NAPAK TILAS SAMPIT & KONGKONG FOD & ALIANSI PEMUDA DAYAK (APD)


NAPAK TILAS SAMPIT & KONGKONG FOD & ALIANSI PEMUDA DAYAK (APD)

_DSC0010

Pada tanggal 20 Februari yang lalu – kami dari Komunitas Folks Of Dayak dan Aliansi Pemuda Dayak (APD) melakukan road trip menuju Kota Sampit dengan tujuan melakukan acara Napak Tilas Tragedi Sampit dan juga sekaligus mengumpulkan para Pemuda Dayak yang ada di Sampit untuk berdiskusi mengenai identitas kedayakan.

Perlu diketahui memang pasca tragedi Sampit begitu banyak mempengaruhi image Dayak dimata orang luar demikian pula bagi orang Dayak itu sendiri. Konflik berdarah ini pecah pada tanggal 18 Feb 2001 yang lalu – Konflik ini terjadi akibat ketidakfahaman para pendatang akan tata hidup dan adat masyarakat Dayak di Kalimantan. Menyinggung sedikit mengenai konflik ini – Sampit adalah kota niaga, dimana begitu banyak pendatang dari luar daerah yang memasuki Sampit, apalagi terutama ketika sekitar tahun 60’an Pemerintah Orba melakukan Program Transmigrasi secara massive ke Kalimantan. Secara kultur Orang Dayak itu sangat terbuka dengan kehadiran pendatang, yang namun lambat laun para pendatang ini merasa bahwa itu adalah tanah mereka. Mulailah terjadi perampasan tanah orang asli, premanisme merajalela – sempat terjadi konflik kecil-kecil namun dapat dengan segera didamaikan.

Tapi ternyata perdamaian “kecil” dikalangan elit tidak sepenuhnya membawa perdamaian di akar rumput – tepat sebelum pecah kejadian Sampit ini, terjadi kejadian dibunuhnya beberapa orang Dayak – bahkan yang paling sadis adalah ketika seorang ibu hamil di belah perutnya dan janinnya dimasukan kedalam mulut wanita Dayak ini – singkat kisah hampir 3 hari kota Sampit dikuasai oleh oknum-oknum dari salah satu etnis. Banyak sekali orang Dayak yang dibunuh dan eksodus dari Kampung halamannya, bahkan kata Sampit dicoret diganti dengan kata SAMPANG KE II. Hal inilah yang mentriger kembali jiwa kayau bangsa Dayak ketika mereka dizalimi begitu.

Maka sekelompok pemuda Dayak yang jumlah awalnya tidak sampai puluhan orang dengan bermodalkan keberanian untuk menyelamatkan keluarganya di Kota Sampit – menembus Kota Sampit yang dikuasai oleh ratusan hingga ribuan oknum pendatang ini yang menyambut mereka dengan senjata api, tajam dan bahkan bom. Mereka memasuki kota Sampit melalui jalur sungai dan dengan waktu singkat berhasil menguasai kota Sampit Kembali. Kisah ini tentunya meninggalkan dua sisi yang tidak bisa dielakan yaitu sisi kekejaman dan juga patriotisme menyelamatkan keluarga dan harkat martabat bangsa Dayak ditanah leluhurnya sendiri.

Tujuan dari napak tilas ini sendiri adalah agara para pemuda Dayak belajar kembali dari sejarah yang terjadi ini, supaya bagaimana hal ini tidak terjadi lagi dimasa mendatang. Dan membuka sebuah pemikiran bahwa pada era ini musuh orang Dayak adalah sesuatu yang tidak terlihat tetapi secara massive menjajah bangsa Dayak yaitu KEBODOHAN & KEMISKINAN. Dua hal ini yang harus kemudian menjadi musuh bersama untuk dikayau bukan lagi melalui angkat mandau tetapi sebuah perjuangan pergerakan kaum. Sebab secara individu banyak orang Dayak yang terbukti dan bisa bersaing baik Nasional maupun Internasional. Namun sebagai kekuatan sebuah kaum, maka Dayak masih lemah.

