STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT LUN DAYEH / LUN BAWANG


STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT LUN DAYEH / LUN BAWANG

Lun Dayeh

Lun Dayeh

Hampir semua sub suku Dayak mengenal strata sosial didalam kehidupan sosialnya – sama seperti ulasan mengenai Dayak Ngaju:

JIPEN (Budak) DALAM BUDAYA DAYAK NGAJU

Dayak Lun Dayeh / Lun Bawang ini memiliki strata sosial yang sama – supaya tidak salah faham, sebenarnya Lun Bawang dan Lun Dayeh itu sama saja. Lun Bawang istilah yang dipakai di Sarawak, sedangkan Lun Dayeh istilah yang dipakai di  Sabah dan Kalimantan. Pembagian strata didalam lingkup Dayak Lun Dayeh masih sangat kentara sebelum tahun 1900. Intinya ada dua kelas utama yaitu “Orang Bebas” atau LUN DO’ dan “Budak” atau DEMULUN. Status ini diturunkan dari generasi ke generasi dan perbedaan antara dua status ini masih dipelihara oleh masyarakat Lun Dayeh – sehingga mereka masih dapat mengetahui mana yang keturunan budak dan mana yang keturunan bangsawannya.

Walaupun istilah LUN DO’ digunakan untuk membedakan mana keturunan budak dan bukan, namun sebenarnya tidak semua orang bebas adalah LUN DO’. LUN DO’ sendiri bermakna “orang-orang baik” atau “orang-orang berkualitas” . Sehingga sebenarnya istilah LUN DO’ menunjukan bahwa orang tersbut dan keturunannya adalah diatas rata-rata orang lain.

Orang-orang lain yang dimaksud adalah masyarakat biasa atau disebut LUN TAP-TAP dan para pelayan atau disebut LUN TEBARING. Perbedaan antara seorang LUN DO’ dan LUN TAP-TAP ada pada status sosialnya. Namun yang mendasari perbedaan antara seorang LUN DO’ dan LUN TAP-TAP adalah sebagai berikut:

  1. Garis keturunanya
  2. Sikap sifatnya yang murah hati
  3. Apa yang sudah ia capai baik dalam hal kekayaan dan tindakannya untuk masyarakatnya,
  4. Kemapuannya berbicara didepan umum.

Sehingga dapat kita katakan karakter seorang LUN DO’ adalah karakter manusia ideal seorang Dayak Lun Dayeh. Sehingga itu kenapa keturunan LUN DO’ dianggap akan mewarisi sifat dan kharisma leluhurnya.

Kehormatan utama seorang LUN DO’ terletak pada pengolahan lahan untuk persawahannya – sebab tanpa itu ia akan kehilangan kemampuan sosialnya sebagai seorang LUN DO’, kemudian kepemilikan harta benda yang disebut BINAWEH berupa guci, manik-manik, gong dan lain-lain (akan kita bahas pada tulisan lainnya), selain itu juga kepemilikan atas hewan ternak seperti kerbau (KARIBAU), babi, dan ayam.

Namun pun demikan kepemilikan harta saja belumlah cukup untuk memenuhi persyaratan sebagai seorang LUN DO’. Ada aspek sikap dan sifat yang wajib dipenuhi oleh seorang LUN DO’. Yang pertama sifat yang harus dimiliki oleh seorang LUN DO’, ia harus bisa menunjukan kemampuan, kepintaran, kerajinannya didalam hal perekonomian melalui aktifitas bertani. Seroang LUN DO’ juga harus memiliki kemampuan lebih didalam hal teknis seperti pengetahuannya didalam perladangan, sedangkan seorang wanita LUN DO’ juga harus bisa menunjukan kemampuannya dalam hal memasak, mengasuh anak, mengatur rumah tangga, dan tentu saja tenaga yang ia berikan dalam menunjang pertanian. Itulah sebab LUN DO’ adalah sosok ideal bagi masyarakat LUN DAYEH.

Selain itu juga, seorang lak-laki LUN DO’ diwajibkan memiliki kemapuan yang mumpuni didalam hal berburu. Dari sejak kecil, anak-anak Lun Dayeh diajarkan pelbagai teknik berburu- sebab seorang laki-laki akan dianggap telah dewasa jika ia bisa membuktikan keberhasilannya berburu. Sebab dengan berburu ia juga akan menguasai pengetahuan medan, pengetahuan mengenai macam jenis tanaman dan hewan, membaca cuaca dan mengenal medan.

