IDENTITAS KEDAYAKAN – MASA LALU & MASA KINI


IDENTITAS KEDAYAKAN – MASA LALU & MASA KINI

Anggota FOD di Jakarta

Anggota FOD di Jakarta

Pada tanggal 24 Januari 2016 lalu FoD melakukan acara di anjungan Kalimantan Tengah Taman Mini dengan tema IDENTITAS KEDAYAKAN – MASA LALU & MASA KINI.

Diskusi di Taman Mini

Diskusi di Taman Mini

Identitas kedayakan masa lalu adalah identitas yang hina dan nista, kedayakan adalah sebuah ejekan dari bangsa diluar kalimantan yang menganggap orang asli Kalimantan adalah “orang hutan”, “orang yang tinggal dipokok pohon”, “setengah manusia”, dianggap sebagai bangsa manusia berekor dan primitive. Sehingga masa lalu bangsa Dayak yang kemudian malu atas stigma ini kemudian memilih untuk “memelayukan” dirinya. Namun kemudian bangsa Dayak memungut nama hinaan tadi menjadi nama pemersatu dalam tonggak sejarah Tumbang Anoi dan menjadi suatu kekuatan politis bangsa Dayak melawan hegemoni kerajaan dan penjajahan.

Namun setelah memasuki era pemerintahan orde baru terjadi kecurangan dan pelemahan secara sistematis atas identitas kedayakan itu sendiri. Jika pada masa kemerdekaan Orang Dayak telah berhasil memajukan diri baik secara politis dan ekonomi melalui beberapa kegerakan seperti Pakat Dayak, Koperasi Dayak, Suara Pakat dan Partai Dayak – menjelang akhir pemerintahan Soekarno, Partai Dayak kemudian dibubarkan melalui PENPRES No.7 1959 – dimana seluruh partai politik di Indonesia haru mempunya cabang sekurang-kurang di 7 propinsi untuk tetap boleh aktif dan Partai Dayak kemudian tidak memenuhi kriteria ini. Semenjak era Orde Baru hampir tidak ada lagi pemimpin Dayak – setiap yang ada affiliasi dengan pemerintahan Soekarno seperti Oevang Oeray dan Tjilik Riwut kemudian dilengserkan. Kemudian sekitar tahun 66an ke 70an terjadi konversi secara paksa atas orang Dayak dan dirubuhkannya sistem RUMAH PANJANG / RUMAH BETANG.

Wiro berpose di depan Rumah Betang Taman Mini

Wiro berpose di depan Rumah Betang Taman Mini

Bahkan semenjak Orde baru ini kurikulum pendidikan dibuat sentralistik sehingga pengetahuan lokal tidak diperbolehkan untuk diajarkan hingga tahun 1994. Pada tahun 1994 baru memang diperbolehkan hal-hal yang berbau kedaerahan diajarkan disekolah namun itupun masih dalam aturan pusat. Sehingga nilai-nilai yang disebut dayak menjadi sesuatu yang kembali memalukan, anak-anak muda Dayak mulai kehilangan identitas akan budayanya dan orang-orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa Dayak dan juga adat kepada anak-anaknya. Tidak mengherankan ada banyak sekali generasi muda dayak yang ibu-bapanya Dayak tinggal di Kalimantan tapi tidak bisa sama sekali berbahasa Dayak.

