Kongkow “Pecinta Pusaka Dayak”


Kongkow “Pecinta Pusaka Dayak”

Kongkow FOD "Pecinta Pusaka Dayak di Palangkaraya"

Kongkow FOD “Pecinta Pusaka Dayak di Palangkaraya”

Hi folks sorry for late post tentang kegiatan kita, yaitu Kongkow “Pecinta Pusaka Dayak”. So Pada tanggal 22 Feb 2016 komunitas Folks Of Dayak Palangkaraya melakukam acara Kongkow dengan tema “Pecinta Pusaka Dayak” juga kita adakan di Jakarta pada tanggal 6 Maret 2016 yang lalu – dalam diskusi kita membahas definisi pusaka dan filosofi pusaka itu, mengenal berbagai variasi senjata dari berbagai sub suku Dayak juga bagaimana cara merawat pusaka itu sendiri.

2

Admin FOD "Minggus" sedang memeriksa pusaka yang memiliki semangatnya

Admin FOD “Minggus” sedang memeriksa pusaka yang memiliki semangatnya

Perlu kita fahami folks apa itu pusaka. Sering kali pusaka hanya dikonotasikan sebagai sebuah senjata, atau benda yang memiliki “roh” atau semenget. Sebenarnya kita perlu meredifinisi apa itu pusaka? dari hasil diskusi pada Kongkow di Palangkaraya dan Jakarta. Kita memiliki suatu pemahaman bahwa yang namanya pusaka tidak mesti berbentuk benda, ia bisa non benda yang DITURUNKAN dari generasi ke generasi sebagai ujud cerita sejarah, intelektualitas, karya seni cipta rasa dan karsa, identitas dan kebanggaan keluarga atau suatu kelompok.

Kok non benda?? ya.. misalnya tari-tarian – ia juga dapat disebut pusaka yang diturunkan, petuah-petuah. Pusaka juga tidak melulu senjata atau jimat, ia bisa juga berupa obat-obatan tradisional, kemampuan menganyam tikar atau disebut “mandare”, perhiasan seperti manik, gelaang, kalung dll, termasuk tanah adalah juga pusaka yang diturunkan untuk dijaga. Initinya yang masuk dalam kategori pusaka bahwa hal tersebut memiliki cerita, sejarah, nilai, sebuah karya dan identitasa.

9

Kongkow FOD “Pecinta Pusaka” di Jakarta TMII

11

Kongkow FOD “Pecinta Pusaka” di Jakarta TMII

10

Kongkow FOD “Pecinta Pusaka” di Jakarta TMII

Pemahaman tentang pusaka kemudian berubah pada kalangan Dayak, ia tidak dianggap lagi sebagai suatu yang memiliki cerita sejarah, tetapi sebagian bergeser menjadi melulu hanya sifatnya “magis”, sebagian lagi berubah menjadi suatu aset yang bisa diperjualbelikan. Padahal yang namanya pusaka itu tidak dapat diperjulbelikan namun diturunkan kegenerasi selanjutnya. Mungkin hal ini juga berubah akibat pemahaman agama-agama yang baru kemudian dianut oleh orang Dayak, yang memandang dari kacamata yang sempit bahwa itu adalah bentuk “klenik”, Syirik, Okultisme. Sehingga banyak pusaka-pusaka ini dimusnahkan dan dibakar.

Penulis sendiri memiliki pengalaman pada keluarga sendiri, karena pada beberapa GUCI peninggala leluhur ada lambang NAGA, maka dianggap sebagai lambang setan, akhirnya banyak guci itu dibuang ke Sungai Kapuas. Hal ini tentu salah besar! sebab memandang hal itu dari kacamata budaya dan keyakinan TIMUR TENGAH. Jika memandang pada kultur budaya Dayak, Naga itu BUKANLAH lambang setan, tetapi Lambang KEILAHIAN yang menunjukan kemakmuran, kekayaan, kesuburuan sehingga lambang itu sebenarnya pada masanya adalah doa akan kemakmuran dan bukan lambang setan. Namun mungkin hal itu berbeda dengan kebudayaan timur tengah dimana naga dipandang sebagai perwujudan SETAN. Maka hal ini tidak dapat ditabrakan sedemikian rupa.