Tapi seperti sub suku Dayak lainnya, kegiatan MENGAYAU atau mencari kepala musuh – (nanti kita akan bahas dalam tulisan lain mengenai kegiatan mengayau didalam Dayak Lun Dayeh) – Seorang LUN DO’ sejati harus setidaknya mendapatkan satu kepala.

Selain hal diatas juga yang dilihat dari seorang LUN DO’ adalah kemampuannya berbicara didepan masyarakatnya – bagaimana kemampuannya meyakinkan masyarakatnya juga bagaimana adab dan gaya tutur bahasanya.

Hal penting lainnya adalah kemurahan hatinya, seorang LUN DO’. Seorang LUN DO’ diharapkan kebaikannya kepada kaum keluarga, sahabatnya dan masyarakat didesanya. Dalam hal membantu masyarakat di kampunyanya seorang LUN DO’ tidak berorientasi profit, kadangkala seorang LUN DO’ bisa meminjamkan lahannya untuk dipakai orang lain tanpa harus membayarkan uang sewa atau bagi hasil dari keuntungan pengolahan lahannya. Bahkan karena seorang LUN DO’ menguasai sejumlah besar lahan pertanian, ia juga dapat menjadi “Lumbung Padi” bagi masyarakat yang mengalami gagal panen. Pembayaran utang dilakukan apabila orang tersebut sudah memiliki cukup hasil buat dirinya sendiri dan ia akan membayarkan sejumlah beras yang ia pinjam ditambahkan 10% dari itu. Ia tidak mengenakan bunga, entah beras itu dipinjamkan setahun lalu atau sepulu tahun lalu, jumlah yang harus dibayarkan tetaplah sama.

Namun jika seorang LUN DO’ atau keturunannya gagal memenuhi persyaratan diatas ia akan dianggap sebagai seorang LUN DAT – atau keturunan yang menyimpang. Kaum LUN DAT ini tidak akan masuk dalam kelas LUN DO’ ataupun LUN TAP-TAP.

Khusus untuk LUN TEBARING atau kadang disebut LUN PETEPAR adalah orang-orang yang secara sukarela mengabdi kepada LUN DO’, biasanya karena permasalahan ekonomi atau permasalahan sosial tertentu. Seorang LUN PETEPAR bukan lagi menjadi seorang yang bebas ia menjadi milik penuh tuannya, namun demikian status ini bisa saja dihentikan oleh salah satu fihak kapanpun – walaupun hal ini sangat jarang sekali muncul. Seorang LUN PETEPAR akan dijamin oleh LUN DO’ dengan mendapatkan makanan dan tempat bernaung,  juga kadangkala akan digajih dengan sejumlah kecil uang dan hal lain seperti pakaian. Namun apabila si LUN PETEPAR ini merasa ia dianiaya oleh tuannya, ia bisa pergi mencari tuan baru di kampung lain – namun hal ini jarang juga terjadi.

Berbeda dengan DEMULUN – demulun adalah budak dari hasil tawanan perang, biasanya yang dijadikan tawanan adalah wanita dan anak-anak, sedangkan pria dewasanya langsung dibunuh ketika terjadi penyerangan. Umumnya DEMULUN ini bisa berasal dari kampung Lun Dayeh lainnya atau sub ethnik Dayak lainnya. Pernikahan antara golongan bebas dengan kaum budak ini tidak diperkenankan didalam budaya Lun Dayeh, kecuali jika itu hanya sebatas hubungan sexual antara pria dari golongan merdeka dengan wanita dari golongan budak, sedangkan jika terjadi hubungan antara laki-laki dari golongan budak dengan golongan merdeka, maka sang budak itu akan dihukum mati. Pekerjaan DEMULUN, biasanya adalah pekerjaan-pekerjaan kasar seperti menebang kayu – perbedaan DEMULUN dengan LUN PETEPAR adalah bahwa DEMULUN memang dianggap “properti” sang tuang rumah. DEMULUN bisa diperjualbelikan baik dengan gong, kerbau, tajau dll.

Strata sosial seperti ini mungkin masih dilakukan oleh orang Lun Dayeh / Lun Bawang sekitar tahun 1900an – semenjak Kekristenan diterima oleh kaum Lun Bawang & Lun Dayeh – strata sosial ini tidak dipraktekan, namun tidak sepenuhnya dilupakan. Menurut pengamatan penulis ketika berada di Malinau. Orang-orang Lun Dayeh masih bisa merunut siapa yang merupakan keturunan budak mana yang tidak, kadangkala -walaupun tidak diucapkan – namun membawa sentimen tersendiri, kadang dimanfaatkan didalam perpolitikan.

Tabe

Bekasi

4 Des 2015

 

 

Iklan