KEGIATAN MENGAYAU PADA SUKU DAYAK LUN DAYEH / LUN BAWANG


KEGIATAN MENGAYAU PADA SUKU DAYAK LUN DAYEH / LUN BAWANG

Hi folks Anak Adi Lun Dayeh, kalau sebelumnya kita membahas bagaimana struktur sosial kaum Dayak Lun Dayeh pada artikel:

STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT LUN DAYEH / LUN BAWANG

Dimana kita tahu bahwa bagi seorang LUN DO’ atau bangsawannya, ia wajib memperoleh kepala manusia sebagai trophy. Pada masa lalu jika seorang laki-laki Dayak Lun Dayeh/ Lun Bawang tidak terlibat didalam kegiatan mengayau ini, maka akan sangat sukar bagi dirinya mendapat penghormatan ditengah-tengah masyarakatnya.

Nah, kita bahas dahulu alasan mengapa Dayak Lun Dayeh melakukan kegiatan mengayau ini, perlu diingat hampir semua sub suku Dayak di Kalimantan melakukan kegiatan ini pada masa lalu, dan setiap sub suku memiliki cara pandang yang berbeda didalam memperlakukan kepala manusia yang dikayau. Bagi kaum Dayak Lun Dayeh masa lalu perburuan kepala ini berfungsi sebagai:

  1. Menunjukan “Manhood” atau kelaki-lakiannya atau kejantanannya – seorang laki-laki Lun Dayeh pada masa lalu jika tidak pernah mengayau, maka ia tidak akan mendapat tempat kehormatan ditengah masyarakatnya
  2. Pembalasan – Mengayau  juga dilakukan sebagai bentuk pembalasan atas penyerangan KAPUNG – Kampung oleh kapung lainnya atau oleh Sub Suku lainnya
  3. Digunakan didalam ritual kematian – ini juga sebenarnya disebabkan karena alasan ke-2 yaitu dendam, misal seseorang memiliki dendam atas orang lain mungkin karena pelanggaran adat, pelecehan, hutang atau lainnya. Maka ketika orang ini mati, kewajiban keturunannyalah untuk membalaskan dendam dengan membawa kepala musuh atau orang dari kampung musuh tersebut.
  4. Menunjukan kehebatan seorang LUN DO’ – seorang LUN DO’ harus bisa mendapatkan beberapa kepala hasil ekspedisinya sendiri, jika dia tidak bisa mendapatkannya sendiri maka dia sukar mendapatkan hormat masyarakatnya.

Namun satu hal yang pasti didalam kalangan LUN DAYEH ada suatu yang wajib, yaitu bagaimana meminimalkan resiko mereka ketika menyerang sebuah kampung, sehingga dari beberapa catatan british, orang Lun Dayeh / Lun Bawang banyak juga melakukan kegiatan “HEAD STEALING” atau mencuri kepala yaitu praktek asang kayau yang licik dan sembunyi-sembunyi, biasanya pengintaian rumah panjang seharian mencari titik lemah dan saat penghuni tertidur maka pagi pagi buta mereka menyerang secepat mungkin, ada juga yang mengincar kepala anak anak dan wanita yang sedang ada diladang.

Beberapa alasan akan hal ini adalah dalam ekspedisi menyerang kampung musuh itu sendiri penuh dengan resiko, biasanya para kayau ini sendiri bisa mengalami kelaparan jika ia tersesat ketika mencoba mencari jalur penyerangan kampung musuh, atau mengalami kemungkinan kematian akibat serangan binatang buas atau ular beracun. Bahkan ada kemungkinan ketika ia mengintai kampung musuh, bisa jadi ia lebih dahulu diketahui oleh musuh sehingga sebelum ia menyerang malahan musuhlah yang lebih dahulu meyerangnya. Jadi ekspedisi ASANG KAYAU ini belum tentu mejadi ekspedisi yang berhasil.

Yang menjadi musuh orang Dayak Lun Dayeh masa lalu bisa anatar sesama Lun Dayeh sendiri yang berbeda kampung, antara Sub Suku lain yang berdekatan seperti kaum Dayak Kelabit, Dayak Murut, Dayak Lengilo’, Dayak Sa’ban, Dayak Iban dll.

Penulis juga mendapat kisah, tentang kenapa saat ini tidak ada lagi Raja Lun Dayeh – konon kisahnya, Raja Lun Dayeh ini diserang oleh kaum pernah diserang oleh Dayak Iban sehingga menyebabkan rajanya terkayau, kemudian keturunannya pernah diserang oleh Dayak Benuaq (Penulis lupa namanya) – itulah konon yang meyebabkan orang Lun Dayeh tidak ikut serta didalam pertemuan damai Tumbang Anoi, karena kehilangan rajanya.

Untuk senjatanya orang Dayak Lun Dayeh mengenal beberapa senjata untuk peperangan yaitu FELEPET – kita pernah membahas mengenai apa itu FELEPET pada artikel dibawah ini:

FELEPET – SENJATA KHAS DAYAK LUN DAYEH / LUN BAWANG

Namun penggunaan FELEPET dianggap kurang effektive didalam peperangan, maka digunakanlah senjata yang disebut KARIT ILANG. Karit Ilang sebenarnya sama saja dengan Parang Ilang ayau Gayang kaum Dayak Kadazandusun di Sabah – variasi bentuk lain dari Mandau, dengan bilah yang besar. Bisa dibaca pada artikel dibawah ini:

GAYANG – SENJATA KAUM DAYAK KADAZANDUSUN

Jika seseorang pada zaman dahulu berhasil memenggal kepala musuhnya maka ia dianggap seorang sakti atau jawara, sehingga ketika ia pulang kembali ke kampungya dengan membawa kepala hasil buruannya itu dan ia akan mendirikan sebuah kayu yang penuh dengan ukiran pada sebuah tugu berbentuk buaya atau naga, yang disebut ULUNG BUAYA tempat pemuja kesaktian. Maka para penghuni rumah panjang akan turun GUKUI menari SEMAJAU dan menyanyi disekeliling ULUNG BUAYA tadi selama beberapa hari. Mereka akan mengorbankan binatang yang akan dimakan bersama-sama, sambil meminum tuak atau dalam bahasa Lun Dayehnya disebut PENGASIH atau BURAK yang terbuat dari beberap jenis tumbuhan, ubi kayu , beras merah yang dicampur dengan daun rambutan.

Seorang yang sakti akan menunjukan kesaktiannya kepada kekuasaannya dengan jumlah kampung yang sudah menyerah dan menjadi pengikutnya dengan memotong bagian belakang tugu buaya itu dengan FELEPET ini, ia juga akan menunjukan para tawanan perang yang ditangkap hidup-hidup dan dijadikan budak. Pada jaman dahulu jika ada anak atau keluarga kepala suku sakti tersebut meninggal, maka para budaknya akan dikorbankan atau dikubur hidup-hidup, sebagai penghormatan kepada kepala suku tadi.

Tabe

Bekasi 11/Des/ 2015

 

Iklan