PERAYAAN CAP GO MEH & SEJARAHNYA MENURUT DAYAK MAMPAWAH


PERAYAAN CAP GO MEH & SEJARAHNYA MENURUT DAYAK MAMPAWAH
Tulisan Yohanes S. Laon

Tatung Dayak

Tatung Dayak

Setiap tahun, ada Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang, Kalbar. Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari, yang uniknya di Singkawang perayaan Cap Go Meh ini menggunakan acara TATUNG – cara tatung ini tidak ada dilakukan dimana-mana bahkan di negara asal sanapun tidak ada. Di negara asalnya hanya perarakan naga dan barongsai yang menandakan bahwa peringatan tahun baru china pada hari ke 15. Pada event ini puluhan ribu orang menyaksikan event budaya ini, bahkan Pemkot Singkawang menetapkan event ini sebagai event budaya tahunan. Kali ini kita akan mebagikan cerita menurut orang Dayak Mampawah sejarah mengapa hal ini dilakukan dan ini diceritakan turun temurun.
————-

Pada tahun 1784 masehi, dikenal sejarah dengan Perang Sangking (Sangkikng) di wilayah Pegunungan Sadaniang antara penduduk lokal (Dayak Mampawah) dengan 2.000 tentara Republik Lan Fong. Peperangan besar terjadi di sebuah tempat bernama Pasir Putih, dan berakhir di Air Mati (Ai Mati). Ratusan warga lokal terbunuh, kepalanya dipancung dan dipasang dipagar-pagar rumah betang, rumah-rumah betang dihancurkan dan dibakar di kampung Untang, dan sebagian penduduk yang tersisa melarikan diri dan mengungsi pada malam hari dengan perahu, memudiki sungai raja dan akhirnya menetap di Capala dan Sabandut (sekarang Kec. Mandor Capkala Kab. Bengkayang), sebagian lagi menetap di kampung Bangkam (Bangkapm).

Berita penyerangan dan penaklukan tentara Republik Lan Fong ini menyebar ke kampung-kampung. Sebagian penduduk di kampung Pudak, dipimpin Nek Sapi memutuskan mengungsi dan bertahun-tahun mengembara hingga akhirnya menetap di kampung Rukapm (sekarang distrik Lundu, Negara Bagian Sarawak-Malaysia). Tersisa sebuah keluarga saja di Kampung Pudak yang tidak mau mengungsi. Keluarga yang beranggotakan 5 orang itu adalah keluarga Pak Milakng (Pak Miang/Pang Milang).

Pak Miakng memutuskan untuk bertempur melawan tentara republik itu hingga tetes darah terakhir. Setelah adakan ritual Mato’ di Padagi, ia pulang ke rumah dan membunuhi semua anggota keluarganya. “Lebih baik saya yang membunuh kalian, karena saya yang hidupi, daripada kalian dibunuh tentara biadab itu”, ujarnya kepada istri dan anak-anaknya. Selesai membunuhi keluarganya, dengan perahu, Pak Miakng menyusul keluargaya yang sebelumnya sudah mengungsi ke hulu. Di perjalanan, Pak Miakng mendapati banyak rumah betang hancur dan dibakar, sementara dipagar-pagar rumah betang, kepala-kepala manusia yang dipancung di tikam dengan tombak dan menjadi pagar kepala. Menyaksikan itu, dendam Pak Miakng semakin hebat. Tiba di Bangkapm, ia mengumpulkan para lelaki muda untuk berperang. Lelaki muda dari berbagai kampung juga tiba ditempat itu, dan bergabung. Sudah ada 300 pasukan Pak Miakng. “Kita boleh mati, ini tanah air kita. Mereka boleh menang, tapi yakinlah kita tak mudah dikalahkan” kata Pak Miakng kepada anak buahnya.

Pasukan Pak Miakng mulai menyerang Sei Raya, dan menaklukan desa itu. Semua penduduk Cina terbunuh. Sebagian pasukan menyerang Pasar Bukit, dan membakar tempat itu.

Republik Lan Fong yang beribukota di Mandor (Kab.Landak sekarang) panik dengan penaklukan Pak Miakng dan pasukannya. Dan segera utusan negara itu menemui kongsi-kongsi di daerah Sakawakng (Singkawang), Buduk, Lara dan Monterado untuk menghadapi Pak Miakng. Kongsi Hesun di Monterado menyiapkan 1.000 tentara, dan Kongsi Thai Kong di Buduk-Sambas menyiapkan 1.000 tentara khusus.

