Makna Pabayo Bagi Masyarakat Dayak


IMG_0098

Hi Folks, pada saat mengadakan ritual ada banyak hal yang digunakan sebagai simbol yang memiliki makna tertentu dan kadang dianggap sebagai suatu tanda kehadiran penguasa alam atas, salah satunya adalah rautan pada kayu atau bambu yang digunakan oleh beberapa rumpun suku Dayak pada saat mengadakan upacara tertentu. Pabayo (dalam bahasa Dayak Kanayatn) adalah tanda yang dipasang, sebagai penanda bahwa ada acara besar/Gawe yang berhubungan dengan adat istiadat orang Dayak. Adapun bentuk pabayo tersebut menyerupai rumbai rautan kayu yang dibuat dengan cara meraut bambu atau kayu menggunakan pisau rautan (insaut).
Pabayo dibuat setiap kali ritual diadakan yang merupakan lambang penyambutan terhadap kehadiran penguasa alam atas, yaitu Jubata.
Teknis pemasangannya adalah sebagai berikut: Pabayo ditancapkan di tanah, pada setiap tempat ritual diadakan. Pabayo dibuat dalam beberapa rautan (bentuk) dan masing-masing rautan (bentuk) memiliki makna tersendiri.

1. Pabayo dibuat pada bambu atau sepotong kayu yang diraut satu tingkat, menandakan ada upacara Batalah Dama dan Upacara Batenek (upacara tusuk telinga untuk memasang anting-anting yang pertama kali bagi anak perempuan).

2. Pabayo dibuat pada bambu atau sepotong kayu yang diraut tiga tingkat. Bambu atau sepotong kayu yang diraut tiga tingkat menandakan ada upacara yaitu ngangkat Anak dan upacara Batunangan (bertunangan).

3. Pabayo dibuat pada bambu atau sepotong kayu yang diraut lima tingkat. Bambu atau sepotong kayu yang diraut lima tingkat menandakan ada upacara yaitu Upacara Panganten (perkawinan), Upacara Babalak (Sunatan) dan Upacara Naik Dango/Pesta Panen Padi.

4. Pabayo dibuat pada bambu atau sepotong kayu yang diraut tujuh tingkat. Menandakan ada Upacara besar atau Bakaupm.

 

Sumber Referensi :
M. Ikot Rinding, Makalah Potensi Umum dan Macam-macam Adat Dayak Kanayatn Kalimantan Barat, hlm. 36.
Iklan