Pantak/Kayu Mamo


kayu mamo

Gambar : Salah satu senjata yang terbuat dari Kayu Mamo

Hi folks, penghormatan terhadap tokoh atau seorang figur yang berjasa bagi suatu desa maupun masyarakat merupakan suatu hal yang lumrah. Dikalangan rumpun Dayak Kanayatn/Kendayan (Ahe, Benana’, Belangin, dll.), Kalimantan Barat, bentuk penghormatan ini diekspresikan melalui sebuah patung yang disebut Pantak. Pantak tidak hanya bernilai seni tapi juga mengandung nilai budaya yang tinggi. Salah satu Pantak yang masih bisa ditemui di komunitas Dayak Belangin/Behe di kampung Sehe’, Kuala Behe, Kalimantan Barat adalah Pantak Mamo yang berbentuk Pohon. Adapun kisah yang diceritakan turun temurun oleh para orang tua mengenai Pantak ini adalah sebagai berikut :

Pada jaman mengayau dahulu, ada tujuh orang Panglima Dayak Belangin yaitu Mamo (berasal dari Benua Kedama), Munte Tayat (berasal dari Sengkruh), Nyanggo (berasal dari Behe), Atun Gago, serta tiga orang Panglima lainnya. Mereka ditugaskan untuk membunuh seorang Panglima Dayak Ribun dari daerah Sekayam yang bernama Himo Mayo. Himo Mayo memiliki badan yang sangat besar serta memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga sulit untuk dikalahkan. Tujuh panglima ini ditugaskan karena Himo Mayo sudah memasuki daerah perbatasan Dayak Belangin dan melakukan teror dengan cara mengayau, membunuh serta menjarah barang2 perkampungan Dayak Belangin. Ketujuh panglima ini akhirnya sepakat untuk mengalahkan Himo Mayo dengan menggunakan perangkap. Mereka memasang bubu di sebuah sungai kecil yang telah diisi dengan banyak ikan. Pada saat melewati sungai itu Himo Mayo tertarik untuk mencuri bubu tersebut karena ikan yg ada di dalamnya sangat banyak. Saat Himo Mayo masuk ke sungai untuk mengambil bubu, ketujuh panglima tersebut menjatuhkan puluhan batang kayu ke sungai yang sudah disiapkan sebelumnya. Karena jumlah kayu yang sangat banyak akhirnya Himo Mayo terhimpit dan tidak bisa keluar dari sungai dan seketika itu juga para panglima menusuk-nusukkan tempuleng/tombak ke arah Himo Mayo hingga akhirnya ia meninggal, dan desa kembali aman.

Setelah panglima-panglima tersebut meninggal, sebagai bentuk penghormatan, dibuatlah tujuh pantak dari kayu belian/ulin bagi para panglima tersebut, bentuk serta panjang bagian tubuhnya disesuaikan dengan ukuran asli para panglima. Pantak-pantak tersebut disebar ditujuh desa berbeda, Pantak Mamo didirikan di desa Sehe’. Pada malam harinya setelah dipasang, masyarakat desa Sehe’ bermimpi mengenai Panglima Mamo dan keesokan harinya mereka mendapati suatu keanehan karena telah muncul akar serta beberapa cabang pada Pantak tersebut. Berita pun tersebar ke desa-desa lain. Keanehan ini hanya terjadi pada Pantak Mamo, sedangkan Pantak yang lain tidak terjadi hal serupa. Seiring berjalannya waktu, pantak tersebut kembali tumbuh menjadi sebuah pohon, dan sampai saat ini masih banyak masyarakat Dayak Belangin yang mengunjungi tempat tersebut karena dianggap sakral, dan apabila ada dahan yang jatuh maka potongan dari kayu tersebut akan digunakan sebagai jimat ataupun senjata. Admin akan update lagi info mengenai Pantak Mamo ini jika sudah mengunjungi secara langsung. Tabe.

Jakarta

11/Des/ 2015

Iklan