Pak Miakng menerima tamu dari daerah Gajekng, Bilado, Gado, dll dan menyatakan bergabung untuk berperang dengan tentara kongsi itu. Mereka bertemu disuatu tempat, sepakat, dan menyatakan akan berbagi hadiah yang sama (harta rampasan perang/emas, termasuk tambang emas) bila memenangi perang ini. Tempat ini kemudian dikenal dengan nama Samalantan (Sama Lantatn), Kab.Bengkayang. Setelah pertemuan di Samalantan, pasukan Pak Miakng bertambah menjadi 1.000 orang.

Tahun 1786 masehi, peperangan besar terjadi di Monterado. Seribu pasukan Pak Miakng menghancurkan istana Kongsi Hesun, dan membunuh lebih dari 2.000 penambang emas dan tentara republik dikawasan itu. Batu peninggalan sebagai bukti kemenangan pasukan Pak Miakng ini dikenal dengan Batu Abo’, daerah Desa Nyempen Kec.Monterado sekarang ini. Di batu inilah, ribuan kepala penambang dan tentara republik di tanam sekaligus setelah digelar upacara Notokng. Sisa pasukan republik melarikan diri, dan bergabung dengan pasukan kongsi Thai kong di sambas.

Selesai peperangan, pasukannya diminta Pak Miakng untuk kembali ke kampung masing-masing, menjaga kampung dari serangan tentara republik. “Biarlah saya mati, saya sudah tidak ada keluarga” ujarnya kepada pasukannya. Pasukannya mengikuti perintah Pak Miakng, dan pasukan itu berangsur-angsur pulang.

Pak Miakng, memang berencana menyerang markas tentarà republik di Sakawakng sendirian saja. Tiba di Sakawakng, ia menyerang kampung itu dan membunuhi semua warga yang ada, dari lelaki-perempuan, hingga kakek – bayi. Lebih dari 600 orang dibunuhnya, siang hingga malam hari.

Keesokan harinya, 100 tentara republik tiba ditempat itu, dan menyaksikan pembantaian manusia oleh Pak Miakng. Ketika melihat Pak Miakng sedang memanggang daging manusia dipinggir pantai, tentara republik mengepungnya dan meyiraminya dengan tombak dan anak panah. Sebagia bahkan menembak dengan senjata api (lantak). Pak Miakng hanya tersenyum, tak satupun senjata itu melukainya. Tentara itu kemudian dibunuhi Pak Miakng.

Tatung

Tatung

Keesokan harinya, 200 tentara tiba ditempat itu, dan menyaksikan Pak Miakng sedang membakar mayat-mayat, dan hati serta jantung tentara untuk disantapnya. Tentara republik itu kembali menyerbu, dan menyirami tubuh Pak Miakng dengan minyak babi dengan maksud membakar Pak Miakng. Pak Miakng tak pernah terbakar, dan tentara itu habis dibunuhnya.

Keesokan harinya, puluhan para tetua kongsi sembahyang di pekong muara sungai Selakau, meminta kekuatan baru utk menghadapi Pak Miakng. Ratusan dukun (Tatung) dikirim untuk membunuh Pak Miakng, namun dengan dukungan roh gaibnya, semua Tatung itu dibunuhnya juga.

Ketua Kongsi Thai Kong frustasi dengan situasi itu. Ratusan tentara dan dukun semua dapat dibunuh Pak Miakng. Ia pun mengirim beberapa orang untuk menyelidiki kekuatan Pak Miakng. Orang yang dikirim itupun ketahuan Pak Miakng dan dibunuhnya.

Marahlah sang jendral itu, beserta 20 kapitennya, ia memimpin sendiri 2.000 pasukan untuk membunuh Pak Miakng. Ia khawatir, Pak Miakng akan menjadi Raja semua bangsa Dayak yang sudah ditaklukannya selama puluhan tahun silam. Ia khawatir, Pak Miakng akan membangkitkan perlawanan seluruh orang Dayak untuk melawan kongsi-kongsi.

