sungai di tepi laut.

Sebagai buktinya didalam ritus adat Dayak Bukit ada beberapa peralatan upacara yang memiliki makna simbolis antara lain PARAHU MELAYANG (Perahu terapung), TIHANG LAYAR (Tiang layar), & BALAI BAJALAN (Balai berpindah-pindah). Selain itu ada beberapa ungkapan / perilaku dan tarian yang menggambarkan kehidupan tepi pantai. Misal menanam padi dikatakan “mengantar padi berlayar”, ladang atau huma disebut “pulau”, “laut tempat berlayar”, “Laut tempat memohon”. Pada acara Menyangga Banua ada satu tarian yang disebut “BALIAN BAKA LAUT”, yakni si balian digambarkan sedang menuju ke laut membuang sial dan mengenyahkan sumber marabahaya yang mungkin menimpa babuhan dan kampung halaman.

Ini juga didukung oleh catatan penjelajah Eropa yang datang ke Banjarmasin sekitaran abad -15 yang bernama Kapten Beeckman. Kapten Beeckman melakukan pelayaran  dengan kapal East India Company ‘Eagle Galle” dengan tujuan melakukan misi perdagangan ke kalimantan bagian tenggara (Banjarmasin) – menurut catatan kapten daniel penduduk pribumi di banjarmasin ini ada dua kelompok, yang pertama ialah kelompok yang menetap di area dermaga (umumnya terdiri dari orang banjar) dan kelompok lain ialah yang tinggal di perkampungan berciri tinggi sedang bentuk badan proporsional dan bersih warna kulitnya agak lebih gelap dari ras Mullato (campuran antara negro dan kulit putih) pada masa itu mereka sudah menjadi Mohamettan / muslim namun masih mempraktekan beberapa budaya pra melayunisasi.

Memang sebagian pada akhirnya perpaduan Dayak, Bugis, Melayu, dan Jawa yang membentuk suatu kumpulan etnis Banjar – Banjar sendiri awalnya adalah naman sebuah wilayah bandar dagang – Banjarmasin – bandar yang dipimpin oleh Patih Masih.

Memang pendapat ini masih mendapat pro kontra dari orang Banjar mapun dayak Sendiri – tetapi kalau kita lihat orang pahuluan – atau banjar hulu bahkan mereka jarang mau disebut sebagai Urang Banjar, namun seperti konklusi pada tulisan sebelumnya tentang “SIAPAKAH ORANG BANJAR” – maka banjar adalah secara genetis perpaduan gen Dayak dan para pendatang tetapi secara Budaya berbudayakan Melayu. Maka Banjar adalah Banjar bukan Dayak, Banjar adalah satu entitas tersendiri tetapi asal usulnya tidak dapat dilepaskan dari orang-orang Dayak. Ibarat sodara sepupuan, maka tepatlah istilah Banjar & Dayak adalah “BADINGSANAK”.

Tabe.

 11/18/2015

Iklan