Ditambah kemudian lembaga keadatan menjadi lembaga kapitalisme lembaga yang dimanfaatkan Pemerintah dan Penguasa, dimana lembaga Adat adalah lembaga yang di SK-kan Pemerintah, dengan tidak melibatkan lembaga-lembaga adat atau kepala-kepala Adat yang sah di kampung-kampung, namun hanya berdasarkan kedekatan ataupun uang, sehingga Lembaga Adat saat ini menjadi kendaraan politis kelompok tertentu, dimana seharusnya lembaga adat ini yang menyuarakan Suara Dayak pada prakteknya malah menjadi musuh masyarakat adat itu sendiri. Sehingga yang terjadi saat ini kedayakan hanya dilihat dari kulitnya saja. Beraksesoris dayak, menari-nari acara pentas budaya, kedayakan bukan menjadi suatu daya juang kegerakan membalikan setiap bentuk hinaan dan ejekan melalui tindakan perjuangan membangun manusia dayak.Kedayakan kemudian hanya diidentikan sebagai suatu yang sangar dan magis, untuk menakut-nakuti orang lain. Padahal proses menjadi “DAYAK” adalah proses yang melewati stigma negative, penghina, pemarginalan dan kemudian mereka berjuang untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik ditanah leluhurnya.

Dalam diskusi kami ini juga, kami saling sharing tentang pengalaman hidup yang bisa menjadi inspirasi. Salah satunya ialah kisah “anak kampung” Dayak Ngaju bernama Apri. Apri seorang anak yang berasal dari keluarga yang sangat sederhana, ayah ibunya hanya bekerja sebagai pelayan di rumah makan dengan penghasilam 20 ribu per hari – Namun Apri si-anak Dayak ini tidak patah semangat untuk mengubah hidup dan nasibnya. Berbekal tekad saja, ia kemudian merantau ke Jogja untuk meneruskan studinya. Sangat tidaklah mudah bagi Apri untuk menyelesaikan studi dimana ia pun untuk melunasi uang kuliahnya sangat berat, bahkan jika dia bilang “kalau saya minta uang bulanan sama ibu saya bulan Januari ya saya baru bisa terimanya bulan Maret nanti”, tapi ini tidak menjadi penghalang, ia mencari kerja sampingan dan dengan keberanian ia sampai harus menghadap rektor karena pasti setiap semester harus terlambat bayar uang semesteran, namun ia berhasil mendpat dispensasi asalkan IP tidak boleh dibawah tiga, itupun dibayar dengan cara dicicil. Penulis bersama Apri dahulu pernah memiliki mimpi bahwa suatu saat kami akan ke luar negeri. Singkat cerita, iapun berhasil menyelesaikam studinya dan mendapat pekerjaan. Bahkan Ia berhasil mewujudkan impian untuk keluar negeri untuk studi di Amerika Serikat tahun dengan beasiswa dari Pemerintan Amerika, bahkan sebelumnya iapun baru saja dikirim ke Jepang.

Aprianto

Aprianto

Maka sebenarnya inilah yang dimaksud jiwa kedayakan yaitu jiwa penarung – jiwa pejuang, tidak ada alasan bagi pemuda Dayak berkata “saya tidak bisa”, “tidak ada uang”, “tidak ada fasilitasnya” dll. Bahkan sering kali kegiatan, yang terjadi adalah menunggu sesuatu yang besar dan sifatnya eventual, mengharapkan proposal, tidak mencoba keluar dari zona nyaman. Harus ada perubahan mind set dikalangan anak muda Dayak – jika masa kini kedayakan didefinisikan sedemikian kelirunya maka melalui diskusi-diskusi seperti ini tentunya akan membuka wawasan kaum muda Dayak. Tentu kita akan terus mencoba melakukan diskusi, bedah buku, menulis, ekspedisi atau expo secara rutin. Beberapa kali kita melakukan kegiatan seperti Dayak Youth Camp dan Expo tidak ada sama sekali meminta-minta uang namun mencoba menggerakan sebuah konsep kewirausahaan. Jika anda tertarik untuk tergabung bersama dalam kegerakaan kepemudaan Dayak – jangan ragu hubungi kami.

 

Berikut beberapa hal yang kami lakukan ketika kongkow FOD di Jakarta:

wp-1453729642853.jpg wp-1453729636723.jpg wp-1453729657328.jpg wp-1453729687118.jpg

Tabe

25/Jan/2015

Iklan