Suatu malam, Pak Miakng setelah menyantap daging manusia yang dibakarnya tertidur. Ia didatangi roh istri dan anak-anaknya. Istrinya meminta Pak Miakng untuk menyerah saja dan minta dibunuh karena dendam darah sudah terbayarkan berlebihan. Pak Miakng terbangun, dan menangis. Ia menyesal dengan perbuatannya.

Tibalah tentara republik ditempat itu, dan mengepungnya. Pak Miakng tak melawan. Ia di ikat tentara itu, dan dilemparkan ke lautan. Namun ia tak mati. Pak Miakng diangkat ke daratan, dan ditombak dengan besi panas. Ia juga hanya tertawa, merasa geli saja. Pak Miakng diletakkan diatas batu besar, dan ditimpa dengan batu, tak mati juga.

Frustasilah tentara, dan para jendral republik. Pak Miakng melihat seorang tentara, dan sangat mirip dengan anak lelakinya yang sudah dibunuhnya. Ia menangis. Ia kemudian berteriak keras kepada seorang jendral disitu, dan menyampaikan kelemahan kesaktiannya. “Dengan kayu itulah saya akan mati” ujarnya sambil menangis. Jendral itu tersenyum, dan meminta tentaranya untuk mencari jenis kayu sebagaimana yang dimaksudkan Pak Miakng. Kayu itu menembus dada Pak Miakng, dan tewaslah ia.

Terbunuhnya Pak Miakng disambut suka cita tentara kongsi dan seluruh penambang emas. Semua tokoh Dayak diberbagai daerah diberitahu pihak kongsi, dan meminta hadir dalam upacara mereka menghormati Pak Miakng yang sudah terbunuh. Mayat Pak Miakng selama seharian kemudian diarak oleh tentara dengan berkeliling kota, sambil berteriak-teriak dan disaksikan ribuan orang. “Ini panglima kalian orang dayak, jangan coba memberontak lagi,” teriak pasukan yang mengarak mayat Pak Miakng itu. Hari itu sangat kelam, hujan rintik-rintik, dan ada pelangi di langit.

Tatung

Tatung

Untuk mengenang hari pembunuhan Pak Miakng, diadakan pesta perarakan keliling kota dengan menghadirkan dukun/tatung yang duduk diatas tandu, kebal senjata tajam, dan berpakaian panglima/jendral perang tentara kongsi. Pesta perarakan kemenangan itu dikenal dengan Cap Go Meh, dan kawasan tempat pembunuhannya itu sekarang diberi nama Kelurahan Pangmilang, Kec.Singkawang Barat, Kota Singkawang Kalbar.

(Informasi tambahan) Maka atas dasar permintaan Ne Miakng yang terbunuh pasukan Kongsi Lan Fong maka mereka harus membuat perayaan untuk memperingati tragedi itu. Karena tragedi itu bersifat heroik dan pertumpahan darah maka dilambangkanlah tatung-tatung itu menggunakan atribut kesatria China yang naik PANCAM (pedang maupun tombak) dan belakangan ini diundanglah dari pihak Dayak yang mau berpartisipasi menjadi tatung, hal inilah mengapa perayaan CAP GO MEH dengan segala atraksi naik PANCAM dan makan daging mentah serta minum darah hewan adalah wujud peringatan tragedi pertempuran NEK MIAKNG yang dikolaborasikan dengan peringatan 15 hari tahun baru china, karena ada sumpah yang dijadikan sebagai bala untuk masyarakat China di Singkawang jika tidak melakukan perayaan untuk memperingati terbunuhnya NEK MIAKNG.

(Narasumber: Singa Bagigit, kepala binua ohak kec.menjalin, seorang dari keturunan Pak Miakng)

Note: Cerita diatas adalah salah satu versi cerita tentang awal mula perayaan Cap Gomeh dengan tatung di Singkawang. Kisah diatas bukan untuk membangkitkan dendam masa lalu sebab juga makna cap gomeh hari ini sudah bergeser, tidak lagi merayakan pembunuhan Panglima Dayak, namun membuat kita mengetahui sejarah dibelakangnya bahwa ada pengorbanan seorang dayak yang tulus membela harkat dan martabat dan kemudian membuat keunikan atas akulturasi budaya Tionghoa dan Dayak di Singkawang saat ini.

Tabe

7/3/2016

Iklan