Perjalana Napak Tilas kali ini dimulai dengan menziarahi makam Prof. KMA. USOP, beliau adalah salah stau tokoh Dayak yang berperan dalam membangun utus Dayak. Ketika terjadi kejadian tragedi Sampit, beliau inilah yang pasang badan menjamin sekitar 40 orang pemuda Dayak agar bisa dibebaskan. Dan tidak hanya itu beberapa pemuda “eks-pasus” kemudian dididik oleh beliau sehingga bisa tetap memiliki masa depan.

Beberapa menit sebelum Prof. Usop meninggal dunia, dia pernah berpesan melalui isterinya, agar “melanjutkan perjuangan membangun Dayak, musuh kita saat ini berbeda, yang kita kayau saat ini adalah kebodohan! Walaupun orang Dayak jumlahnya banyak, namun jika tidak memiliki pendidikan dan kompetensi yang mumpuni maka orang Dayak juga akan tetap kalah, tapi jika walaupun orang Dayak itu sedikit namun cerdas, maka dia akan tetap bisa maju. Contoh saja negara jepang, setelah mereka dibom atom, mereka malah semakin menjadi negera maju.” Hal ini juga sesuai tema Napak Tilas Sampit FOD & APD Kali ini yaitu “MENGAYAU KEBODOHAN DAN KEMISKINAN” – Membangun suatu identitas kedayakan sebagai suatu ideologi kejuangan

DSCF2575  DSCF2596

Ditambah lagi saat ini keadaan Dayak Sampit pasca tragedi Sampit mengalami “arabisasi” pada simbol-simbol kotanya, bahkan Tiang Pantar Perdamaian Konflik Sampit ini, sempat hendak dicabut dan diganti dengan monumen kubah, saat itu banyak orang Dayak yang memprotes kebijakan Bupati Sampit ini. Walaupun tugu ini tidaklah kemudian dicabut tetapi monumen “kubah” ini tetap dipaksakan dan menutupi monumen asli Tiang Pantar sebagai lambang perdamaian atas tanah sampit. Inilah yang mendorong kami untuk melakukan napak tilas, yaitu berdiskusi kembali dengan kaum muda Sampit tentang identitas Kedayakan dan juga memasang tanda keramat pada tiang pantar sebagai simbol perdamaian ini. Sebab Seharusnya inilah yang menjadi landmark kota sampti dan dipertahankan bentuk aslinya sebagai ujud kedamaian dan sejarah.

Kondisi saat ini tugu perdamaian Sampti

Kondisi saat ini tugu perdamaian Sampit

Tiang Pantar yang kami ikat kain kuning

Tiang Pantar yang kami ikat kain kuning

Kami memusatkan kegiatan diskusi di Betang Budaya Sampit – yang juga dalam kondisi memprihatinkan. Dan cukup mengharukan karen cukup banyak antusiasme pemuda Sampit yang mengikuti kegiatan diskusi ini. Kegiatan ini sendiri dihadiri folks dari Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Palangkaraya, Gunung Mas dan juga Sampit. Setelah berdiskusi, kami mengakhiri kegiatan kami dengan membersihkan KERAMAT yang ada di Betang Sampit dan melakukan acara manasai bersama. Setelah manasai kami bersama-sama ke tugu perdamaian dan mengikatkan kain kuning seabagai tanda keramat dan mengakhiri dengan doa bersama agar senantiasa tercipta kedamaian.

Suasana Diskusi di Betang Sampit

Suasana Diskusi di Betang Sampit

Keesokan harinya kami bersama-sama pergi menziarahi kuburan massal madura di Sampit, menaburkan bunga dan berdoa bersama agar para korban dapat beristirahat dengan damai. Dengan kegiatan ini tentunya membuat kita bisa belajar akan sejarah yang terjadi, sejarah yang kelam dan penuh darah, namun terpaksa ia harus terjadi. Salam Dayak

Menziarahi Kuburan Massal Sampit

Menziarahi Kuburan Massal Sampit

Tabe 1/ April 2016

Foto-foto lain:

_DSC0013 _DSC0045 _DSC0046 _DSC0053 _DSC0054 _DSC0057 _DSC0066 DSCF2578 DSCF2613 DSCF2618 DSCF2649 DSCF2675 DSCF2681 DSCF2685 DSCF2691 DSCF2738 DSCF2750 DSCF2752 DSCF2753 DSCF2763

Iklan