GAWIN RAHU – KEGIATAN MENYAMBUT GERHANA MATAHARI TOTAL FOD PALANGKARAYA


GAWIN RAHU – KEGIATAN MENYAMBUT GERHANA MATAHARI TOTAL FOD PALANGKARAYA

14

Hi Folks sorry late post, kali ini kita akan share kegiatan kita pada tanggal 9 Maret 2016 yang lalu untuk menyambut peristiwa langka Gerhana Matahari Total (GMT) di Palangkaraya atau dalam bahasa Dayak Ngajunya RAHU. Maka komunitas Folks Of Dayak membuat acara kongkow sederhana untuk merayakan rahu ini sesuai tradisi orang Dayak jaman dahulu yaitu mengeluarkan pusaka-pusaka dan kita akan lakukan ritual manampung tawar kemudian kita bersama-sama memukul gong ketika terjadi RAHU. Lalu setelah itu bersama-sama kita akan mendengarkan kisah atau sansana Rahu yang dibawakan Basir Ugoi.

Basir Ugoi menceritakan kisah RAHU (Gerhana)

Basir Ugoi menceritakan kisah RAHU (Gerhana)

Perlu diketahui sansana Rahu adalah salah satu kesustraan Dayak yang hampir tidak pernah lagi di perdengarkan dalam kalangan masyarakat Dayak. Dipercaya bahwa ketika terjadi gerhana maka RAHU itulah yang menelan matahari atau bulan, dan pada masa lalu jika misal ada acara pernikahan dan saat itu bertepatan terjadi gerhana, maka setelah acara pernikahan itu harus dilakukan acara mansana rahu untuk membuang sial akibat gerhana tadi. Sansana Rahu adalah mengisahkan legenda gerhana dalam versi Dayak Ngaju – Kisah legenda ini akan dituliskan dalam postingan yang terpisah.

Pada malam hari sebelum terjadi gerhana matahari, kami memandikan pusaka-pusaka yang ada di Sekertariat Bersama Aliansi Pemuda Dayak dengan tata cara Dayak. Kemudian pagi hari sebelum gerhana itu semua pusaka itu dikeluarkan dari sarungnya, botol-botol minyak dibuka, jimat basal, diletakan pada piring malawen dan sangku (mangkok dari kuningan) diletakan pada sebuah meja yang dialasi “AMAK DARE” dan kain kuning. Kemudian Basir Ugoi pun mendirikan ancak didepan Sekber. Ancak adalah sesajian yang diberikan kepada Roh Suci Alam ini sebagai tanda dilakukannya ritual. Dalam keyakinan Dayak saat gerhana inilah waktu yang tepat untuk mengeluarkan & membersihkan pusakapusaka seperti minyak, mandau dan lainnya sebab dipercaya pada saat terkena sinar bulan/matahari setelah terjadi gerhana maka akan menambah khasiat minyak-minyak ghaib ini. Minyak-minyak ini harus ditaruh pada wadah piring malawen atau sangku sebagai alas minyak-minyak ghaib ini dan ditaruh dibawah sinar bulan, bahkan dipercaya juga minyak-minyak yang sudah mulai kering dapat terisi kembali.

Maka sambil dilakukan prosesi BATAWUR – Basir Ugoi menceritakan kisah RAHU dalam bahasa Dayak Ngaju, kemudian ia malakukan ritual MANAMPUNG TAWAR pusaka-pusaka ini dan MANYAKI nya dengan darah ayam, diikuti oleh peserta lain yang hadir. Sambil menyambut terjadinya gerhana, kami bersama-sama membunyikan tetabuhan; gong, piring dan malahap bersama. Dipercaya tetabuhan inilah yang akan membuat RAHU segera pergi dan melepaskan Matahari. Dengan ditaruhnya pusaka-pusaka ini dibawah Gerhana maka dipercaya juga kekuatan atau APUAH dari pusaka ini akan terisi kembali. Benar saja, salah satu anggota FOD menceritakan pada malam harinya setelah dilakukan ritual ini, ia melihat GANA atau SEMANGAT pusaka dari mandaunya datang.

Untuk acara ini pun kita membuatkan sebuah film dokumenter yang dikerjakan oleh pahari Usy- yang dalam waktu dekat juga akan dipublish ke publik sebagai bentuk edukasi budaya dan sejarah.

Selesai acara ritual kami melanjutkan berdiskusi mengenai konsep pusaka didalam budaya Dayak. Apa itu pusaka?? Pusaka adalah sesuatu baik bentuk benda atau non benda yang diturunkan dari generasi ke generasi, yang memiliki makna filosofis, religis, hostoris dan mistis. Dalam memandang pusaka tidaklah melulu menjadi suatu barang yang sifatnya “ghoib”. Pusaka yang diturunkan itu menjadi suatu kisah kehidupan leluhur juga adalah sebagai bentuk intelektualitas dan kreativitas suatu kaum. Pemusnahan pusaka karena dianggap suatu yang “jahat” atau “tidak sesuai agama” adalah karena ketidakmengertian kita akan makna pusaka itu sendiri dan kita memandangnya dari kacamata budaya dan keyakinan timur tengah. Kita cenderung OK saja orang menyimpan katana atau benda-benda budaya Jepang, Korea atau Eropa, padahal esensinya itu juga adalah produk budaya dan menjadi pusaka. Namun yang terjadi dikalangan Dayak adalah memandang budayanya sebagai sebuah bentuk “okultisme”.

Tabe

Bersama memandikan pusaka di Sekber Aliansi Pemuda Dayak

Bersama memandikan pusaka di Sekber Aliansi Pemuda Dayak

Beberapa Pusaka yang akan dimandikan

Beberapa Pusaka yang akan dimandikan

Memasang Ancak

Memasang Ancak

Memasang Ancak

Memasang Ancak

Isi Ancak

Isi Ancak

Basir Ugoi "Menampung Tawar" Pusaka dan manyaki dengan darah

Basir Ugoi “Menampung Tawar” Pusaka dan manyaki dengan darah

Pusaka-pusaka yang diritualkan

Pusaka-pusaka yang diritualkan

Anggota APD - FOD dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah

Anggota APD – FOD dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah

Beramai-ramai memukul tetabuhan gong, piring dan malahap menyabut gerhana matahari total di Palangkaraya

Beramai-ramai memukul tetabuhan gong, piring dan malahap menyabut gerhana matahari total di Palangkaraya

11

Proses pembuatan dokumenter

Proses pembuatan dokumenter

Mengeluarkan gong untuk ditabuh beramai-ramai

Mengeluarkan gong untuk ditabuh beramai-ramai

 

Iklan