DAYAK & PETAK DANUM


DAYAK & PETAK DANUM

Pada hari Sabtu tanggal 16 Januari 2016 yang lalu, FOD dan Aliansi Pemuda Dayak mengadakan diskusi mengenai DAYAK & PETAK DANUM (tanah air) di SEKBER APD di Palangkaraya. Berikut ini folks beberapa hasil diskusinya:

wp-1453191020928.png

Dayak masa lalu

Dalam alam pikir orang Dayak masa lalu diyakini bahwa tanah Kalimantan adalah pemberian Tuhan kepada manusia Dayak sebagai the promised landnya. Didalam alam pikir Dayak terutama didalam ajaran Kaharingan, dipercaya Ranying Mohotara menurunkan manusia Dayak ditanah Dayak menggunakan “Palangka Bulau” – yaitu sebuah wadah emas yang suci. Tidak dikenal didalam alam pikir Dayak, bahwa ia datang ke Kalimantan melalui sebuah rangkaian migrasi dari sebuah tempat yang jauh kemudian baru memasuki tanah Kalimantan. Ini menunjukan didalam keyakinan manusia Dayak, Tuhan menurunkan manusia Dayak ke Kalimantan sebagai suatu tujuan yang suci yang mulia untuk menguasai dan mengelolanya.

Itu sebab Orang Dayak menganggap lahan/hutan BUKANLAH milik perseorangan atau golongan tetapi merupakan pemberian Tuhan yang boleh dimanfaatkan setiap umat manusia. Sehingga hutan merupakan benda bebas dan bebas pula setiap orang (penduduk) untuk memanfaatkannya guna dijadikan kebun atau ladang namun ada aturan aturan tertentu yang mesti dipatuhi didalam pengelolaannya.

Maka dari itu Dayak tanpa petak danum (tanah airnya) ia akan kehilangan jati dirinya sebagai utusan Tuhan atas tanah Kalimantan dan Kalimantan tanpa Dayak maka ia akan kehilangan ruhnya sebagai tanah yang terjanji.

Dayak Masa Kini

wp-1453191011945.jpg

Semenjak dikenalnya system sertifikasi tanah oleh masyarakat Dayak, maka tanah yang mulanya adalah sebuah sacred heirloom kini berubah menjadi sebuah komoditas, menjadi asset dan dinilai uang. Kemudian adanya shock culture dari system hidup yang komunal didalam rumah betang dimana semua orang saling berbagi dan membantu menjadi masyarakat yang individualistic.

Perubahan nilai inilah yang membuat posisi petak danum dalam alam pikir masyarakat Dayak kebanyakan telah berubah. Orang Dayak tidak lagi mengolah tanahnya untuk memenuhi kebutuhannya, ini terbukti dengan banyak warga di kampung-kampung hanya mengandalkan paman-paman penjual sayur, mereka tidak lagi melakukan upaca bercocok tanam.

Tanah kemudian dianggap hanya sebagai asset yang bisa dijual ketika terdesak. Itu sebab banyak warga yang menjual tanah adat leluhurnya untuk perusahaan-perusahaan, namunpun demikian hasil penjualan itu tidak dapat digunakan dengan bijaksana untuk memperbaiki keadaan perekonomiannya, seringkali hanya digunakan untuk kepuasan sesaat. Beberapa kasus misalnya, ada warga setelah ia berhasil menuntut ganti rugi atas lahannya kepada perusahaan. Maka perusahaan itu memberikan pembayaran sebesar 600 juta rupiah. Setelah mendapat uang ini, ia malah pergi ke Jakarta, tinggal dihotel dan menyewa wanita penghibur selama 3 bulan. Pulang kembali ke Kalimantan ia kehabisan uangnya dan kembali miskin. Setelah itu ia kembali lagi mematok tanah yang ia jual dan menuntut uang lagi kepada perusahaan.

Dalam hal penguasaan dan pengelolaan lahan, orang Dayak masa kini menjadi masyarakat yang kurang percaya diri seolah-olah “ruh” nya telah dikayau. Padahal untuk menguasai suatu daerah suatu kaum mesti menguasai baik secara politis juga secara ekonomi. Memang khusus untuk Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, secara politis Dayak masih menguasai, namun secara ekonomi ia dikuasai oleh para pendatang. Dan siapa menguasai perekonomian ia menguasai budaya dan lingua fraca. Itu sebab di Palangkaraya, yang terjadi dalam Bahasa pergaulan bukan lagi digunaka Bahasa Dayak namun Bahasa Banjar, karena Orang Banjar lebih ulet dalam menguasai perekonomian.

Yang terjadi saat ini, orang-orang Dayak banyak ingin mendapat segala sesuatu dengan instant, langsung hasil besar tanpa ingin melalui tahapan-tahapan untuk berdikari secara ekonomi. Dalam alam pikir Dayak masa kini yang disebut sebagai pekerjaan adalah jika menjadi PNS – Pegawai Negeri Sipil, sedangkan orang-orang yang terjun dalam industri creative atau bidang swasta acap kali dipandang sebelah mata. Padahal jika kita melihat sejarah orang Dayak masa lalu, mereka juga adalah orang-orang yang ulet berdagang dengan bangsa luar.

Shock culture seperti ini akibat generasi Dayak saat ini sudah mulai tercabut dari sejarah dan nilai-nilai luhur Dayak. Ini juga memang disebabkan pada masa lalu pemerintahan Orde Baru berhasil membuat suatu stigma udik, kampungan, terbelakang bagi masyarakat Dayak. Sehingga beberapa orang tua tidak lagi mengajarkan Bahasa Dayak dalam lingkungan keluarga dan nilai-nilai budaya yang dianggap sebagai sesuatu yang “jahat” dalam kacamata agama-agama semawi.

Oleh karena itu perlu suatu perumusan action items, dalam hal ini perlu menyebarkan propaganda ke-Dayakan melalui tulisan dan diskusi rutin. Oleh sebab itu salah satu rumusan diskusi ini adalah membuat media web untuk menuliskan sejarah, pengetahuan dan nilai-nilai kedayakan sama seperti yang pernah dilakukan oleh Pakat Dayak pada masa lalu dan juga melakukan pertemuan-pertemuan rutin di sekber Aliansi Pemuda Dayak.

Tabe

19/Januari/2016

 

 

Iklan