Beberapa penyang atau ajimat Suku Dayak, tidaklah semuanya itu harus ada magisnya walaupun juga ada yang sifatnya “magis”. Tetapi pada masa lalu, orang tua hanya memberikan satu “penyang” atau jimatnya. Kemudian seiring waktu ia menambahkan sendiri, makanya didalam penyang ada taring-taring hewan buas, jenis-jenis kayu. Ini sebenarnya adalah cerita siapa si pemiliknya dahulu?? artinya si pemiliki ini seorang yang gagah berani, berhasil mengalahkan hewan-hewan buas, dan juga kayu-kayu unik itu tentunya tidak akan didapat didalam pekarangan rumah, ini juga menunjukan sang empunya adalah seorang yang sering keluar masuk hutan dan merantau kesana kemari.

Didalam penyang itu juga banyaj terdapat obat-obatan. Pada zaman dahulu jika ia ingin pergi jauh, atau pergi mengayau tentu yang dibawanya itu adalah hal-hal penting. Semisal ia dipatuk ular beracun, tidaklah mungkin ia sempat untuk pulang, atau mencari obat. Maka didalam gantungan jimatnya itu ada penawar racun. Atau misal dia terluka maka juga dia juga menyimpan penawar racunnya. Tidak semua jimat yang dibawanya adalah jimat untuk kebal atau untuk berperang. Hal ini tentunya melalui diskusi seperti ini membuat kita semakin faham akan pusaka kita.

Dalam hal perawatan juga, pusaka Dayak tidaklah susah untuk dirawat, apalagi jika memang itu adalah barang warisan turun temurun. Tidak ada waktu khusus dalam melakukan perawatan, sesempatnya dan sewajarnya saja.

Menariknya di Jakarta pada kongkow kali ini tidak hanya kaum pria yang tertarik membahas pusaka tetapi dua anggota perempuan FOD juga hadir dan antusias untuk mengikuti diskusi kita.

 

Tabe,

1/April/2016

Penyang - Ajimat milik salah satu anggota FOD yang sedang diperiksa semangatnya

Penyang – Ajimat milik salah satu anggota FOD yang sedang diperiksa semangatnya

Admin "Minggus" sedang memeriksa jenis-jenis tombak tua Dayak

Admin “Minggus” sedang memeriksa jenis-jenis tombak tua Dayak

Anggota paling muda "Ditto" anak SMA juga antusia mengikuti diskusi ini

Anggota paling muda “Ditto” anak SMA juga antusia mengikuti diskusi ini

Sedang seksama memperhatikan Parang Latok senjata Dayak Sungkungk

Sedang seksama memperhatikan Parang Latok senjata Dayak Sungkungk

Pahari Alfredo sedang memperhatikan jenis senjata Baliw

Pahari Alfredo sedang memperhatikan jenis senjata Baliw

Anggota kita "Ado" memiliki kemampuan meramal, dan sedang asik diskusi membaca garis tangan

Anggota kita “Ado” memiliki kemampuan meramal, dan sedang asik diskusi membaca garis tangan

Berpose didepan betang Kalimantan Tengah di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta

Berpose didepan betang Kalimantan Tengah di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta

Berpose didepan betang Kalimantan Tengah di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta

Berpose didepan betang Kalimantan Tengah di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta

Admin "Wiro"

Admin “Wiro”

Makan bersama - kita ditawarkan makan gratis di Anjungan Kalimantan Timur

Makan bersama – kita ditawarkan makan gratis di Anjungan Kalimantan Timur

Berpose bersama pengurus anjungan Kalimantan Timur di TMII

Berpose bersama pengurus anjungan Kalimantan Timur di TMII

Jalan-jalan bersama anggota FOD Jakarta

Jalan-jalan bersama anggota FOD Jakarta

Jalan-jalan bersama anggota FOD Jakarta

Jalan-jalan bersama anggota FOD Jakarta

Jalan-jalan bersama anggota FOD Jakarta

Jalan-jalan bersama anggota FOD Jakarta

 

Iklan