ADAT MENGAYAU DI GUNUNG TABUR


ADAT MENGAYAU GUNUNG TABUR

1004508_430332600419519_1472607711_n

Di Berau terdapat Kesultanan Gunung Tabur, sebelum menjadi kesultanan masyrakat asli disana adalah Suku Dayak dengan mengamalkan budaya Dayak seperti mengayau. Kesultanan Gunun Tabur baru berdiri sekitar tahun 1800an setelah banyak masyarakatnya memeluk Islam. Kali ini folks kita akan membahas budaya mengayau dan ERAU CANCUT HITAM bagi laki-laki Dayak di daerah Gunung Tabur ini. Masyrakat Dayak yang ada di Berau adalah Suku Dayak Bulungan, Duku Dayak Kelay, Suku Dayak Sambaliung, Suku Dayak Gunung Tabur dan lain sebagainya.

Hampir semua sub Suku Dayak pada masa lalu melakukan budaya pengayauan atau head hunting, dan setiap sub suku memiliki alasan-alasan tersendiri kenapa mereka perlu mendapatkan kepala manusia. Masyarakat Dayak di Gunung Tabur pada masa lalu menganggap seorang laki-laki telah dewasa jika ia berhasil membawa kepala atau setidaknya ikut dalam ekspedisi perburuan kepala manusia. Jika sang laki-laki tidak pernah sama sekali ikut didalam ekspedisi perburuan kepala maka ia akan dianggap masih kanak-kanak.

Ada banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh laki-laki yang tidak pernah mengayau, dalam hal pakaian; ia tidak boleh menggunakan “cancut hitam”, ketika tidur ia tidak boleh menggunakan selimut, tidak dapat diperkenankan tidur bersama orang tua, tidak bisa beristri dan lain sebagainya. Jika orang tersebut melanggar pantangan tadi maka dipercaya akan membawa kesialan bagi komunitasnya. Selain itu kepala manusia diperlukan juga dalam prosesi pemakaman raja atau anak-cucu raja yang wafat. Sebab akan menjadi suatu aib kampunya jika Rajanya ketika dimakamkan tidak dibekali kepala manusia, kampungnya akan kehilangan harga diri terhadap suku-suku lain disekitarnya.

Nah folks mari kita bahas bagaimana tata cara Suku Dayak Gunung Tabur melakukan ekspedisi pengayauan.

Dalam ekpedisi mereka mencari kepala musuh biasanya berkisar antara 2 sampai 30 orang, namun bagi mereka yang berani, maka denga jumlah 5 sampai 6 orang sudah cukup saja. Untuk jumlah kepala yang mereka perlu dapat sebenarnya tidak perlu banyak, cukup saja 1 sampai 3 buah kepala musuh. Dalam ekspedisi pengayauan ini, mereka bekerjasama dengan orang-orang PUNAN, sebab orang-orang PUNAN sangat hafal jalan keluar masuk belantara hutan, hanya dengan pedoman matahari dan bulan saja. Orang-orang PUNAN sering menjadi mata-mata Dayak Gunung Tabur ini, untuk melihat kondisi musuh dan tempat dimana mereka bisa menyergap mangsanya.

Sebelum pergi mengayau biasanya mereka akan menunggu pertanda atau disebut NYAHU, pertanda ini akan memberitahukan apakah mereka akan selamat atau tidak didalam ekspedisi ini. Biasanya yang menjadi pertanda adalah burung SISIT atau GISAU. Apabila burung ini terbang ke arah kiri maka sebaiknya perjalanan itu ditangguhkan, biasanya jika itu burung SISIT maka perjalanan itu akan ditangguhkan selama tiga hari, namun apabila itu burung GISAU maka itu adalah pertanda yang sangat tidak baik dan perjalanan akan ditunda selama 1,5 bulan lamanya untuk mencari pertanda alam lain.

Waktu untuk pergi mengayau tidak tentu lamanya; kalau tidak berhasil maka dalam kurun waktu 3-4 bulan mereka akan kembali kekampungnya dimana perbekalan mereka sudah habis.

Bila ia menemukan jejak orang, maka ia akan menahan langkahnya lalu bersembunyi dan orang Punan, pengiringnya itu disuruhnya mengikuti jejak orang tersebut, sampai ia bersua. Sesudah tempat itu ditemukannya, maka orang Punan ini kembali mengabarkan bahwa tempat orang tadi telah ditemukan, maka bergembiralah mereka mendengar berita itu. Pada malam hari bernyanyi-nyayilah mereka itu beramai-ramai, sambil MENGGAYANG yaitu ramai-ramai menyanyikan lagu pertempuran dan dalam irama itulah diperagakan pebagai tarian tata perkelahian dan kemahiran menggunakan senjata.

Adakalanya orang Punan melaporkan bahwa calon mangsa itu berjumlah besar dan bersenjata lengkap, maka makin hebatlah reaksi mereka dan meletuslah semangat mereka untuk berperang, dengan jantannya mereka mencabut mandaunya masing-masing dan bangkit berdiri, lalu menebas-nebaskannya ke pepohonan disekeliling mereka, seolah-olah sedang berhadapan dengan musuh disertai sorak gegap gempita sambil menyerukan “BANG KUI ENTAI NA LA TAKHONG, ENTAI KUI LAMLI MENTAPA, LAMLI KUI MELANGIT” artiny: “Bila aku tidak berhasil memperoleh kepala, baiklah aku jangan kembali ketanah lagi, melainkan langsung pulang kelangit saja”.

Dalam peperangan ini, maka kelompok tadi dibagi didalam beberap regu yang terdiri dari 5-6 orang, masing-masing akan mencari tempat yang menguntungkan untuk melakukan serangan kepada kampung musuh tadi. Dalam usaha menncari kepala ini, tidak mutlak setiap orang mendapat satu kepala. Cukup saja satu regu tadi mendapatkan 2-3 kepala atau bahkan hanya 1 buah saja. Jika mereka sudah mendapatkan kepala mereka akan membawanya dengan sukacita lalu kepala tadi akan diawetkan denga cara disalai – atau diasapkan didekat perapian sampai kering.

Setibanya dikampung halaman mereka, mereka akan BERTIUNG tiada hentinya atau memekikan suara. Maka berdatanganlah orang-orang dari kampung untuk menyambut mereka, kemudian mereka akan mendirikan sebuah tonggak untuk memberikan persembahan kepada MATAU – roh yang memberi keselamatan terutama kepada mereka yang akan melakukan acara ERAU CANCUT HITAM – yang kita akan bahas pada tulisan selanjutnya…

Sumber: Dajaksche Adat in Gonoeng Taboer (1933)\

Tabe

Laut Cina Selatan 8/Januari 2016

Iklan